Kabid Diskumdag: Asosiasi Tidak Berjalan Dengan Baik

KalbarOnline, Pontianak – Syf Welly mantan Lurah Dalam Bugis yang baru saja menjabat sebagai Kepala Bidang (Kabid) Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Perdagangan beberapa bulan sudah ditinggalkan dengan sistem yang amburadul.

Dirinya sudah harus membenahi sistem pasar Pontianak yang selama ini semrawut.

Sedikit demi sedikit ia terus membenahi pasar yang ada, bahkan dibawah kendali orang yang menyalahi aturan di Pasar Tengah ditertibkannya dengan bantuan Satpol PP dan diajukan di pengadilan.

Adanya oknum yang menyalahgunakan fungsi kios, dikatakan Syf Welly tidak bisa ditolerir karena tidak sesuai dengan peruntukan yang ada.

“Kita sudah ambil langkah gembok dari luar tetap masih saja dijebol. Sebenarnya sebelum penggerebekan sudah lapor di Kadis tapi aksinya lama setelah dua minggu kedepan. Saya sendiri ijin di Kadis meminta bantuan Satpol PP untuk turun merajia. Jadi memang sudah ada kios yang dijadikan tempat karoke dan menjual minuman keras. Dari hasil rajia malam itu, memang ditemukan ada sepasang orang di kios dan diduga melakukan mesum dan tinggal disana,” ujarnya seperti dilansir dari Pontianak.tribunnews.com.

Setelah malamnya digrebek oleh tim siangnya langsung di sidang.

Welly mengatakan yang kedapatan indikasi mesum dikenakan tipiring Rp5 juta dan yang membuka karaoke serta menjual minuman alkohol didenda Rp10 juta.

Adanya penyalahgunaan kios dilantai dua Pasar Tengah, dikatakannya karena asosiasi tidak berjalan dengan baik.

“Kini kelemahan ada di pengawasan, kita sudah ada asosiasi tapi tidak berjalan. Asosiasi ini tugasnya empat item, kebersihan, keamanan, listrik, dan ledeng. Bahkan saya sudah bilang sama ketua asosiasinya Dicky, kalau mereka bekerja dengan baik maka tidak akan terjadi orang gunakan kios untuk tempat mesum dan tinggal, serta menjadikannya tempat karoke serta berjualan Minol,” tukasnya.

Dirinya memberikan bukti kalau anggota asosiasi berjalan baik dan menjalankan tugas sepenuhnya maka hasilnya akan maksimal, buktinya di blok sebelah kiri, petugasnya benar-benar kerja maka itu akan bagus dan steril, karena siapapun yang naik diatas saat malam dia bertanya apa kepentingannya, kalau blok kanan ditegaskannya anggota asosiasi memang tidak berfungsi petugasnya sehingga terjadilah hal semacam itu.

Bahkan sampah juga masih menumpuk dan tidak ada dibersihkan, padahal sudah disubsidi dinas diberi tosa, tapi asosiasi beralasan rusak.

“Masa harus dinas lagi yang perbaiki, harusnya rusak asosiasi harus cepat tanggap untuk perbaiki. Terus kalau asosiasi tidak berfungsi maksimal ngapain buat asosiasi lebih bagus kita langsung yang ngurus, lebih enak menanganinya,” tukasnya.

Bahkan saat ini, Welly mengatakan, pedagang risau dengan asosiasi, selama terus membayar tagihan tapi banyak permasalahan yang terjadi, kebersihan tidak terjaga, air tidak jalan, dan sebagainya.

“Jadi gini asosiasi ini kita ikat dengan SK kepala dinas hak dan kewajiban tidak detail dan sanksinya tidak diatur, berapa lama waktu harus evaluasi dan jika tidak mampu maka apa yang dilakukan, itu tidak ada di SK,” imbuhnya.

Sejauh ini pihaknya masih menertibkan pedagang agar menempati lantai dua pasar tersebut, saat ini diakui Welly memang lantai dua banyak pedagangnya turun jadi kaki lima alasan tidak laku.

“Kita terus mencari cara agar mereka ini naik keatas supaya penuh dan pembeli ramai. Persoalannnya memang pengaturan dari awal sudah salah. Misalnya menjual makanan yang dulu kebawah sekarang diatas dan orang naik keatas sudah malas,” paparnya.

Ia juga mengakui hal ini masih baru dan tidak mengikuti dari awal, sehingga diakuinya memang agak repot.

“Kita akan bikin sok terapi nanti pada mereka pedagang yang bandel ini, seperti yang kemaren kios dilantai dua dijadikan tempat mesum dan yang menempati bukan yang punya SPTU serta dapat kunci juga tidak tahu darimana kita tipiring dengan semaksimal mungkin atau pencabutan SPTU,” tandasnya. (Fai)

Print Friendly, PDF & Email

LEAVE A REPLY