Pokja Rumah Demokrasi Gelar Diskusi Publik ‘Orientasi Politik Generasi Milenial’

Pokja Rumah Demokrasi Gelar Diskusi Publik ‘Orientasi Politik Generasi Milenial’
Diskusi publik mengenai orientasi politik generasi milenial yang digelar Pokja Rumah Demokrasi Kalbar (Foto: Istimewa)

KalbarOnline, Pontianak – Kelompok Kerja (Pokja) Rumah Demokrasi menggelar Diskusi Publik yang mengusung tema ‘Orientasi Politik Generasi Milenial’ yang berlangsung di kafe What’s Up Jalan Zainudin Pontianak, Sabtu (25/8/2018).

Kegiatan yang dipandu oleh Sekretaris Umum Pokja Rumah Demokrasi, Giat Anshorrahman ini menghadirkan 3 (tiga) narasumber dari unsur partai politik diantaranya Imam Abu Hanifah, S.Sos yang merupakan Wakil Sekertaris DPD Partai Demokrat Kalbar, Erry Iriansyah, S.T Ketua PD AMPG Kalbar, M. Sabi’in, S.P yakni Ketua PW PSI Kalbar.

Ketua Umum Pokja Rumah Demokrasi, Zainudin Kismit menjelaskan indikator menjadi kegiatan tersebut dilaksanakan karena terdapat beberapa hal yang pertama adalah data dari pemilu 2014 secara nasional dan beberapa kali pilkada di Kalbar sendiri angka pemilih muda yang juga merupakan bagian dari pemilih pemula telah mencapai angka 30% daftar pemilih.

Artinya, kata dia, potensi tersebut membuat anak muda akan memberikan perubahan ke arah yang lebih baik untuk demokrasi dan pemilu di Kalbar dan Indonesia untuk masa mendatang.

“Kemudian bonus demografi yang diperkirakan pada 2025 akan melibatkan anak muda sebagai ujung tombak perubahan di berbagai sektor termasuk menentukan arah politik sehingga perlu pembinaan serta diskusi-diskusi untuk membuka pandangan politik anak muda agar tidak lagi bersikap apatis, skeptic dan yang pastinya tidak menjadi pewaris budaya politik lama yang dinilai selama ini tidak baik,” tukasnya.

Sementara ketiga yakni terkait pembentukan karakter dan pola pikir anak-anak muda, Pokja Rumah Demokrasi mengupayakan bagaimana anak-anak muda terus memberikan ide dan gagasan dalam ranah politik sehingga keterlibatan mereka di parpol maupun non parpol memberikan semangat optimisme perubahan tidak sekedar mengikuti tren pasaran.

“Untuk itu kita mengambil tema diskusi kita kali ini fokus ke arah politik anak muda agar kedepannya mereka punya pandangan terkait pilihannya,” ucapnya.

Zainudin juga mengungkapkan ketiga narsum tersebut diambil juga berdasarkan pantauan dan penilaian pihaknya bahwa dari sekian banyak parpol, ketiga parpol ini yang akhir-akhir ini mulai bergerak untuk mengambil simpatik anak-anak muda dengan mengubah arah politiknya ke anak-anak muda.

“Walau pun mungkin ada beberapa parpol juga ke arah sana tetapi belum gencar untuk bergerak. Kita ingin para anak muda yang masuk dalam parpol punya pandangan dan pilihannya sendiri jangan sampai sekedar ikutan-ikutan saja, karna untuk merawat masa depan bangsa ini, kita harus merawat generasi mudanya,” imbuh Zainudin.

Sebagai narasumber, Ketua DPW PSI Kalbar, Moch Sabi’in mengapresiasi kegiatan yang diselenggarakan oleh Pokja Rumah Demokrasi ini. Menurutnya kegiatan seperti ini membawa angin segar bagi generasi milenial dalam proses edukasi politik. Sabi’in berharap kegiatan seperti ini berjalan secara berkelanjutan.

“Saya sangat mengapresiasi positif sekali. Karena Ruang-ruang diskusi publik seperti ini saat ini sangat jarang. Tapi dengan kegiatan yang diselenggarakan kawan-kawan membawa angin segar untuk memberikan pendidikan khususnya untu generasi milenial yang,” tuturnya.

Ia juga menilai politik praktis perlu dinilai secara positif oleh generasi milenial mengingat bahwa mereka harus mempunyai wadah dan pentas politik dengan sendirinya. Karena dirinya merasa generasi milenial mempunyai jiwa idealis dan semangat yang tidak dibawah under pressure.

“Mereka punya pola pikir sendiri dan memang hari sangat visioner,” ucapnya.

Tentunya generasi milenial, kata dia, harus membekali diri dengan integritas dan kredibilitas yang baik dengan membekali dirinya dengan literasi, diskusi, kegiatan-kegiatan positif.

“Kita berharap generasi milenial kedepan mampu untuk membawa cara berpolitik yang lebih baik, mendekat politik pada kebajikan tentunya,” jelasnya.

Dia mengatakan agar kebijakan-kebijakan negara memihak pada kaum muda. Pertama sekali generasi milenial harus peduli, pengalaman sudah mengajarkan seperti di beberapa negara lain sudah membuktikan bahwa generasi milenial mempunyai proyeksi politik secara sendirinya.

“Kita berharap generasi milenial yang ada di Indonesia harus peduli. Kedepan mereka harus mampu mengambil sikap-sikap politik kedepannya. Yang terpenting Pemilu 2019 nanti mereka tidak golput,” tutupnya.

Senada dengan Sabi’in, Wakil Sekretaris Partai Demokrat Kalbar, Imam Abu Hanifah menilai sangat penting bagi generasi milenial untuk masuk ke dalam ranah politik apabila memang optimistis generasi milenial itu merupakan sebuah perubahan.

Menurutnya bila generasi milenial tidak ikut berpartisipasi secara lansung, maka optimisme perubahan yang dilakukan generasi milenial sia-sia.

Saat ini kata dia, milenial mempunyai posisi cukup besar dalam pemilu 2019. Oleh karena itu mereka mempunyai pilihan yang tepat dengan meyakini optimisme itu maka perubahan akan terjadi.

“Sekarang cukup besar peluang anak muda masuk ke dalam politik. Itu kelihatan misalnya dari Parpol nasionalnya yang mempersiapkan kader-kadernya berasal dari kaum-kaum milenial,” jelasnya.

Menurutnya kompetisi antara parpol saat ini bagaimana mengambil simpati generasi milenial sebanyak mungkin dan masing-masing parpol mempersiapkan kader-kader berasal dari kaum muda untuk ikut dalam kontestasi politik.

Imam Abu Hanifah juga berharap generasi milenial jangan merasa bahwa politik praktis adalah sesuatu yang tabu atau mencapnya negatif. Karena menurutnya untuk melakukan perubahan yang paling efektif adalah masuk kedalam ranah politik itu sendiri.

“Kita tidak bisa hanya diluar, sebagai pengamat. Kalau seperti itu perubahan tidak akan terjadi. Kita harus masuk kedalam subtansi dan regulasi untuk kemudian melakukan perubahan tersebut,” tutupnya.

Sementara, Ketua PD AMPG Kalbar, Erry Iriansyah dalam materinya tak menampik bahwa peran kaum muda pada pemilu 2019 mendantang tak bisa dipandang sebelah mata.

Menurutnya hampir seluruh partai mendekatkan diri kepada kaum muda dengan berbagai formula yang ditawarkan oleh masing-masing parpol.

Dirinya yang merupakan pimpinan organisasi pemuda sayap Golkar ini juga mengakui terus membangun strategi untuk menggaet pemilih yang berasal kalangan milenial dengan metode yang memang dekat dengan milenial itu sendiri.

“Kaum milenial ini tidak bisa kita langsung ditarik perhatian mereka untuk terjun berpolitik. Karena mereka masih ada rasa antipati dengan politik tapi dengan kegiatan-kegiatan yang dekat dengan mereka, perlahan kita perkenalkan dengan mereka. Bahwa pemahaman mereka tentang parpol sekarang sudah tidak seperti dulu lagi yang hanya diisi oleh orang tua dan sikap negatif lainnya,” tukasnya.

Erry menilai peluang anak muda untuk masuk ke dalam sistem kenegaraan masih ada. Hanya saja dirinya menilai dalam politik jangan mengharapkan lebih karena semua partai juga punya basic untuk menggaet kaum milenial. (*/Fai)

Tinggalkan Komentar