Wali Kota Pontianak, Sutarmidji dan Potret SDN 01 Pontianak (Foto: MD Group)
Wali Kota Pontianak, Sutarmidji dan Potret SDN 01 Pontianak (Foto: MD Group)

Siswa di SDN 01 Paling Sedikit Dari Sejumlah Sekolah Yang Dipertimbangkan Untuk Dijadikan Gedung Parkir

KalbarOnline, Pontianak – Usai mendatangi DPRD Kota Pontianak, puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), langsung mendatangi Wali Kota Pontianak, Sutarmidji, Jum’at (5/5/2017).

Kedatangan para aktivis PMII ini diterima langsung oleh Sutarmidji, dan langsung menggelar dialog. Bahkan dialog berlangsung cukup lama.

“Kalau tadak hari Jum’at dan Sholat Jum’at sampai jam 3 pun akan berdialog bersama anggota PMII,” ujarnya.

Para mahasiswa tersebut mempertanyakan pembangunan gedung parkir yang mengalihfungsikan lahan SDN 01 Pontianak dan lahan parkir Hotel Neo.

Menanggapi hal tersebut, menurutnya, dirinya telah berulang kali menjelaskan pada publik, bahwa pembangunan gedung parkir itu tidak ada kaitannya dengan Hotel Neo.

Bahkan pembangunan gedung parkir yang mengalihfungsikan lahan SDN 01 Pontianak, sebagai bagian dari komitmen Pemkot Pontianak, terhadap program kota baru yang diajukan oleh puluhan kota di Indonesia tapi hanya tiga yang disetujui oleh Pusat, satu diantaranya adalah Kota Pontianak dan anggaran untuk konsep kota baru Pemkot dapat anggaran Rp2,2 – 4,6 triliun.

Dirinya juga mempersilahkan masyarakat apabila mempunyai lahan disekitaran Gajahmada, silahkan tunjukan pada Pemkot. Agar pembangunan di lahan SDN 01 dibatalkan.

“Saya tidak keberatan misalnya ada masyarakat yang mengatakan mengapa tidak dibangun di sini saja dan ada lahannya, tidak apa-apa kita bangun di situ. Saya mau buktikan Hotel Neo tidak ada kaitannya dengan itu,” tegasnya.

Selain itu yang masuk dalam pembangunan konsep kota baru adalah Jembatan Landak II sehingga pembebasan 73 ruko (untuk jalan) merupakan urusan Pemkot.

Nantinya, juga akan ada fly over dari Jembatan Kapuas I sampai ke Jalan Gajah Mada, karena jembatan Kapuas Satu juga akan digandeng. Di Gajah Mada, Pemkot menawarkan konsep coffe street serupa Orchard Road di Singapura. Kawasan itu akan jadi pedestrian dan tahun dapat anggaran lagi Rp5 miliar serta akan diselesaikan tahun depan.

Inilah alasan mengapa Kota Pontianak butuh gedung parkir. Ada beberapa titik pertimbangan, SD di belakang Hotel Harris, pagar alam, SDN 01, SDN 20.

“Dari semuanya, siswa paling sedikit ada di SDN 01. Sementara di Sekolah Terpadu S Parman, ada lima ruang kosong yang bisa dimanfaatkan untuk menampung siswa SDN 01. Guru pun akan pindah ke sana agar sekolah itu maksimal. Jika lahan lain ada, masyarakat boleh kasi tahu Pemkot, saya tidak akan bangun di SDN 01 sekarang. Saya bangun di tempat yang kira-kira masyarakat menganggap itulah tempat yang paling bagus. Tunjukkan lahannya jika ada,” pintanya.

Selain dipindah ke Sekolah Terpadu, para siswa kelas 1-5 SDN 01 diberi kompensasi bebas memilih SMP negeri yang diinginkan ketika lulus. Wali Kota dua periode ini menjamin, semua siswa akan tertampung dan tidak aka nada yang terlantar.

“Pemikiran kita setelah gedung parkir ini jadi konsumennya itulah Hotel Star, Harris, Neo dan hotel sekitar dan warkop yang ada. Karena itu bakal 100 persen milik Pemerintah Kota. Seluruh dana pembangunannya dari APBD,” jelasnya.

Dirinya juga menjelaskan bahwa gedung parkir enam lantai tersebut dapat menampung 360 mobil dan lebih dari 1000 kendaraan roda dua. Tetapi tidak mungkin ada 360 mobil jika tidak mengandalkan hotel sekitar sebagai pasar.

“Jika tarif per jam Rp4 ribu dan bisa digunakan 12 jam per hari, perkiraan PAD yang masuk Rp7 Miliar per tahun dan sekitar 8 tahun telah kembali modal,” pungkasnya. (Fai)

Print Friendly, PDF & Email

LEAVE A REPLY