Setelah Pontianak, Disdikbud Kalbar Buka Dua SMA di Kubu Raya dan Bengkayang

KalbarOnline, Pontianak – Setelah membuka sekolah baru SMA Negeri 14 Pontianak di Kecamatan Pontianak Tenggara, Kota Pontianak, kini Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Kalbar akan membuka dua sekolah baru lagi pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun 2024.

Dua sekolah itu yakni SMA Negeri Pelita Jaya yang terletak di Desa Pelita Jaya, Kecamatan Kubu, Kabupaten Kubu Raya, dan SMA Negeri Pulau Lemukutan di Kecamatan Sungai Raya Kepulauan, Kabupaten Bengkayang.

Kepala Disdikbud Kalbar, Rita Hastarita menyampaikan, keputusan ini diambil lantaran mempertimbangkan luasnya wilayah serta akses tempuh bagi murid-murid di dua kabupaten tersebut.

“Disdikbud Kalbar telah mengambil kebijakan untuk akses pendidikan terutama jenjang SMA/SMK. Ada dua lokasi yang memang di lokasi tersebut ada anak-anak lulusan SMP,” katanya, Rabu (05/06/2024).

Rita menyampaikan, kalau kebijakannya ini juga ditopang oleh Permendikbud Nomor 72 Tahun 2013 yang membolehkan membuka pendidikan layanan khusus bagi daerah-daerah yang memiliki kesulitan akses di daerah terpencil.

“Jadi nanti bukan siswanya yang keluar dari pulau, tapi nanti guru yang dihadirkan ke pulau itu. Dan untuk sekolahnya itu tetap menggunakan sekolah di sana, dan untuk satuan administrasi pangkalnya di SMA terdekat,” jelasnya.

Rita mencontohkan, untuk di Desa Pelita Jaya misalnya, akses paling dekat ke SMA terdekatnya saja murid-murid harus melalui jalur air. Sehingga nantinya, murid tidak lagi pergi ke SMA “terdekat” itu lagi, namun guru-guru yang ada di SMA tersebut yang datang ke Pelita Jaya untuk mengajar.

“Di Desa Pelita Jaya, di sana ada SMP. Setiap tahun meluluskan 25 – 35 siswa. Kalau mereka mau lanjut SMA biasa harus ke SMA Negeri 1 Kubu, itu waktu tempuhnya pakai motor air 30 menit, belum lagi antrenya bisa 40 menit,” katanya.

Belum lagi berbicara soal risiko, keamanan di jalan dan sebagainya, sehingga hal itu sangat menyulitkan anak-anak di sana untuk melanjutkan pendidikan SMA.

“Belum lagi misalnya ada orang tua bimbang anaknya sekolahnya jauh, sehingga tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Kita khawatir hambatan seperti itu menyebabkan anak-anak tidak melanjutkan ke jenjang lebih tinggi, sehingga akan mempengaruhi kualitas SDM di Kalbar,” terang Rita.

Baca Juga :  Gubernur Kalbar Minta Kapolda Periksa Provokator Soal Covid di Medsos

Lebih lanjut untuk pendidikan layanan khusus di Desa Pelita Jaya, Disdikbud Kalbar tahun ini akan membangun dua kelas, dan untuk guru-gurunya akan didatangkan secara bergantian ke desa itu, bergantung pada mata pelajaran (mapel)-nya.

“Gurunya kita datangkan dari SMAN 1 Kubu secara bergantian, kita tugaskan bisa dua atau tiga hari bergantian, ataupun PP (pergi-pulang), karena mapelnya berbeda. Kalau ada praktek baru anak-anak (di Desa Pelita Jaya) sesekali ke sekolah induknya (di SMAN 1 Kubu),” ujarnya.

Dengan demikian, secara administratif, sekolah jarak jauh ini menjadi satu bagian dari SMAN 1 Kubu, kendati bangunannya terpisah. Rita menjelaskan, pihaknya belum dapat membangun SMA baru di Pelita Jaya lantaran terbentur biaya yang besar, kemudian ketersedian guru yang juga harus terpenuhi.

“Sekarang saja kita masih banyak kekurangan guru, dan jumlah peserta didik di sana juga tidak ramai, hanya menampung anak lulusan SMP di desa itu saja. Jadi ini solusi yang strategis untuk bisa dijalankan di beberapa daerah,” ujarnya.

Sama halnya dengan kondisi anak-anak di Pulau Lemukutan, Kecamatan Sungai Raya Kepulauan, Kabupaten Bengkayang. Di mana anak-anak di sana melanjutkan sekolahnya harus keluar dari wilayah mereka. Kondisi ini sudah berlangsung selama puluhan tahun.

“Jadi mereka (keluar wilayah) ke SMAN 1 Sungai Raya Kepulauan, atau SMKN 1 Sungai Raya Kepulauan. Yang konsekuensinya anak-anak ini tidak bisa pulang-pergi, karena kalau pakai kapal motor ini jam 7 berangkat dengan lama tempuh 1 jam 30 menit baru sampai ke Teluk Suak, belum ke sekolah lagi,” kata Rita.

“Jadi hampir 2 jam waktu tempuh bisa sampai ke sekolah dengan risiko besar,” timpalnya.

Rita menyebut, kondisi tersebut tentu menjadi perhatian pihaknya, hingga akhirnya kebijakan untuk membuka SMA jarak jauh menjadi solusi terbaiknya saat ini.

Baca Juga :  Resmikan Masjid Jami' Mujahidin Karimunting, Sutarmidji Puji Kerjasama Masyarakat

“Saya sudah koordinasi dengan perangkat desa di sana yang mau melanjut ke jenjang SMA di sana tidak sampai 50 persen. Saya juga sudah koordinasi dengan Kepala SMAN 1 dan SMKN 1 Sungai Raya Kepulauan. Itu satu tahun biasa yang melanjutkan paling 5 orang di SMA 1 Sungai Raya Kepulauan, dan 7 orang di SMK N 1 Sungai Raya Kepulauan,” katanya.

“Jadi lulusan SMP Pulau Lemukutan sekitar 22 – 30 anak. Artinya 50 persen saja yang lanjut pendidikan,” sambung Rita.

Menurut Rita, jarak tempuh yang sulit membuat banyak orang tua berpikir keras untuk melanjutkan pendidikan anak-anaknya itu. Bagi mereka yang terpaksa ke luar pulau, harus menambah uang lagi untuk biaya kos atau kalau tidak menumpang di rumah keluarga.

“Tapi kalau tak miliki biaya? Otomatis tak bisa lanjut sekolah, itu yang tak kita inginkan terjadi di Pulau Lemukutan,” tegasnya.

“Minggu lalu saya ke sana saya putuskan untuk membuka sekolah pendidikan layanan khusus dengan mendatangkan guru dari SMA terdekat tadi dan menumpang di gedung SD yang layak digunakan,” lanjutnya.

Secara teknis, pola belajar mengajar sekolah ini sama dengan yang di Kubu Raya atau sekolah filial di Pontianak. Anak-anak kemungkinan hanya sesekali saja ke sekolah induk jika sudah ada pelajaran praktek sekolah.

“(Soal) studi kelayakannya sudah saya naikan ke pimpinan, tinggal koreksi dan persetujuan pimpinan untuk pendidikan layanan khusus di dua kepulauan ini. Ini upaya kita tidak menutup kemungkinan akan buka di tempat lain, sambil kita lihat potensi apa yang menyebabkan anak-anak tak lanjut sekolah,” terang Rita.

“Prinsip saya, semua anak harus mendapatkan pendidikan, mau dia formal di sekolah dan non formal atau informal. Kami akan terus carikan solusi kita menciptakan SDM yang unggul dan kualitas melalui pendidikan yang layak di Kalbar,” tuntasnya. (Jau)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Comment