Pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Kalbar 2018 Nomor Urut Tiga, Sutarmidji dan Ria Norsan, Swafoto Bersama Masyarakat Kapuas Hulu (Foto: Elf)
Pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Kalbar 2018 Nomor Urut Tiga, Sutarmidji dan Ria Norsan, Swafoto Bersama Masyarakat Kapuas Hulu (Foto: Elf)

KalbarOnline, Pontianak – Sebagian masyarakat Kabupaten Kapuas Hulu yang berlatar belakang sebagai pekerja Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI), belum lama ini menggelar aksi demonstrasi di depan gedung DPRD Kapuas Hulu.

Masyarakat menuntut agar aparat Kepolisian melakukan penertiban secara adil tanpa tebang pilih. Selain itu masyarakat pekerja tambang juga mempersoalkan pertambangan emas yang berskala besar yang dikelola oleh warga negara Tiongkok dan sudah mengantongi izin dari Pemerintah Provinsi Kalbar.

Masyarakat penambang emas di Kapuas Hulu secara tegas menolak menjadi penonton di negeri sendiri.

Selain itu, tuntutan yang sangat mendesak yakni regulasi untuk menetapkan zona Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) yang resmi dengan dilandasi payung hukum, sehingga masyarakat pekerja tambang dapat bekerja dengan nyaman dan aman tanpa ada razia lagi.

Sebelumnya, saat Calon Gubernur Kalbar nomor urut 3 (tiga), Sutarmidji, melakukan safari dialogisnya ke Kapuas Hulu, ia menagaskan bahwa Midji – Norsan komitmen memperjuangkan persoalan harga karet dan Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) serta akan memperjuangkan pemekaran provinsi Kapuas Raya dan persoalan CPO sawit di Kalbar.

Sutarmidji yang akrab disapa Bang Midji ini saat safari dialogis di Kapuas Hulu sudah melakukan dialog langsung dengan masyarakat, mulai dari petani, pedagang dan seluruh lapisan masyarakat guna menyerap aspirasi di hampir semua Kecamatan di Bumi Uncak Kapuas.

Hasil dialogisnya dengan warga Kapuas Hulu, Sutarmidji mengungkapkan keprihatinannya. Pasalnya, banyak hal yang seharusnya didapat masyarakat, tetapi malah sebaliknya.

“Hampir semua kecamatan sudah kita datangi. Kita dengar keluhan dan serap aspirasi serta harapan masyarakat. Rata-rata keluhan masyarakat sama yaitu tentang pendidikan, kesehatan, infrastruktur. Terlebih lagi soal perekonomian masyarakat terutama terkait harga karet dan persoalan Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang merupakan sumber pendapatan masyarakat,” ujarnya, Kamis (5/4).

Sutarmidji menjelaskan, saat harga karet anjlok, masyarakat mulai enggan untuk menoreh atau menyadap karet, disatu sisi masyarakat butuh pendapatan, sehingga akhirnya melakukan penambangan emas tanpa izin dan terus dikejar-kejar.

“Berangkat dari persoalan ini, harus disiapkan wilayah pertambangan rakyat atau kalau ada pertambangan emas besar mereka harus jadi bagian investor tersebut, paling tidak harus ada lapangan kerja bagi masyarakat, dari investor atau perusahaan besar,” tegasnya.

Solusi yang ditawarkan Sutarmidji bagi warga Kapuas Hulu dinilai cermat, cerdas dan terukur bahkan bisa diwujudkan. Sebab program kerja yang ditawarkan Midji – Norsan langsung menyentuh kebutuhan dasar masyarakat, dan program kerja yang ditawarkan juga mengatasi akar persoalannya, sehingga menjadikan Kalbar sulit bersaing dengan provinsi lain dan menjadi faktor penyebab rendahnya IPM Kalbar.

Maraknya PETI, sudah pasti diakibatkan harga komoditas yang anjlok, untuk itu Midji – Norsan komitmen memperjuangkan persoalan harga komoditas karet yang anjlok dengan mendorong pembangunan pabrik pengolahan atau industri barang jadi atau setengah jadi dari karet. Karena sebagian besar penghasilan masyarakat Kapuas Hulu dari karet.

Guna memperlancar mobilisasi atau akses masyarakat petani, Midji – Norsan akan melakukan percepatan pembangunan atau pembenahan infrastruktur jalan yang saat ini hancur-hancuran, sehingga modal yang dikeluarkan petani tidak sesuai dengan hasil yang didapat.

Midji – Norsan juga telah menyampaikan komitmennya memperjuangkan WPR dihadapan masyarakat Kapuas Hulu.

“Harus disiapkan wilayah pertambangan rakyat atau kalau ada pertambangan emas besar mereka harus jadi bagian investor tersebut, paling tidak harus ada lapangan kerja bagi masyarakat, dari investor atau perusahaan besar,” tegas Sutarmidji.

Bahkan Midji – Norsan juga berkomitmen menyelesaikan polemik daun kratom atau purik, yang menjadi salah satu andalan perekonomian warga yang harga jualnya sangat tinggi, terlebih lagi apabila diekspor ke luar negeri. Namun hingga saat ini, diberbagai uji laboratorium terhadap kratom, hasilnya masih menjadi perdebatan.

Menyikapi ini, Sutarmidji menegaskan bahwa Midji – Norsan akan memfasilitasinya dengan uji laboratorium.

“Sebab, kratom merupakan penunjang ekonomi mereka. Untuk itu harus kita perjuangkan,” tegasnya lagi.

Melihat dari berbagai statemen Sutarmidji – Ria Norsan pada safari dialogisnya di Kapuas Hulu, sebelum terjadi demonstrasi di Kapuas Hulu beberapa waktu lalu, pasangan nomor urut 3 (tiga) ini dinilai banyak kalangan sebagai pasangan yang visioner.

Bahkan Pengamat Kebijakan Pemerintah Universitas Tanjungpura, Erdi Abidin, menilai berhasilnya Sutarmidji dan Pemkot Pontianak meraih berbagai penghargaan, menurutnya, karena komitmen Sutarmidji.

“Saya melihat pertama Bang Midji ini apa yang diucapkannya itu yang dikerjakan. Kedua transparan, artinya semua terlibat. Ketiga media boleh mengkritik dia. Keempat, Midji mengutamakan kualitas layanan jadi tidak hanya standar yang dikejar, tapi ekspektasinya diatas standar. Kelima, Midji selalu melakukan inovasi tanpa henti,” tukas Erdi Abidin.

Sosok seperti Midji – Norsan tentulah sangat diharapkan masyarakat Kalbar saat ini, sebab visi misi dan program kerja yang ditawarkan juga sangat pro rakyat dan sejalan dengan kebutuhan masyarakat Kalbar saat ini.

Selain memiliki segudang prestasi, Midji – Norsan juga memiliki track record yang jelas, kepiawaian dalam tata kelola pemerintahan.

Kalimantan Barat perlu pemimpin kolektif kolegial dan berkelas nasional, bukan hanya pemimpin identitas dan lokal, yang tidak memiliki program yang jelas serta hanya mengobral janji-janji. Kenapa demikian?, sebab Kalbar sudah jauh tertinggal oleh provinsi besar lainnya. (Fat)

Print Friendly, PDF & Email

LEAVE A REPLY