Mengungkap Makna MTQ XXX Bersama Pangeran Ratu Kertanegara Kerajaan Matan

KalbarOnline, Ketapang – Penyelenggaraan MTQ ke-XXX tingkat Provinsi Kalbar di Kabupaten Ketapang tak sekedar dimaknai sebagai ajang kompetisi seni belaka, namun lebih jauh dari itu, MTQ sebagai anak kayuh yang melanjutkan syiar Islam yang titik tolaknya sudah dimulai berabad-abad lalu oleh Kerajaan Matan.

Dalam momen perhelatan MTQ ke-XXX, KalbarOnline.com berkesempatan berbincang sekaligus mewawancarai Raja dari Kerajaan Matan yang bergelar Pangeran Ratu Kertanegara, Gusti Kamboja.

KalbarOnline.com pun meminta tanggapan pria yang pernah menjabat selaku Ketua DPRD Ketapang itu, terkait pandangannya soal makna dari kegiatan MTQ dalam perspektif Kerajaan Matan sebagai pusat kerajaan Islam di Kalimantan.

“Yang pertama adalah tentang syiarnya, syiar agama Islam. Bahwa sebagai Kesultanan Kerajaan Matan sangat senang bahwa Ketapang dapat menjadi tuan rumah untuk membangkitkan kembali syiar Islam di Tanah Kayong atau Kabupaten Ketapang,” ujarnya.

Terkait hal ini, Gusti Kamboja selaku mewakili pihak kerajaan sangat berterimakasih kepada pemerintah kabupaten maupun provinsi yang telah mempercayakan pelaksanaan MTQ ke-XXX di Kabupaten Ketapang.

Lebih lanjut, berkaitan dengan pelaksanaan MTQ, Kerajaan Matan turut memberikan masukan tentang penamaan dua panggung mimbar tilawah MTQ XXX Provinsi Kalbar di Ketapang. Dimana ia menjelaskan, seni bina atau arsitektur mimbar tilawah disebut pula dengan arsitektur “Balai Belubur”–yang mengadopsi seni bina lumbung padi dan rumah tradisional satu bumbung masyarakat Ketapang pada abad 18.

“Tiga kelompok Balai Belubur mimbar tilawah melambang peradaban hulu, tengah dan hilir daerah aliran Sungai Pawan Ketapang,” ungkap Gusti Kamboja.

Ia menjelaskan, bahwa pada masa Kesultanan Matan, konsep 3 peradaban ini dilekatkan pada gelar bangsawam yaitu Sultan Akhmad Kamaluddin (1790 – 1792) yang juga bergelar Panembahan Tiang Tiga, yang dimaknai untuk menyanggah dan mengayomi tiga peradaban Sungai Pawan tersebut.

BACA JUGA:  Jelang Pembukaan MTQ Tingkat Provinsi, Polres Ketapang Gelar Patroli Gabungan Skala Besar

Sementara untuk makna panggung VIP MTQ XXX Provinsi Kalbar yang disebut Sri Mahligai Peranginan–dengan model balerung panggung atap limas berkubah rongga–mengadopsi arsitektur Istana Keraton Matan Tanjungpura dan arsitektur masjid abad 19 di Ketapang.

“Seni bina atau arsitektur Sri Mahligai Peranginan menggambarkan ketaatan masyarakat menjalankan perintah agama serta kedekatan pemerintah, alim ulama dan masyarakat yang ditunjukan oleh tiga buah bangunan balerung terbuka yang mengapit panggung,” terangnya.

“Hal ini sesuai yang dibacakan wakil Bupati Ketapang atau Ketua Panitia Pelaksana MTQ ke-30, Farhan, saat membuka MTQ tingkat Provinsi Kalbar di Stadion Panglima Tentemak,” tambahnya.

Pusat Penyebaran Islam di Kalimantan

Gusti Kamboja menyampaikan, bahwa Ketapang yang dulunya dikenal sebagai Kerajaan Matan merupakan salah satu pusat penyebaran Islam di Kalimantan.

Ia menyebutkan, kalau wilayah geografis Ketapang dulunya merupakan pusat Kerajaan Tanjungpura yang merupakan salah satu negara tertua di Nusantara dan memiliki hubungan perdagangan dengan Timur Tengah, China dan Eropa.

Oleh karenanya, sejak dahulu kata dia, Ketapang merupakan daerah yang terbuka bagi siapapun, termasuk terbuka oleh budaya dan agama, yang datang silih berganti di daerah ini.

“Agama Islam misalnya, diketahui sudah ada di Ketapang setidaknya mulai abad 8–sebagaimana yang dilaporkan dalam kronik China, Chau Ju-Kua, bahwa pada tahun 977 M, kerajaan Tan-jung wu-lo (Tanjungpura) di Borneo bagian barat mengirim utusan bernama P’u A-li ke Istana China. Menurut Azra, Hirth dan Rockhil, P’u A-li sangat mungkin seorang pedagang muslim yang sebenarnya bernama Abu Ali,” paparnya.

Hal ini diperkuat pula dengan sejarah Dinasti Sung (960 – 1279 M) buku 489 yang juga melaporkan bahwa pada tahun 977 M, kerajaan Tanjungpura mengirim 3 utusan ke istana Sung, yang salah satu diantaranya bernama P’u lu hsieh (Abu Abd Allah).

BACA JUGA:  "Perahu Lancang Kuning" Kafilah Pontianak Arungi Jalanan di Ketapang

“Jejak peradaban Islam di Ketapang juga dapat diketahui melalui tinggalan arkeologi prasasti makam Keramat Tujuh yang bertarikh 1363 Saka (1437 M),” ujarnya.

Pada prasasti Nisan Keramat Tujuh, sambung Gusti Kamboja, selain terdapat enkripsi Sansekerta juga terdapat aksara Arab, yang menunjukan bahwa pada abad ke 14, Islam di Ketapang sudah berkembang tetapi masih dipengaruhi peradaban Hindu.

“Benang merahnya peradaban di Ketapang pusatnya ada di Sungai Pawan, mulai dari hilir sampai hulu, kemudian sub Daerah Aliran Sungai (DAS)-nya, seperti Sungai Senyap, Laur, Bengaras dan Begini serta lainya,” katanya.

Terakhir, sebelum menutup perbincangan, KalbarOnline.com sempat menyinggung soal pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak tahun 2024 mendatang. Apakah Gusti Kamboja sebagai sosok populer dan tokoh yang juga dapat dibilang sebagai representasi umat Muslim di Ketapang tersebut tertarik untuk maju mencalonkan diri.

Menanggapi hal ini, pria yang dilantik menjadi raja di Kerajaan Matan pada tahun 2009 dan juga sebagai pewaris kerajaan Melayu terbesar di Kalbar ini menyebut kalau dirinya saat ini tidak aktif lagi di dunia politik praktis. Adapun ianya kini hanya sebagai penasehat di beberapa organisasi kebudayaan.

“Kalau di pilkada perkembangannya agak dinamis di Ketapang ini. Masyarakat Ketapang yang terbuka ini menerima, siapapun akan diterima asal tidak rasis,” tuturnya sembari mengaku kalau sampai saat ini dirinya masih belum ada rencana untuk kembali maju di gelanggang pilkada tahun 2024.

Penulis: Muhammad Jauhari Fatria.

Comment