by

Biar Tidak Salah, Cek Fakta dan Mitos Asam Urat!

Asam urat, siapa yang tidak mengenal penyakit sejuta umat ini. Asam urat terjadi saat terjadi kelebihan asam urat dalam tubuh. Sebenarnya tubuh kita menghasilkan sebagian besar asam urat secara alami (sekitar dua pertiganya). Sisanya berasal dari makanan, seringkali dalam bentuk purin.

Purin adalah zat dalam makanan hewani dan nabati yang diubah tubuh menjadi asam urat. Purin memiliki banyak fungsi, antara lain bertindak sebagai sinyal metabolik, menyediakan energi, mengontrol pertumbuhan sel, merupakan bagian dari koenzim esensial, dan berkontribusi untuk transportasi gula.

Jika kelebihan asam urat ini tidak dapat dikeluarkan melalui ginjal, asam urat dapat menumpuk di aliran darah dan mengendap sebagai kristal berbentuk jarum di persendian. Kristal ini menyebabkan peradangan parah dan nyeri hebat akibat serangan asam urat.

Baca juga: Makan Bayam Bikin Asam Urat Kambuh?

Fakta dan Mitos Asam Urat

Meskipun merupakan penyakit yang sangat umum, namun masih banyak masyarakat yang salah paham dengan asam urat. Ada banyak mitos seputar asam urat yang menyesatkan. Agar tidak salah lagi, yuk Geng Sehat pelajari lagi fakta dan mitos asam urat berikut!

Fakta: Asam Urat Bukan Rematik

Pada sebagian besar kasus, kadar asam urat yang tinggi terjadi akibat ginjal tidak dapat membuang kelebihan asam urat secara efisien. Beberapa hal yang dapat menyebabkan perlambatan pembuangan asam urat di antaranya makanan, kelebihan berat badan, diabetes, mengonsumsi diuretik tertentu dan minum terlalu banyak alkohol. Penyebab lainnya ialah diet tinggi yang mengandung purin atau tubuh Kamu memproduksi terlalu banyak asam urat.

Banyak penelitian telah menunjukkan hubungan antara asam urat dengan obesitas, sindrom metabolik, hipertensi, dan penyakit arteri koroner. Dokter dan peneliti mengakui bahwa konsentrasi asam urat yang tinggi bisa menjadi salah satu indikator penting dari perburukan penyakit kronis lain.

Asam urat bukan menjadi bagian penyakit rematik atau rheumatoid arthritis (RA). RA adalah penyakit autoimun yang menyerang persendian. Jadi pengelolaan dan pengobatannya pun sangat berbeda ya!

Baca juga: Sering Salah Kira, Ini Bedanya Asam Urat dan Rematik

Fakta: Asam Urat Lebih Sering Terjadi pada Pria

Umumnya, asam urat lebih sering terjadi pada pria daripada wanita. Namun, wanita menjadi lebih rentan terkena asam urat setelah menopause karena peningkatan uricemia paralel dengan penurunan kadar estrogen.

Mitos: Hanya orang yang mengalami obesitas yang mengalami serangan asam urat.

Meskipun obesitas merupakan faktor risiko asam urat, orang dengan berat badan dan ukuran tubuh berapapun dapat memiliki penyakit ini. Asam urat sangat umum terjadi pada penderita diabetes, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, dan penyakit ginjal.

Mitos: Asam urat hanya menyerang jempol kaki.

Meskipun asam urat pertama kali menyerang sendi di pangkal jempol kaki, penyakit ini bisa terjadi pada sendi mana pun. Sendi lutut, pergelangan kaki, siku, pergelangan tangan, dan jari juga sering terkena

Mitos: Mengkonsumsi produk susu meningkatkan risiko asam urat.

Terdapat kesalahpahaman bahwa penderita asam urat harus menghindari produk olahan susu seperti susu dan yogurt. Namun, penelitian telah menunjukkan bahwa asupan produk susu rendah lemak memiliki efek penurun urat yang moderat dan dikaitkan dengan penurunan risiko penyakit.

Baca juga: Mau Tahu Obat Asam Urat Tradisional dan Pantangannya?

Mitos: Pola makan yang lebih baik dapat menyembuhkan asam urat.

Orang yang rentan terhadap asam urat harus menghindari makanan seperti daging dan makanan laut. Mereka juga harus menghindari konsumsi alkohol dalam jumlah besar. Namun, meski langkah-langkah ini dapat membantu menurunkan kadar asam urat dalam tubuh, modifikasi diet saja bukanlah obatnya. Pengobatan mungkin masih diperlukan untuk menurunkan kadar asam urat dan mengurangi risiko keparahan yang akut.

Mitos: Tidak ada obat yang efektif untuk asam urat.

Banyak obat yang mungkin efektif dalam mengobati dan mencegah serangan asam urat. Obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID), kolkisin, dan kortikosteroid dapat digunakan untuk mengobati serangan. Xanthine oxidase inhibitors (XOIs) dapat memblokir produksi asam urat, sedangkan uricosurics dapat meningkatkan kemampuan ginjal untuk mengeluarkan asam urat dari tubuh.

Baca juga: Apa Itu Pseudogout Si Asam Urat Palsu, Kenali Gejalanya!

Referensi:

MedlinePlus. Ucid acid – blood

Mayo Clinic. High ucid acid level

University of Rochester Medical Center. Ucid Acid (Blood)

NCBI. Ucid acid as one of the important factors in multifactorial disorders – facts and controversies

Comment

News Feed