by

Roket Hamas untuk ‘Para Pengkhianat’

KalbarOnline.com – Dua roket meluncur dari Jalur Gaza, Palestina, Selasa petang (15/9). Satu berhasil ditepis sistem antimisil Israel. Satu lainnya sukses mendarat di Kota Ashdod.

Dua orang terluka akibat serangan roket dari wilayah yang dikuasai Hamas itu. Roket tersebut ditembakkan bersamaan waktunya dengan penandatanganan kesepakatan normalisasi hubungan antara Uni Emirat Arab (UEA) serta Bahrain dengan Israel.Seremonialnya digelar di Gedung Putih, Washington, Amerika Serikat.

’’Setelah beberapa dekade terjadi perpecahan dan konflik, kini kami menandai awal wilayah Timur Tengah yang baru,’’ ujar Presiden AS Donald Trump yang menyaksikan momen penandatanganan tersebut seperti dikutip BBC.

Trump menyatakan bahwa sembilan negara lain juga akan melakukan penandatanganan serupa dengan Israel. Termasuk salah satunya Arab Saudi. Hingga detik ini, Saudi belum memberikan komentar apa pun.

Baca juga: Israel Serang Gaza, Balas Dendam ke Hamas

PM Israel Benjamin Netanyahu hadir secara langsung di Gedung Putih. Sedangkan Bahrain diwakili Menlu Abdullatif Al Zayani dan UEA oleh Menlu Abdullah bin Zayed Al Nahyan.

Palestina geram. Bagi mereka, langkah UEA dan Bahrain itu adalah pengkhianatan terhadap Inisiatif Perdamaian Arab atau Arab Peace Initiative yang ditandatangani oleh negara-negara anggota Liga Arab pada 2002 lalu.

Salah satu isi di dalamnya adalah menuntut berdirinya negara Palestina yang merdeka dengan Jerusalem Timur sebagai ibu kotanya. Selain itu, juga penarikan kekuasaan Israel dari wilayah yang didudukinya di tanah Arab sejak Juni 1967, termasuk di Tepi Barat. Normalisasi hubungan dengan Israel tidak akan dilakukan sebelum terjadi perdamaian di Timur Tengah.

’’Perdamaian, keamanan, dan stabilitas tidak akan terjadi di wilayah ini (Timur Tengah, Red) sampai Israel mengakhiri pendudukannya,’’ tegas Presiden Palestina Mahmoud Abbas seperti dikutip Agence France-Presse.

PM Israel Benjamin Netanyahu, Presiden AS Donald Trump, Menlu Bahrain Abdullatif Al Zayani, dan Menlu UEA Abdullah bin Zayed Al Nahyan di Gedung Putih. (SAUL LOEB/AFP)

Israel tentu saja tidak tinggal diam ketika roket Hamas mendarat di wilayahnya. Mereka menghujani Jalur Gaza dengan bom dan tembakan misil sepanjang malam. Beit Lahiya, Deir al-Balah, dan Khan Younis jadi target. Hingga kemarin pagi (16/9), total ada 15 roket yang ditembakkan Hamas. Sembilan di antaranya berhasil dihalau.

Netanyahu menuding Hamas mencoba menghentikan kesepakatan yang tengah mereka lakukan. Itu adalah kesepakatan damai pertama dengan negara Arab sejak 1994. Yaitu, ketika Israel mengadakan perjanjian damai untuk menghentikan perang dengan Jordania.

Baca juga: Resolusi untuk Kecam Hamas Gagal di Majelis Umum PBB

Hubungan diplomatik Israel-Jordania terjadi sebelum adanya Inisiatif Perdamaian Arab. Israel juga memiliki hubungan diplomatik dengan Mesir, negara Arab tetangganya. Dengan kata lain, sejak berdiri pada 1948, hanya empat negara Arab yang mengakui Israel. Yaitu, Mesir, Jordania, UEA, dan Bahrain.

Berdasar website Kementerian Luar Negeri Israel, per Desember 2019, dari 193 negara yang tergabung dengan PBB, hanya 162 yang memiliki hubungan diplomatik dengan negeri zionis tersebut. Mereka yang menolak berhubungan dengan Israel, 19 di antaranya adalah anggota Liga Arab dan 11 lainnya merupakan negara-negara dengan mayoritas penduduk muslim.

Negara-negara seperti Pakistan, Aljazair, Bangladesh, Brunei, Iran, Iraq, Kuwait, Lebanon, Libya, Malaysia, Arab Saudi, Sudan, Syria, dan Yaman bahkan tak mau menerima orang berpaspor Israel masuk ke negara mereka.

Protes Palestina tidak hanya dilakukan dengan kekerasan. Mereka juga menggelar aksi turun ke jalan di Nablus, Hebron, Ramallah, dan Gaza.

Di media sosial Jazirah Arab, ramai penandatanganan Palestine Charter atau Piagam Palestina. Total ada lebih dari 200 ribu pengguna media sosial yang sudah menandatangani dokumen penolakan normalisasi hubungan negara-negara Arab dengan Israel tersebut.

’’Saya menegaskan bahwa Palestina adalah negara Arab yang tengah diduduki dan kebebasan mereka adalah hal yang wajib.’’ Bunyi salah satu kalimat dalam piagam tersebut.

Iran yang merupakan musuh bebuyutan Israel langsung mengecam. Dalam rapat kabinet kemarin, Presiden Iran Hassan Rouhani menyatakan bahwa UEA dan Bahrain telah menggandeng rezim yang tiap harinya berbuat kejahatan yang lebih buruk pada rakyat Palestina.

’’Beberapa negara di wilayah tersebut, penduduknya adalah muslim yang taat tapi pemimpin mereka tidak memahami agama maupun utang mereka pada negara Palestina,’’ kata Rouhani menyindir UEA dan Bahrain.

Saksikan video menarik berikut ini:

Comment

News Feed