Buka Festival Meriam Karbit, Sutarmidji : Kita Akan Upayakan Masuk Kalender Wisata

Gubernur Kalbar, Sutarmidji saat menyulut meriam karbit sebagai tanda dibukanya festival meriam karbit 2019
Gubernur Kalbar, Sutarmidji saat menyulut meriam karbit sebagai tanda dibukanya festival meriam karbit 2019 (Foto: Fai)

KalbarOnline, Pontianak – Dentuman 212 meriam karbit saling bersahutan menandai dibukanya Festival Meriam Karbit dalam rangka hari raya Idul Fitri 1440 Hijriah, Selasa (4/6/2019) malam.

Pembukaan Festival Meriam Karbit tahun 2019 ini dipusatkan di pinggir Sungai Kapuas Gang Hj. Mailamah, Kecamatan Pontianak Tenggara. Festival yang rutin digelar setiap tahunnya ini dihadiri jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda). Sebagai tanda dimulainya festival, jajaran pejabat Forkopimda dan para istri melakukan penyulutan meriam karbit.

Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji mengatakan bahwa Pemerintah Provinsi Kalbar sangat mendukung terselenggaranya Festival Meriam Karbit ini sebagai bentuk melestarikan tradisi yang tak bisa lepas dari sejarah berdirinya Kota Pontianak ini.

Sebagai bentuk dukungannya itu, Midji bahkan memboyong hampir seluruh Forkopimda Provinsi Kalbar untuk hadir dalam pembukaan festival tersebut.

“Selama festival meriam karbit terselenggara, forkopimda yang paling banyak hadir secara langsung itu hari ini. Ini bentuk perhatian serius kita. Hari ini hampir semuanya lengkap, hadir beserta masing-masing istri,” ujarnya mengawali sambutan pembukanya.

Orang nomor wahid di Bumi Tanjungpura juga menyatakan, pihaknya akan mengupayakan agar Festival Meriam Karbit masuk dalam Kalender Even Pariwisata Provinsi Kalbar.

“Kalau terus-menerus kita gelar secara rutin, mudah-mudahan ini menjadi salah satu ikon Kalbar secara nasional, bahkan internasional,” katanya.

Meski demikian, Midji meminta agar tradisi meriam karbit ini tak hanya digelar di momen-momen tertentu seperti Idul Fitri dan Hari Jadi Kota Pontianak, melainkan juga digelar di momen-momen lainnya agar menjadi objek wisata.

“Jadi, tidak hanya digelar di momen-momen tertentu seperti Idul Fitri dan ulang tahun Pontianak saja, tapi juga digelar di momen-momen lain supaya menjadi objek wisata. Ketika wisatawan datang, mereka bisa menyulut meriam secara berbayar sehingga menjadi nilai jual. Nanti akan kita buatkan tempat secara permanen,” tukasnya.

Selain itu, dirinya bahkan berencana menggelontorkan anggaran melalui LPTQ (Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran) untuk pegiat meriam karbit guna menyemarakkan pembukaan dan penutupan Seleksi Tilawatil Quran (STQ) XXV Tingkat Nasional yang dipusatkan di Kota Pontianak.

Supaya lebih menarik, Midji meminta agar festival meriam karbit ini didokumentasikan dalam bentuk video promosi atau video dokumenter untuk disosialisasikan dan dipromosikan melalui media sosial maupun youtube.

“Narasinya harus dikemas secara menarik, visualnya juga harus bagus, lengkap dengan suara dentuman meriam beserta narasi sejarahnya sehingga orang tertarik berkunjung ke Pontianak,” tandasnya.

Sementara Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono mengatakan, festival tahun ini dihadiri seluruh pejabat yang tergabung dalam Forkopimda maupun masyarakat umum lainnya. Untuk itu, ke depan pihaknya akan mengemas festival meriam karbit lebih meriah lagi dengan meningkatkan anggarannya. Selain itu, pihaknya juga akan melibatkan masyarakat sebanyak-banyaknya dan mengundang Kementerian Pariwisata.

“Kita akan buatkan video dokumenter untuk promosi permainan meriam karbit sebagai daya tarik wisata di Pontianak,” ujarnya.

Meriam karbit juga akan ditampilkan pada saat pembukaan Seleksi Tilawatil Quran (STQ) XXV Tingkat Nasional yang dipusatkan di Pontianak.

“Pembukaan STQ nanti akan ditandai dengan dentuman meriam karbit sebanyak 25 kali,” ungkapnya.

Sementara Ketua Forum Komunikasi Meriam Karbit Seni dan Budaya Pontianak, Fajriudin Anshari menjelaskan, Festival Meriam Karbit tahun ini dimeriahkan sebanyak 38 kelompok meriam, dengan jumlah keseluruhan 212 meriam karbit.

Dari 38 kelompok, lanjut dia, yang berhak ikut festival hanya 29 kelompok, sedangkan 9 kelompok lainnya tidak ikut serta dalam lomba lantaran tidak memenuhi kriteria lantaran menggunakan meriam berbahan dasar besi.

“Meriam besi tidak boleh ikut dalam lomba atau festival, mereka hanya meramaikan saja,” ucapnya.

Fajriudin menerangkan, 9 kelompok yang tidak ikut serta dalam festival, jumlah keseluruhan meriam yang dimiliki sebanyak 48 meriam karbit. Sedangkan 29 kelompok peserta festival, jumlah meriam keseluruhannya 164 meriam karbit.

“Jadi ada dua kriteria, yakni meriam yang diikutsertakan adalah meriam kayu dan tiap kelompok yang ikut serta jumlahnya minimal lima buah meriam,” pungkasnya. (Fai)

Tinggalkan Komentar