by

Refleksi Prahara Penobatan “Mak Repek”: Jatuhnya Marwah Kesultanan Pontianak di Tangan Sultan Syarif Mahmud Melvin Alkadrie?

Oleh : Drs. Syarif Usmulyadi Alkadrie, M.Si.

(pemerhati masalah sosial Kalimantan Barat)

Dahulu, di genarasi awal Kesultanan Pontianak pernah mengalami masa kejayaannya terbukti pernah menjadi sentral perdagangan di bagain barat pulau Kalimantan. Puncaknya pada masa pemerintahan Sultan Syarif Muhammad bin Syarif Yusuf Alkadrie (Sultan ke-VI) ditandai dengan tugu peringatan 50  tahun pemerintahannya, yang hingga kini berdiri kokoh di sebelah kanan pintu gerbang masuk Istana Kadariah Pontianak.

Sejarah mencatat “peristiwa mandor” yang telah menjadi titik nadir “jatuh”-nya Kesultanan Pontianak akibat pembantaian oleh tentara Dai Nippon Jepang pada 28 Juni 1944, yang jumlahnya tidak kurang dari 30 orang yang bersal dari keluarga kerabat Kesultanan. Sultan Syarif Thaha bin Syarif Usman Alkadrie sempat dinobatkan sebagai Sultan Pontianak tersingkat yakni 1 tahun 4 bulan (24 Juni 1944 – 29 Oktober 1945) yang kemudian di gantikan oleh Sultan Syarif Hamid II pada 29 Oktober 1945.

Pada masa Sultan Syarif Hamid II inilah, Marwah Kesultanan Pontianak menemukan momentum balik kejayaan mencuat ke pentas nasional dan dunia, menjelma menjadi tokoh sentral di tahun-tahun awal Kemerdekaan Indonesia. Dikenal sebagai pencipta Lambang Negara Indonesia dan tercatat sebagai Perwira Tertinggi tentara KNIL pada saat itu dengan Pangkat Kolonel, Sultan Syarif Hamid II menjadi tokoh utama yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan memilih bentuk Negara Serikat untuk Negara Indonesia bersama dengan Kerajaan/Kesultanan di Nusantara yang bersebarangan dengan Ir. Sukarno dkk yang lebih memilih bentuk Negara Kesatuan.

Tak lama setelah itu marwah kesultanan Potianak kembali jatuh seiring Sultan Syarif Hamid II dituduh menjadi dalang pemberontakan yang dipimpin Westerling pada 22 Januari 1950, yang mengakibatkan Sultan Syarif Hamid II di penjara selama 10 tahun.

Dalam masa Interregnum (masa peralihan pemerintahan) selama 26 tahun inilah Kesultanan Pontianak bagai bak pepatah “bagai kerakap tumbuh di batu, hidup segan matipun tak mau”. Baru pada 15 januari 2004 keluarga besar dan Ahli Waris Kesultanan Pontianak akhirnya sepakat menobatkan Syarif Abubakar Alkadrie bin Syarif Mahmud bin Sultan Syarif Muhammad Alkadrie sebagai  Sultan Pontianak ke-VIII yang memerintah Kesultanan Pontianak dari tahun 2004 hingga ia mangkat pada tahun 2017 yang kemudian digantikan anaknya yakni Sultan Syarif Mahmud Melvin Alkadrie pada tanggal 15 juli 2017.

Pada masa pemerintahan Sultan Syarif Abubakar Alkadrie inilah secara perlahan, marwah Kesultanan Pontianak mencoba menemukan bentuknya kembali di tengah konflik internal Kesultanan Pontianak pada waktu itu yang berasal dari kalangan ahli waris. Seiring waktu berjalan konflik internal di Kesultanan Pontianak dapat diredam oleh Sultan Syarif Abubakar Alkadrie walaupun menyisakan ketidakpuasan di kalangan ahli waris, terbukti adanya usaha “kudeta” yang gagal, dimotori oleh Syarif Toto bin Syarif Thaha Alkadrie terhadap Sultan Syarif Abubakar bin Syarif Mahmud Alkadrie.

Prahara Penobatan “mak repek”

Rentetan prahara panjang yang menimpa Kesultanan Pontianak di masa lalu terus berlanjut di masa Sultan Syarif Abubakar bin Syarif Mahmud Alkadrie seperti diwariskan juga pada anaknya yakni Sultan Syarif Mahmud Melvin Alkadrie. Pada beberapa hari ini kita digoncang oleh berita yang menjadi tranding topik dan direkomendasikan hampir di setiap platform media sosial dan media pemberitaan, perihal Prahara yang terjadi di Kensultanan Pontianak, ini dipicu oleh penobatkan istri kedua sultan bernama Tanaya Ahmad yang dikenal juga dengan nama “Mak Repek” sebagai Maha Ratu Suri Mahkota Agung Kesultanan Pontianak.  Dimana kehadiran istri pertama Sultan Syarif Mahmud Melvin Alkadrie bernama Nina Widiastuti yang bergelar Maha Ratu Mas Mahkota Kusuma Sari merasa keberatan dengan pelatikan tersebut dikarenakan Tanaya Ahmad adalah wanita yang dinikahi Sultan secara siri (yang secara adat kebiasaan di Kesultanan Pontianak memang tidak berhak atas Gelar tersebut sebelum menjadi istri melalui pernikahan resmi adat Kesultanan Pontainak).

Sebelumnya Sultan Syarif Mahmud Melvin Alkadrie telah mendahului gugatan cerai terhadap istri pertamanya bernama Nina Widiastuti yang bergelar Maha Ratu Mas Mahkota Sati namun masih menunggu putusan pengadilan agama. Disinyalir kehadiran Tanaya Ahmad dalam rumah tangga Sultan inilah yang menyebakan keretakan hubungannya dengan Sultan Syarif Mahmud Melvin Alkadrie hingga berada diambang perceraian, yang ditegaskan oleh Maha Ratu Mas Mahkota Sari dalam acara penobatan tersebut dengan menyebut Tanaya Ahmad sebagai pelakor.

Rangkaian kejadian ini menciptakan semacam prahara baru dalam bentuk yang lebih memilukan sekaligus memalukan bagi keluarga besar Kesultanan Pontianak karena belum pernah terjadi dalam sejarah Kesultanan Pontianak, di mana Marwah Kesultanan dipertaruhkan hanya karena wanita yang disinyalir asal usulnya tidak jelas.

Momentum Kesultanan Pontianak

Jatuh bangun sejarah sebuah Kesultanan merupakan keniscayaan zaman, tidak terkecuali Kesultanan Pontianak. Sejarah mencatat kejayaan Kesultanan Pontianak dikarenakan Sultannya yang berjiwa besar dan berwawasan. Sedangkan penyebab dan pemicu kejatuhan bisa beragam, mulai dari suksesi sultan yang tidak smooth (halus) hingga aneksasi kekuasaan oleh pihak eksternal kesultanan. Tapi yang penting untuk dicatat bahwa marwah kesultanan harus tetap dijaga dan dijunjung tinggi oleh seluruh keluarga besar Kesultanan termasuk oleh Sultan itu sendiri.

Menyikapi kejadian akhir-akhir ini yang melibatkan Kesultanan Pontianak, ada baiknya para Pangeran dan Ratu baik yang berasal dari kalangan ahli waris maupun di luar waris, melakukan semacam pertemuan tertutup untuk mencarikan jalan keluar yang tuntas bagi kelangsungan marwah Kesultanan Pontianak. Jangan sampai sejarah mencatat bahwa Kesultanan Pontianak jatuh dan musnah diakibatkan oleh istri siri sultan yang tidak jelas asal usulnya.

Sultan Syarif Mahmud Melvin Alkadrie sudah seharusnya melakukan semacam kontempalsi serius guna instopeksi diri atas apa yang telah terjadi dan menimpa dirinya yang tentunya sekaligus  mencoreng marwah nama besar Kesultanan Pontainak. Semoga Allah memberikan pentunjuk dan hikmah bagi kita semua. Aamiin.

Pontianak 1 November 2021 

Drs. Syarif Usmulyadi Alkadrie, M.Si.

Comment

Terbaru