by

Mums, Ingat 5 Hal Ini Ketika Bertengkar dengan Dads

Hidup berumah tangga dan membesarkan anak memang penuh tantangan. Setiap harinya akan ada saja hal-hal yang menimbulkan tekanan di antara Mums dan Dads, hingga tak jarang memicu pertengkaran. Meski pertengkaran menjadi hal yang wajar terjadi, jika dibiarkan berlarut-larut, tidak hanya akan memengaruhi pernikahan Mums dan Dads, melainkan juga perkembangan anak-anak.

Baca juga: Ini Dampak Jika Orang Tua Memaksakan Kehendak Anak

Faktor yang Memicu Pertengkaran

“Masalah pengasuhan anak yang berbeda menjadi salah satu hal umum yang sering kali menimbulkan pertengkaran orang tua,” jelas Lori Whatley, seorang terapis pernikahan dan keluarga yang berdomisili di Atlanta.

Perbedaan dan pertentangan gaya pengasuhan anak hampir sering terjadi dalam setiap pernikahan. Hal ini tentu saja mengingat orang tua pada dasarnya adalah 2 individu yang dibentuk oleh latar belakang, kepercayaan, dan figur orang tua masing-masing yang berbeda.

Masing-masing individu ini membawa ide-ide mereka sendiri dan menerapkannya dalam pengasuhan terkait disiplin hingga rutinitas, yang pada akhirnya timbul perbedaan yang dapat memicu terjadinya perselisihan.

Para ahli sepakat bahwa gaya pengasuhan yang berbeda sebenarnya baik-baik saja. Orang tua tetap harus menjadi diri mereka sendiri. Akan tetapi, masalah bisa saja timbul ketika tidak menghasilkan kesepakatan atas gaya pengasuhan yang ingin diterapkan.

Bagaimanapun juga, perbedaan pendapat di antara orang tua, terutama yang terkait dengan pengasuhan sebaiknya dibicarakan hingga menemukan kesepakatan bersama. “Sejak awal, orang tua perlu menemukan cara untuk setuju dan tidak setuju dalam proses pengasuhan anak,” kata Whatley.

Baca juga: Orang Tua, Hati-hati karena Anak Juga Bisa Stres

Beberapa Hal yang Perlu Diingat Orang Tua saat Sedang Bertengkar

Membesarkan anak-anak dengan gaya pengasuhan yang telah ditetapkan bersama tentu akan terasa lebih mudah. Meski begitu, tak bisa dipungkiri jika dalam keseharian, mungkin Mums dan Dads masih menemukan ‘kerikil-kerikil’ kecil yang mengganjal dan akhirnya memicu pertikaian. Apabila hal ini terjadi, ada beberapa hal yang perlu Mums dan Dads ingat.

1. Jangan bertengkar soal anak-anak di depan mereka

Mungkin Mums akan sulit untuk menahan emosi ketika Dads tiba-tiba memperbolehkan si Kecil bermain dengan gadgetnya. Dads mungkin juga akan sulit menahan amarah ketika melihat Mums membiarkan si Kecil memainkan mainan yang berisik.

Berselisih paham di depan anak-anak sebenarnya tidak menjadi masalah. Hal ini justru menunjukkan bahwa konflik adalah bagian penting dalam kehidupan. Namun, jika konflik yang timbul seputar anak-anak, maka sebisa mungkin hindari bertengkar atau membicarakannya di depan mereka.

“Penelitian mengungkapkan bahwa anak yang sering melihat perselisihan di antara orang tuanya lebih mungkin mengembangkan sikap depresi, kegelisahan, kebiasaan melanggar aturan, dan agresif,” ujar Whatley. Berdebat di depan anak bisa sangat merusak kondisi psikologis mereka. Ini dapat menciptakan perasaan tidak nyaman dan tidak aman pada anak.

2. Selalu ingat bahwa orang tua harus 1 suara

Konflik merupakan hal yang sangat wajar berkembang dalam kehidupan rumah tangga. Namun ketika berhadapan dengan anak, usahakan agar orang tua kompak 1 suara. Sekalipun salah satu dari Mums atau Dads tidak menyukai hal yang diungkapkan, usahakan untuk tidak memunculkan interupsi. Orang tua dapat mendiskusikannya ketika tidak sedang bersama anak. Hal ini untuk menghindarkan anak mencari celah keuntungan ataupun persetujuan dari salah satu pihak orang tua.

3. Jangan menyalahkan pandangan salah satu pihak

Hindari menyalahkan perilaku Dads hanya karena ia memiliki alasan atau pandangan yang berbeda dengan Mums, begitu pula sebaliknya. Alih-alih saling menyalahkan dan akhirnya bertengkar, lebih baik jadikan momen ini untuk saling mengevaluasi dan menentukan yang terbaik untuk anak.

4. Jangan memojokkan salah satu pihak

Pilihan kata juga penting saat menghadapi perselisihan. Ketika timbul konflik, Mums dan Dads sebaiknya menghindari pernyataan yang menuduh atau memojokkan, seperti, “Kamu tidak pernah mendukung saya!” atau “Kamu membiarkan mereka melakukannya!”

Alih-alih mengatakan hal-hal tersebut, cobalah untuk menjelaskan apa yang sebenarnya Mums atau Dads inginkan. Misalnya, “Saya merasa kesulitan dan tidak ada bantuan ketika menidurkan anak-anak.”

Menurut Whatley, mengungkapkan pernyataan tentang apa yang dibutuhkan akan jauh lebih baik dibanding menyalahkan apa yang dilakukan ataupun tidak dilakukan pasangan. “Ini akan membantu mereka lebih mengerti dan meresponsnya dengan baik,” kata Whatley.

5. Jangan menciptakan citra yang buruk dari pasangan ketika bersama anak

Ingat permainan Good Cops and Bad Cops, yaitu salah satu menjadi sosok yang selalu mendukung, sedangkan yang lainnya bertentangan? Hindari memainkan peran ini ketika berhadapan dengan anak.

Mungkin ada kalanya perasaan tersebut muncul karena Mums atau Dads ingin merasa lebih baik dari pasangan. Namun, ini sama saja memperlihatkan perselisihan di antara Mums dan Dads di hadapan anak. Selain itu, ini akan membuat anak menyadari bahwa orang tuanya tidak sepaham dan ia akan mencari celah mana pihak yang lebih menguntungkan baginya.

Ketika anak mendapat penolakan dari Mums atau Dads, mungkin ia akan merasa kecewa. Tak apa untuk memahami perasaan anak dan berempati, tetapi tunjukkan pula bahwa apa yang dikatakan pasangan kepada anak adalah pilihan yang baik pula untuknya.

Konflik dan perselisihan tentu menjadi hal yang tidak bisa dihindarkan selama berumah tangga, termasuk ketika mengasuh anak-anak. Namun, sebisa mungkin hindari bertengkar di hadapan anak-anak karena ini tidak hanya akan memengaruhi kehidupan dalam keluarga, melainkan juga kondisi psikologis anak. (AS)

Baca juga: Membangun Kedekatan antara Orang Tua dan Anak

Referensi

Fatherly. “5 Rules Parents Need to Remember When Fighting in Front of the Kids”.

Comment

Terbaru