Hewan Terkena PMK Bisa Disembuhkan Secara Tradisional, Begini Caranya..

KalbarOnline, Pontianak – Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kalbar, Munsif menyebutkan, bahwa dari 1.404 kasus hewan yang terserang Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Kalbar, 40 persen diantaranya dapat disembuhkan dengan cara-cara tradisional.

“Di Kalbar dari 1404 kasus PMK hampir 40 persen bisa disembuhkan dengan upaya tradisional. Salah satu upaya yang harus dilakukan yakni memperbaiki daya tahan tubuh ternak. Jika itu bisa diatasi maka ternak akan bisa sehat,” ungkapnya, baru-baru ini.

Secara teknis, kata Munsif, informasi lebih lanjut terkait penanganan hewan ber-PMK ini dapat diperoleh masyarakat melalui posko crisis center yang tersedia di kabupaten/kota masing-masing. Dimana posko tersebut melayani pengaduan, konsultasi dan penanganan kasus yang dilaporkan para peternak.

Baca Juga :  Jelang Idul Adha, Pemkab Sintang Berikan Pengarahan Soal Pencegahan PMK 

“Dari situ kita akan terus meng-update data-data selain dari pelaporan secara terstruktur dari kabupaten/kota,” katanya.

Tak hanya itu, posko crisis center juga memiliki unit reaksi cepat yang akan merespon laporan para peternak dengan segera. Para petugas medis akan menuju lokasi kasus untuk melakukan pemeriksaan sekaligus pelayanan pengobatan dan pemberian vitamin jika diperlukan. 

“Termasuk tentu mengedukasi pemilik ternak agar mengubah dan beradaptasi dengan kebiasaan baru yang mengelola kandang dan ternak dengan biosecurity,” kata Munsif.

Lebih lanjut ia menjelaskan, mitigasi biosecurity pada intinya yakni tentang penerapan pengelolaan dengan mengedepankan kesehatan dan higienitas. Misalnya dengan penyemprotan kandang dan penjagaan kebersihan. Sehingga tidak ada tumpukan kotoran yang berlebihan pada kandang.

Baca Juga :  Dompet Ummat Tebar Faedah Kurban, Jangkau 14 Kota dan Kabupaten Pedalaman Kalbar Hingga 3 Lokasi di Indonesia Timur

“Virus tersebut juga dapat bertahan di kotoran,” jelasnya.

Kemudian hal yang harus dilakukan yakni sterilisasi peralatan yang digunakan para peternak seperti baju dan sepatu dengan penyemprotan disinfektan. Lalu mencegah orang yang tidak berkepentingan untuk mengunjungi kandang. 

“Sehingga interaksi ternak hanya terbatas pada pemilik ternak. Ini memang sesuatu yang tidak mudah karena mengedukasi sesuatu yang abstrak tetapi nyata,” kata dia.

Munsif mengungkapkan, jika hal-hal tersebut tidak diterapkan maka yang terjadi yakni ternak bisa terinfeksi dan baru akan muncul gejalanya empat hingga lima hari kemudian. 

“Lalu jika tidak ditangani maka akan semakin parah dalam waktu 14 hari. Namun jika bisa ditangani dengan cepat maka ternak akan bisa sembuh,” pungkasnya. (Jau)

Comment