Peresmian Jembatan Korek, Sutarmidji: Dulu Jalan di Sini Seperti “Shirathal Mustaqim”

KalbarOnline, Kubu Raya – Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji meresmikan pembangunan Jembatan Korek yang terletak di Desa Korek, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Minggu (08/08/2023).

Sutarmidji menyebut, bahwa keberadaan jembatan ini sangat bermanfaat guna membuka keterisoliran masyarakat sejumlah desa di wilayah Kecamatan Sungai Ambawang.

Sangking pentingnya jembatan ini, Sutarmidji bahkan mengaku telah mencanangkan pembangunannya sejak awal-awal masa dirinya menjabat selaku Gubernur Kalbar.

“Dulu ini daerah terisolir padahal desanya sangat luas dan potensinya sangat bagus, lalu pesantren banyak sekali disini. Waktu itu awal-awal (menjabat gubernur, red) saya suruh untuk membuat rancang untuk bangun jembatan supaya membuka akses. Kita buat jembatan, maka akses warga akan terbuka,” ujar gubernur.

Ia turut mengenang betapa sulitnya kondisi masyarakat di sejumlah desa sebelum jembatan ini berdiri. Ia menggambarkan, bagi kendaraan yang melalui jalan tersebut, bagaikan berjalan di “shirathal mustaqim” saja, sangking rawannya kondisi jalan saat itu.

“Dulu mobil ini jalannya ‘shirathal mustaqim’, sekarang sudah bisa dua mobil parkir. Pembangunan jembatan ini insentif dari Pemerintah Provinsi Kalbar untuk enam desa ini yang memang membutuhkan,” kata Sutarmidji.

Sutarmidji menjelaskan, adapun 6 desa yang terhubung dengan adanya Jembatan Korek ini diantaranya Desa Korek, Desa Simpang Kanan, Desa Pugug, Desa Bengkarek, Desa Pasak dan Desa Pasak Piang.

“Ini sebetulnya bukan urusan (pemerintah) provinsi, tapi saya melihat memang harus disentuh, kalau tidak disentuh susah. Ini sentuhan sedikit, tapi bayangkan 6 desa terbuka aksesnya,” tuturnya.

Tak hanya itu, keberadaan Jembatan Korek tersebut juga membuat harga nilai jual aset warga sekitar menjadi tinggi. Sehingga pada gilirannya, Pemkab Kubu Raya akan mendapat BPHTB yang besar pula–saat masyarakat melakukan jual beli terhadap aset atau tanahnya.

“Pengalaman saya ketika membangun Jalan Karet Dalam ke Berdikari, investasinya sekitar Rp 21 hingga Rp 25 miliar, lalu begitu itu (jalan) jadi, kemudian lahan disitu dijadikan perumahan, mungkin BPHTB-nya sudah empat kali lipat dari investasi,” katanya.

Sutarmidji mengatakan, keterbukaan terhadap keterisoliran wilayah dapat menjadi salah satu strategi pemerintah daerah untuk meningkatkan PAD. Sebagaimana yang ia jelaskan di atas, pemerintah harus mau membangun infrastruktur, utamanya akses jalan.

“Kalau mau PAD naik gampang, dengan tingkatkan infrastruktur. Jembatan ini sangat membantu warga, dulu mereka harus menyeberang (sungai) dan membutuhkan waktu cukup lama, lalu masyarakat sini banyak yang mampu beli mobil, tapi mau disimpan dimana? Sekarang sudah bisa,” katanya.

Selain itu, sejalan dengan semangat pemerintah untuk membuka keterisoliran warga dengan menggenjot infrastruktur, orang nomor satu di Provinsi Seribu Sungai itu juga berharap, agar pihak-pihak swasta atau perusahaan yang berinvestasi di Kubu Raya dapat pula mendukung dengan melakukan pengerasan jalan bagi akses masyarakatnya.

“Ini kan banyak sawit, minta (perusahaan) perkebunan, dengan adanya jembatan ini transportasi mereka makin lancar, maka mereka harus bantu perkerasan jalan lewat CSR,” harapnya.

Terkait dengan prosesi peresmian sendiri yang diselenggarakan cukup sederhana, Sutarmidji menyatakan, bahwa dirinya senang ketika masyarakat merasa senang dengan hasil yang dikerjakan pemerintah.

“Saya kalau meresmikan segala sesuatu tidak perlu ramai-ramai, (cukup dihadiri) masyarakatnya saja,” ucapnya. 

Di tempat yang sama, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Provinsi Kalbar, Iskandar Zulkarnaen mengatakan, sebelum adanya Jembatan Korek ini, masyarakat di 6 desa tersebut melakukan interaksi sosial dan ekonominya dengan menggunakan sarana transportasi air, yaitu motor air sederhana atau biasa disebut dengan motor klotok dan sampan bermesin.

Namun kini, sambung Iskandar, dengan keberadaan Jembatan Korek tersebut, warga di desa-desa itu akan semakin mudah membawa hasil pertanian mereka ke tempat pemasaran. Sehingga akan ada nilai tambah ekonomi yang baik pula dari masyarakat lewat investasi infrastruktur ini.

Baca Juga :  Deklarasi Rakyat Midji-Norsan, Ini Pidato Politik Wasekjen DPP Golkar

Selanjutnya, Iskandar meminta masyarakat untuk turut terlibat dalam menjaga jembatan yang telah dibangun Pemprov Kalbar tersebut. Terutama untuk memperhatikan tonase kendaraan yang melewati jembatan Korek Pasak.

“Pada saat ada kendaraan dengan tonase melebihi, maka warga harus menegurnya, lalu kalau ada yang berniat mempreteli rangka jembatan ditegur juga,” pesannya.

“Idealnya sekitar 8 ton, kita berharap umur layanan jembatan ini bisa 20 tahun,” tambahnya.

Iskandar juga meminta adanya keterlibatan Pemkab Kubu Raya untuk membangunkan akses penunjang jembatan tersebut. Sehingga keberadaan jembatan yang ada akan semakin maksimal dirasakan masyarakat di 6 desa di Kecamatan Sungai Ambawang.

“Dengan jembatan ini maka akan berdampak nilai ekonomi bagi masyarakat,” ungkapnya.

Untuk selanjutnya, Iskandar menyampaikan, bahwa jembatan tersebut akan dihibahkan ke Pemkab Kubu Raya.

Gubernur Kalbar, Sutarmidji menandatangani prasasti peresmian Jembatan Korek, Minggu (08/08/2023). (Foto: Jauhari)
Gubernur Kalbar, Sutarmidji menandatangani prasasti peresmian Jembatan Korek, Minggu (08/08/2023). (Foto: Jauhari)

Serasa Mimpi di Siang Bolong

Kepala Desa Pasak Piang, Surip mengungkapkan, bahwa keberadaan Jembatan Korek ini sememangnya telah sangat didamba-dambakan oleh masyarakat sejak lama. Alhasil, dengan diresmikannya jembatan itu hari ini oleh Gubernur Kalbar, Sutarmidji, dirinya seolah serasa sedang bermimpi.

“Kita bahkan merasa mimpi di siang bolong jembatan ini akan ada. Namun berkat kerjasama dari aspirasi masyarakat paling bawah. Jalan (akses) ini pondasi utama pembangunan 6 desa. Dengan aspirasi dari masyarakat paling bawah didengar orang nomor satu di Provinsi Kalbar,” ungkapnya seraya bersyukur.

Surip turut mengisahkan, bagaimana masyarakat dulunya sangat kesulitan terhadap keterisoliran yang ada. Ia menyatakan, suatu waktu pihaknya pernah mengundang Gubernur Sutarmidji untuk datang ke desanya. Ia pun bersyukur, gubernur langsung mendengarkan aspirasi masyarakat terkait infrastruktur.

“Dulu Pak Gubernur pernah kita undang di Desa Pasak, jembatan tidak ada, jalan masih “shirathal mustaqim“. Untuk ke Kota Pontianak (warga desa) sangat sulit, dengan jalan banyak lobang, duri dan lainnya. Bahkan banyak korban di penyebrangan, seperti motor jatuh ke sungai dan lainnya,” kenang Surip. 

Kini, mewakili masyarakat desanya, Surip mengaku sangat senang, bahwa harapan masyarakat untuk memiliki akses penghubung akhirnya benar-benar terwujud di tangan seorang pemimpin yang peduli.

“Mimpi di siang bolong pada hari ini menjadi sebuah kenyataan, berkat kerjasama informasi dari bawah dan pemimpin kita (gubernur) peduli. (Sutarmidji) pemimpin yang selalu ingat dan peduli,” kata Surip.

“Dulu petani membawa hasil pertaniannya sulit karena jalan rusak dan tidak ada jembatan. Tetapi hari ini, dengan keberadaan jembatan, semua menjadi semakin lebih mudah,” tambahnya.

Terakhir, Surip pun berharap agar Provinsi Kalbar dapat dikaruniai sosok pemimpin seperti Sutarmidji pada pemilihan umum (2024) mendatang, yang peduli dengan aspirasi masyarakat bawah.

“Ini program dari pemerintah Provinsi Kalbar, saya berharap, kita sama-sama saling mendoakan, semoga kita diberikan pemimpin seperti Pak Sutarmidji yang peduli dengan masyarakat kalangan bawah,” tutur Surip.

Dulu dan Sekarang Kentara Bedanya

Jumat, salah seorang warga Desa Korek mengaku, adanya perbedaan yang kentara–sewaktu sebelum dan sesudah adanya Jembatan Korek. Utamanya dari sisi kemudahan dan efisiensi waktu.

“Kalau ngikut zaman lalu, memang kita kesulitan transportasi, harus menyebrang sungai, jadi menghambat perjalanan. Semenjak ada jembatan ini perjalanan kita semakin cepat ke tujuan, dan jalannya semakin nyaman untuk dilewati,” ucapnya kepada wartawan.

Seraya bersyukur, Jumat mengaku senang bahwa jembatan sebagai akses penghubung masyarakat dalam melakukan kegiatan-kegiatan sosial ekonomi kini telah terpampang di depan mata.

Baca Juga :  Seluruh Desa di Kubu Raya Terapkan Transaksi Non Tunai, Pertama di Indonesia

“Jadi kita masyarakat merasa sangat terbantu dengan adanya jembatan ini. Beda sekali ketika ada jembatan dan sebelum. Kalau sebelum ada jembatan kita harus mengantri hampir setengah jam di motor air. Kalau sekarang tidak sampai lima menit sudah bisa lewat, jadi sudah dipersingkat sekali waktu perjalanan kita,” tuturnya.

Ke depan ia pun berharap, agar keberadaan Jembatan Korek ini juga bisa disusul dengan perbaikan-perbaikan infrastruktur lainnya.

“Ini sudah mantap, tinggal perbaikan saja, mudah-mudahan jalan yang di depan masih belum bagus juga bisa dibenahi,” ucap Jumat.

Gubernur Kalbar, Sutarmidji berfoto bersama masyarakat setempat usai meresmikan pembangunan Jembatan Korek, Minggu (08/08/2023). (Foto: Jauhari)
Gubernur Kalbar, Sutarmidji berfoto bersama masyarakat setempat usai meresmikan pembangunan Jembatan Korek, Minggu (08/08/2023). (Foto: Jauhari)

Ribuan Terima Kasih Kami Ucapkan

Keberadaan Jembatan Korek yang diresmikan oleh Gubernur kalbar, Sutarmidji, pada Minggu (08/08/2023), mendapat sambutan suka cita dan ungkapan syukur dari berbagai kalangan masyarakat di Kabupaten Kubu Raya. 

Tak terkecuali oleh Anggota DPRD Kubu Raya, Rohmad. Mewakili masyarakat Kubu Raya, khususnya masyarakat di daerah pemilihan (dapil)-nya, Kecamatan Ambawang dan Kuala Mandor, ia mengucapkan ribuan terima kasih kepada Gubernur Kalbar, Sutarmidji. 

“Kami Anggota DPRD Kubu Raya, khususnya dapil 6, Ambawang dan Kuala Mandor, mengucapkan ribuan terima kasih kepada Pak Gubernur, karena terbukanya akses ini melalui jembatan, kita bisa membantu masyarakat yang selama ini terisolir,” terangnya.

Rohmad berkomitmen, bahwa pembangunan khususnya bidang infrastruktur akan terus digenjot oleh pihaknya. Ia mengaku, minimnya anggaran menjadi salah satu faktor kunci dalam melakukan percepatan pembangunan di wilayah Kubu Raya.

“Tinggal yang menjadi tanggung jawab (pemerintah) kabupaten yaitu jalan, Insya Allah tahun depan kita lanjutkan. Tahun kemarin cuma dapat Rp 1 miliar, mudah-mudahan berlanjut. Jalan masuk sudah di-handle (ditangani) provinsi. Kalau jalan setelah jembatan (kabupaten) itu sekitar 27 kilometer,” ungkapnya.

Terkait dengan keberadaan Jembatan Korek sendiri, Rohmad menjelaskan, tentu akan sangat membantu membuka keterisoliran akses darat bagi warga yang tinggal di 6 desa, Kecamatan Sungai Ambawang.

“Di dalam ini ada 6 desa, masing-masing desa itu sekitar 4000-an jiwa, secara keseluruhan ada 27 ribu lebih di dalam (6 desa). Mayoritas warga bekerja sebagai petani karet, tapi karena karet anjlok, banyak yang beralih ke petani sawit dan bekerja ke kota sebagai kuli bangunan,” katanya.

Dengan terbukanya akses ini, lanjut Rohmad, para warga yang bekerja bangunan setiap hari sekarang sudah bisa pulang pergi. “Kalau dulu kan harus punya rumah di kota atau ngontrak, numpang tempat keluarga. Dengan terbukanya akses ini, kan sekarang sudah bisa pulang pergi,” ucapnya.

Mengenai arahan Gubernur Kalbar yang meminta adanya peran aktif dari pihak swasta atau perusahaan, Rohmad menyatakan DPRD Kubu Raya tentu akan menindaklanjuti hal tersebut.

“Ke depan kita akan menemui pihak perusahaan sawit guna ikut membantu pemerintah daerah untuk membangun jalan, karena kalau kita mengharapkan dari APBD, memang agak sulit untuk cepat terbangunnya infrastruktur (jalan) di sini. Tadi kan sudah disampaikan Pak Gubernur,” terangnya.

“Yang pasti kita minta bupati dan jajarannya turut memperhatikan jalan yang jadi tanggung jawab kabupaten. Masa’ sih harus minta ke provinsi untuk jalan yang jadi tanggung jawab kabupaten,” sindir Rohmad menambahkan.

Seiring dengan itu, Rohmad pun berharap, agar pembangunan Jembatan Korek yang notabene merupakan bantuan dari pemerintah provinsi tersebut–dapat dijadikan pemicu dan motivasi bagi Pemkab Kubu Raya untuk fokus melakukan perbaikan jalan lainnya yang menjadi tanggung jawab pemerintah kabupaten.

“Sekarang kan sudah ada jembatan bantuan provinsi yang merupakan insentif untuk desa yang mandiri. Jadi kalau jalannya tolong diperhatikan kabupaten,” pungkasnya. (Jau)

Comment