by

Sejarawan Kalbar Ulas Isi Kitab Negarakertagama: Ungkap Asal Usul Kijing dan Nama Tanjungpura

KalbarOnline, Pontianak – Sejarawan Kalimantan Barat (Kalbar), Syafarudin Daeng Usman sempat mengulas sekelumit isi dari Kitab Negarakertagama  yang ditulis oleh Mpu Prapanca (1365 Masehi), saat mengisi dialog publik bertajuk “77 Tahun Merawat Kemerdekaan dengan Menjaga Sejarah Perjuangan”, di TVRI Kalbar, Senin (0808/2022).

Ulasan tersebut disinggung Syafarudin menyusul viralnya polemik penamaan pelabuhan internasional yang terletak di Pulau Kijing, Kecamatan Sungai Kunyit, Kabupaten Mempawah, Provinsi Kalbar.

“Besok InsyaAllah, Presiden Joko Widodo didampingi Gubernur Kalbar Sutarmidji, akan meresmikan pelabuhan internasional yang ada di Kabupaten Mempawah dengan nama Tanjungpura,” katanya mengawali sesi dialog.

Secara umum, Syafarudin menilai bahwa, penyematan nama Tanjungpura lebih enak didengar, karena mengikuti nama-nama pelabuhan besar di Indonesia.

“Yang pertama, memang enak kedengarannya. Jakarta (ada) Tanjung Priok, Semarang Tanjung Perak, Surabaya Tanjung Emas. Kalau Kalbar dinamakan Tanjungpura,” ujarnya.

Ia kemudian membawa audiens untuk mencermati fenomena penamaan “Tanjung” terhadap beberapa nama port di Indonesia tersebut.

“Sekarang kita berpikir, kalau Semarang misalnya, kenapa dinamakan Tanjung Emas, kok tidak dinamakan dengan Mataram. Atau Surabaya, kenapa tidak dinamakan ‘Pelabuhan Laut Surabaya’, atau Morokerembangan, atau ‘Pelabuhan Laut Kembang Jepon’–itukan terkenal itu, atau Peneleh, atau apa misalnya–tapi kok namanya Tanjung Perak?” tanya Syafarudin retorik.

Lalu untuk penamaan pelabuhan internasional di Jakarta, sambung Syafarudin, mengapa tidak diberi nama Batavia atau “Pelabuhan Betawi”, tapi justru diberi nama Tanjung Priok.

“Lalu sampailah kita, mengapa tidak ‘Kijing’, mengapa tidak (pelabuhan) Mempawah atau nama sejumlah tokoh untuk nama pelabuhan internasional di Kalbar, tapi Tanjungpura?” tanya Syafarudin lagi.

“Ini bukan pilihan yang salah saya pikir. Tanjungpura itu jangan kita pandang sebagai salah satu kerajaan yang pernah ada di Kalbar yaitu di Ketapang. Nanti lalu ada konotasi bahwa nama ketapang diabadikan di sini (Mempawah),” katanya.

BACA JUGA:  Gubernur Kalbar Sarankan Pelindo Miliki Tangki Timbun CPO

Syafarudin pun kemudian mengajak audiens untuk “mengintip” isi dari Kitab Negarakertagama berkaitan dengan sejarah awal perkembangan wilayah hingga kemudian dinamakan Kalimantan Barat. Ulasan ini juga berhubung kait dengan asal usul “Kijing” dan nama “Tanjungpura”.

“Tanjungpura itu coba kita buka Kitab Negarakertagama, itu tidak ada negara atau negeri atau pulau lain di luar Jawa dan Sumatera, Pulau Jawa itu Jawadwipa, Sumatera itu Swarnadwipa, tapi kalau Kalimantan itu namanya Mula Muka Nagari Paramuka Ring Tanjungpura. Pulau yang termuka di luar Pulau Jawa dan Sumatera itu adalah Tanjungpura atau Ring Tanjung Nagara,” katanya.

Lantas mengapa kemudian dinamakan Tanjungpura?

“Tanjungpura itu adalah nama lain Kalimantan di masa lampau. Tapi di dalam Kitab Negarakertagama itu yang merupakan bab-bab terkemuka sumber sejarah Nusantara, Tanjungpura itu di dalamnya terdiri dari Brunei, Landak, Sambas, Banjarmasin,” papar Syafarudin.

“Ketika dijadikan Tanjungpura, itu adalah Kalimantan Indonesia, yang dominan itu adalah Kalimantan Barat. Maka pilihan Tanjungpura itu adalah Kalimantan barat, itu adalah pilihan yang tepat,” sambungnya. 

Sehingga lanjut Syafarudin, ketika nama Tanjungpura diabadikan untuk misalnya pelabuhan, kodam atau universitas, hak itu semata-mata untuk menggambarkan kebesaran Kalimantan Barat di masa lampau dan keagungan Kalimantan Barat di masa selanjutnya.

“Tidak kita mengecilkan nama yang lain. Kalau dipaksakan nama Kijing misalnya, dulu tidak ada Kijing, di situ Tanjung Sanggau di jaman kolonial Belanda dulu. Belakangan saja, karena ditata untuk menjadi objek wisata di Kabupaten Pontianak–sebutan waktu itu sebelum (resmi menjadi) Kabupaten Mempawah, baru dinamakan pantai kijing,” terangnya.

“Memang di seberang sana ada Pulau Kijing, berapa besar pulau itu? Pulau itu menjadi besar karena dijadikan objek wisata, tapi dibandingkan dengan Pulau Kalimantan yang dulu namanya Tanjungpura, berapa bandingannya?,” kata Syafarudin menekankan.

BACA JUGA:  Tingkatkan PDRB, Sutarmidji Dorong Optimalisasi Aktivitas Ekspor Lewat Pintu Ekspor Kalbar

“Sangat pantas (penyematan nama Tanjungpura). Tidak ada kekeliruan di situ. Jadi, kalau kita ingin memperdebatkan itu, belajar dulu dari sejarah masa lalu. Kijing itu kemegahannya karena apa? karena objek wisata,” kata Syafarudin.

“Tanjungpura itu karena apa? karena sejarah, karena budaya, karena arkeologinya di masa yang lampau. Dan bukan berarti Tanjungpura ini adalah Matan, adalah Sintang, adalah Ketapang, adalah Sukadana semata. Bukan,” tegasnya lagi.

Syafarudin juga menjabarkan, bahwa Tanjungpura yang dimaksud ini ada kaitan erat dengan Kalimantan bagian barat, yang di kemudian hari menjadi Kalimantan Barat, hingga sekarang.

“Tapi kalau kita kecilkan Tanjungpura, yang menjadi Sukadana, menjadi Matan, menjadi Simpang–itukan ada kaitannya juga dengan Mempawah. Di mana salah satu sultannya yang bertahta yaitu Sultan Muhammad Zainuddin–itukan bermenantukan (bapak mertua dari) Opu Daeng Menambon, orang yang merintis negeri Mempawah,” terang Syafarudin.

Ia juga menyampaikan, jika memang sebelumnya sudah ada para pendahulunya, artinya pelebaran hegemoni kekuasaan itu dari segi budaya, segi sejarah, pembangunan, sosial, ekonomi dan kultur masyarakat itu sudah ada dari dulu.

“Terlepas dari itu semua, kita mengabadikan nama Tanjungpura itu untuk mengingatkan kejayaan di masa lampau. Setara lah dengan Tanjung Priok, karena Tanjung Priok itukan untuk menggambarkan kemegahan Batavia, atau Betawi, atau Jayakarta di masa lampau,” ucapnya.

Begitu pula dengan nama “Tanjung Emas”, kata Syafarudin–yang notabene untuk menggambarkan betapa besarnya Semarang, Ngayogyakarta Hadiningrat, ada Mangkunegaran dan ada lainnya. Sama juga dengan dengan Tanjung Perak dan tanjung-tanjung lainnya.

“Tanjung inikan menggambarkan identik dengan pelabuhan, dengan kemaritiman, dengan kejayaan laut, dari lautnya itu menjadikan sosial ekonomi dan sosial kultur yang bertumbuh. Bukankah kita mengenal Jalesveva Jayamahe (Justru di Laut Kita Jaya),” ujarnya.

BACA JUGA:  Ria Norsan Pastikan Pemprov Akan Memberikan Kontribusi Lebih Banyak Kepada Guru PAI

“Ini untuk menghikmahi anugerah dan rahmat dari Allah sebagai hadiah 77 tahun Indonesia merdeka,” tutup Syafarudin.

Sekilas Tentang Kitab Negarakertagama

Sebagaimana dikutip dari laman Kompas.com, Kitab Negarakertagama merupakan salah satu peninggalan Kerajaan Majapahit dalam bidang sastra.

Kitab Negarakertagama ditulis oleh Mpu Prapanca, yang kemudian menjadi sumber sejarah yang begitu dipercaya.

Naskah kitab ini selesai ditulis dalam Bahasa Kawi pada bulan Aswina tahun Saka 1287 (September – Oktober 1365 Masehi).

Dari maknanya, Negarakertagama artinya negara dengan tradisi spiritual.

Oleh Mpu Prapanca, kitab ini juga disebut sebagai Desawarnana, yang berarti tulisan tentang daerah Majapahit.

Mpu Prapanca adalah putra seorang Darmadyaksa Kasogatan (pemimpin urusan Agama Buddha) yang diangkat oleh Sri Rajasanagara sebagai pengganti ayahnya.

Penulis: Muhammad Jauhari Fatria

Comment