Bupati Sintang, Jarot Winarno, Foto Bersama Dengan Gubernur Kalbar dan Sejumlah Bupati Yang Turut Menghadiri Peresmian Gereja Katedral Sintang (Foto: Sg/Hms)
Bupati Sintang, Jarot Winarno, Foto Bersama Dengan Gubernur Kalbar dan Sejumlah Bupati Yang Turut Menghadiri Peresmian Gereja Katedral Sintang (Foto: Sg/Hms)

Sejalan dengan Visi-misi Pemerintah Kabupaten Sintang

KalbarOnline, Sintang – Gubernur Kalimantan Barat, Cornelis secara simbolis meresmikan Gedung Gereja Katedral Sintang, yang ditandai dengan pembukaan pintu gereja, Sabtu, (14/10).

“Pemprov sudah memberikan bantuan dana yang sangat besar untuk pembangunan gedung gereja ini yakni sebesar Rp20 miliar. Jangan dianggap enteng dana sebesar itu. Saya sudah berani mengambil sikap dan keputusan atas bantuan ini. Padahal apa yang saya lakukan penuh dengan resiko,” ujarnya.

Menurutnya, Kementerian Agama Republik Indonesia juga tidak peduli dengan pembangunan gereja di Indonesia.

Selain itu, Gubernur Kalbar dua periode ini juga menilai, ada kebiasaan gereja katolik yang sudah mulai hilang, yakni kehidupan di asrama.

“Dulu waktu saya masih kecil, banyak asrama yang dibina oleh suster, bruder dan pastor bagi anak pedalaman. Namun sekarang sudah tidak ada lagi. Kita patut mencontoh saudara kita yang beragama Islam dengan pola pondok pesantren. Mereka bergotong-royong membangun pondok pesantren untuk memperkuat keimanan. Umat katolik jangan sampai buta politik. Gereja memang tidak boleh berpolitik praktis. Tetapi uskup dan pastor boleh memberikan pemahaman kepada umatnya dalam hal politik dan hal lain yang mencerdaskan,” tukasnya.

Sementara Direktur Urusan Agama Katolik Dirjen Bimas Katolik Kementerian Agama RI, Sihar Petrus Simbolon menyampaikan bahwa berdasarkan Pancasila, negara menjamin kemerdekaan setiap warga dalam memeluk agamanya.

“Ini tanda pengakuan negara terhadap agama Katolik di Indonesia,” ucapnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa Menteri Agama RI baru saja menandatangani peraturan tentang pesparawi Katolik. Peraturan tersebut juga sudah dikirim ke seluruh Gubernur di Indonesia.

“Kementerian Agama RI juga sudah melakukan pembinaan keluarga dan anak muda Katolik, serta memberikan bantuan pembangunan sarana ibadah,” tukasnya.

Sementara itu, Bupati Sintang, Jarot Winarno dalam sambutannya menyampaikan bahwa rasa bahagia berhubungan dengan suasana hati yang tercipta melalui iman yang mendalam terhadap tuhan.

Sehingga membangun bidang agama menjadi sangat penting dalam proses pembangunan yang sedang dilakukan. Agama menjadi inspirasi bagi visi, strategi dan program pembangunan.

“Apalagi di era global ini, dimana orang mudah marah, galau, kebencian dan cemas sehingga kehadiran agama semakin dibutuhkan untuk mengobatinya. Dengan agama setiap manusia dan masyarakat mampu mampu menyelami kepuasan hidup yang sejati. Maka, tanggungjawab pemerintah menghadirkan kekuatan agama yang seiring dengan upaya pembangunan bidang lain,” tukasnya.

Peresmian katedral ini, lanjut Bupati, bermakna upaya nyata kita bersama untuk membangun keagamaan semakin kokoh. Keberadaan gereja ini tidak semata tempat berdoa dan berkomunikasi kepada Tuhan, tetapi tempat orang mencari kebahagiaan hidup yang hakiki.

Gereja katedral ini, lanjut Bupati, juga harus dijadikan laboratorium mini terciptanya kerukunan hidup beragama yang harus terus dipelihara. Gereja ini megah dan berada di tengah Kota Sintang, menjadi modal kita mewujudkan masyarakat yang religius.

“Kami berharap kepada umat Katolik sebagai agama mayoritas di Sintang untuk dapat menjadi tauladan dalam kehidupan sosial. Umat katolik mampu menjadi pelopor dan dinamisator dalam kehidupan saat ini. Terima kasih kepada Bapak Gubernur Kalbar yang sudah membantu pembiayaan dalam pembangunan gereja ini. Mari kita bersinergi dan bekerjasama serta sama-sama bekerja dalam membangun daerah ini,” pungkasnya.

Sementara itu, Uskup Sintang Mgr Samuel Oton Sidin mengatakan bahwa terbangunnya gereja ini berkat kerjasama banyak pihak. Pada awalnya, semua pihak terkait sepakat untuk membangun sebuah gereja katedral bergaya semi gotic berpadu dengan seni tradisional Dayak seperti yang terlihat dalam ukiran pintu serta lukisan diberbagai tempat.

Dipadukan dengan tradisi Katolik yang menghadirkan lukisan dan gambar orang-orang kudus. Semua dikemas dengan sedemikian rupa, sehingga melahirkan sebuah karya seni dan arsitektur yang indah. Menara katedral lama sengaja dipertahankan sebagai pertanda dan kenang-kenangan historis. Ada banyak orang yang sudah menyumbang dalam bentuk uang, materil, tenaga, pikiran dan waktu. Ini berkat campur tangan Tuhan.

“Terima kasih kepada Bapak Gubernur Cornelis yang sudah memprakarsai pembangunan gereja baru serta memberikan sumbangan dana yang besar. Mgr. Agustinus Agus, Pr sebagai Uskup Sintang saat itu, banyak memberikan masukan mengenai bentuk bangunan gereja. Pemkab Sintang, anggota DPR RI, DPRD, pengusaha, dan pribadi masyarakat juga sudah memberikan bantuan dana. Pemborong juga sudah mengerahkan banyak tenaga kerja. Mereka mengalami dinamika proses yang tidak gampang. Ada banyak hambatan dalam proses pembangunan, namun bisa diatasi karena ada dialog dan diskusi,” tukasnya.

“Kami mencoba mengenang banyak pihak yang sudah membantu dengan menuliskan nama-nama dalam batu marmer yang dipasang di salah satu bagian gereja ini. ini gereja induk di keuskupan sintang, saya mengundang umat katolik yang berada di keuskupan sintang untuk mengunjungi bahkan mengikuti ekaristi. Bahkan semua orang yang berkehendak baik boleh datang baik untuk berkunjung maupun mencari ketenangan hati,” timpalnya.

Ketua Panitia Pembangunan Gereja Katedral, Yosepha Hasnah mengatakan bahwa umat katolik di keuskupan Sintang mengucapkan banyak terima kasih dan bangga yang luar biasa kepada Bapak Gubernur Kalbar yang sudah mencetuskan ide besar pembangunan kembali gedung gereja katedral Sintang saat kunjungan kerja ke Sintang tahun 2013 yang lalu.

Bahkan bukan hanya ide, tetapi Gubernur memberikan dana hibah yang besar untuk membangun gereja ini. dalam setiap kunjungan ke Sintang, Gubernur juga selalu memberikan motivasi dan memantau perkembangan pembangunan gereja ini.

“Kalau bukan ide dan bantuan Gubernur kalbar, maka Katedral Sintang yang dibangun sejak tahun 1957 dan sudah dilakukan renovasi pada Tahun 1991, maka gereja ini belum berubah dan tentunya kita sekarang tidak akan melihat gedung gereja yang besar dan megah serta menjadi salah satu ikon Kabupaten Sintang,” ucapnya.

Ia juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada Mgr. Agustinus Agus yang sudah menyambut baik dan mendukung pembangunan gereja katedral. Banyak karya yang sudah beliau lakukan bagi keuskupan Sintang.

“Terima kasih juga kepada Uskup Sintang Mgr. Samuel Oton Sidin yang sudah memberikan dukungan dan pengarahan kepada kami,” ujarnya.

Dalam laporannya, Yosepha menuturkan bahwa proses pembangunan gereja dimulai saat peletakan batu pertama pada 21 November 2014 oleh Gubernur Kalbar. Dan dimulai dibangun secara fisik pada 31 Januari 2015 serta bisa diselesaikan pada 10 Oktober 2017 atau bisa diselesaikan selama 2 tahun 8 bulan 10 hari. Gereja katedral kristus raja Sintang memiliki luas bangunan 780 meter persegi dan dapat menampung 1.200 umat yang sebelumnya hanya mampu menampung 700 umat saja. Total biaya yang diperlukan adalah 30 milyar  500 juta rupiah yang terdiri dari 20 milyar bantuan Pemprop Kalbar, 10 milyar bantuan Pemkab Sintang dan sisanya bantuan para donatur.

“Terima kasih juga kepada Bupati, Wakil Bupati dan DPRD Sintang yang sudah memberikan bantuan dana hibah untuk membangun gereja ini. terima kasih juga kepada Bapak Milton Crosby dan Ignasius Juan yang turut mendukung diakhir masa jabatan keduanya,” pungkasnya. (Sg)

Print Friendly, PDF & Email

LEAVE A REPLY