Ilustrasi DBD (Foto: Ist)
Ilustrasi DBD (Foto: Ist)

Berdasarkan data sudah 133 pasien DBD di Sekadau

KalbarOnline, Sekadau – Demam Berdarah Dengue (DBD) mulai menghantui warga Sekadau. Penyakit tersebut membuat puluhan orang dirawat bahkan sudah menelan korban jiwa.

Salah satu korban meninggal adalah Denish Bari Prasetyo, 8 tahun. Denish yang merupakan Putra petinggi/perwira Polres Sekadau yakni Ipda Koderi, Kepala Seksi Propam Polres Sekadau itu menghembuskan nafas terkahirnya di RSUD dr Soedarso Pontianak, Sabtu dinihari (2/12).

“Hasil pemeriksaan medis, positif DBD,” ujar Koderi disela pemakaman putranya di pemakaman Muslim kawasan Kios Jonhditor Sekadau, Sabtu siang (2/12).

Koderi yang merupakan warga KM 2 Jalan Sekadau-Sanggau (Merdeka Barat) ini menjelaskan bahwa anaknya mulai mengalami demam hari Minggu pekan lalu. Keesokan harinya, tepatnya hari Senin dirinya langsung membawa pelajar kelas 3 SDN Nomor 1 Sungai Ringin itu ke RSUD Sekadau untuk perawatan.

“Anak saya langsung dirawat,” ceritanya.

Setelah dilakukan pengecekan laboratorium, ternyata sang anak positif menderita DBD. Dan hari Kamis, kondisi anaknya dikabarkan drop.

“Langsung dirawat di ICU. Kemudian tadi malam (Jumat malam, red), petugas di rumah sakit minta kita untuk merujuk ke Pontianak atau ke Sanggau karena virus sudah menyerang otak anak saya,” ungkapnya.

Atas saran pihak medis di RSUD Sekadau, mereka pun langsung merujuk sang anak ke RSUD dr Soedarso di Pontianak. Namun belum lama dirawat, Tuhan berkehendak lain dan Denish pun akhirnya meninggal.

Denish langsung dimakamkan sekitar pukul 14.00 WIB. Sejumlah perwira Polres Sekadau terlihat hadir di pemakaman.

Ibu korban, Erni tampak terpukul atas kejadian tersebut. Kepada sejumlah warga, Erni sempat bercerita saat anaknya sakit.

“Waktu awal masuk rumah sakit, anak saya tak mau diinfus. Dia sempat lari saat mau dipasangi infus,” kenangnya.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Kesehatan, Keluarga Berencana dan Pengendalian Penduduk, Stefanus Emanuel SKM mengatakan bahwa dirinya sudah menginstruksikan bidang terkait untuk melakukan fogging.

“Tadi pagi sudah perintahkan Bidang yang terkait untuk lakukan fogging,” ujar Emanuel.

Ia menegaskan, fogging akan dilakukan dalam waktu dekat.

“Besok atau lusa, tim kita saya minta langsung turun,” tukasnya.

Fogging, kata Emanuel, bukan satu-satunya cara untuk memerangi DBD. Sebab, fogging hanya efektif untuk membunuh nyamuk dewasa. Sedangkan untuk jentik nyamuk, harus dilakukan abatenisasi dan Pemantauan Sanitasi Lingkungan (PSL) yang baik.

“Jadi di sekitar rumah harus bersih. Kita harapkan kepada warga untuk senantiasa menjaga kebersihan lingkungannya. Jangan biarkan ada wadah yang bisa menampung air sehingga nyamuk berkembang biak,” sarannya.

Terkait korban yang meninggal tersebut, Emanuel mengaku sudah mendapatkan laporan dari bawahannya. Menurut Emanuel, pasien awalnya masuk hari Senin. Tapi waktu itu, pasien tidak mau diinfus, sehingga pihak keluarga membawanya pulang.

“Tapi hari Kamis dibawa lagi dan langsung dimasukkan ICU. Cuma karena kondisinya cukup parah, langsung diminta untuk dirujuk,” tandas Emanuel.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan, Kelurga Berencana dan Pengendalian Penduduk Sekadau, hingga kemarin tercatat 133 pasien DBD di Sekadau.

“Dari jumlah itu, satu pasien meninggal atas nama Denish tadi,” ujar Emanuel.

Jumlah pasien DBD tahun ini meningkat dibandingkan tahun lalu yang tercatat 99 orang. Dari 133 orang tersebut, pasien terbanyak berada di Kecamatan Belitang. Sementara di Kecamatan Sekadau Hilir, terbanyak berasal dari Desa Sungai Ringin. (Mus)

Print Friendly, PDF & Email

LEAVE A REPLY