Penyebab Gangguan Identitas Disosiatif atau Kepribadian Ganda

Para pecinta drakor tentu sudah pernah menonton Kill Me Heal Me. Di drama korea tersebut, Ji Sung memerankan karakter cowok dengan gangguan identitas disosiatif. Tidak tangggung-tangung, ada 7 (tujuh) kepribadian berbeda di dalam dirinya. Masing-masing kepribadian punya nama, ciri fisik dan karakter yang berbeda.

Geng Sehat mungkin bertanya-tanya kok bisa ya dalam diri seseorang mempunyai kepribadian yang berbeda-beda? Apa yang menyebabkan bisa timbul bermacam-macam kepribadian tersebut?

Baca juga: Tidak Hanya di Dalam Film, Masalah Kepribadian Ganda Benar-benar Ada!

Penyebab Gangguan Identitas Disosiatif

DID singkatan dari Dissociative Identity Disorder atau dalam bahasa Indonesia disebut sebagai Gangguan Identitas Disosiatif. Disosiatif sebenarnya merupakan mekanisme “coping” di mana seseorang menggunakannya untuk melepaskan diri atau menghindar dari stres atau kenangan traumatik. Disosiatif dapat juga digunakan sebagai mekanisme pertahanan diri terhadap rasa sakit fisik dan atau mental yang dialami.

DID atau gangguan identitas disosiatif merupakan salah satu bentuk gangguan disosiatif, selain dari Dissociative Amnesia, Dissociative Fugue, and Depersonalization Disorder. Prevalensi DID di seluruh dunia adalah sekitar 1 – 3% dari populasi umum. Berdasarkan kriteria Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM 5), karakteristik utama Dissociative Identity Disorder (DID) adalah keberadaan setidaknya 2 (dua) kepribadian yang berbeda yang secara bergiliran mengambil alih atau kendali atas diri penderitanya.

Mengapa seseorang bisa mengalami DID? Studi menyebutkan jika DID ada hubungannya dengan pengalaman yang luar biasa, peristiwa traumatis, kekerasan fisik dan/ atau pelecehan yang terjadi di masa kanak-kanak, terutama sebelum usia 5 (lima) tahun.

Karena pengalaman ini, seseorang kemudian menciptakan mekanisme pertahanan diri (self-defence mechanism) dengan cara menciptakan kepribadian lain di luar kesadarannya dengan tujuan agar dia terlepas dari rasa trauma yang dialaminya.

Baca Juga :  Dua Pasien Covid-19 Dirawat di RSUD Soedarso, Harisson Minta Kepala Daerah Siaga

Baca juga: 4 Cara Menghilangkan Trauma Masa Lalu

Kepribadian lain yang tercipta umumnya berbeda bahkan bertolak belakang dari kepribadian utamanya. Transisi dari satu kepribadian ke kepribadian lain umumnya dipicu oleh stress, ketakutan atau kemarahan. Alter ego (diri kedua) akan mengambil alih kesadaran penderita sehingga penderita menjadi pribadi lain dengan nama, usia, karakter bahkan jenis kelamin yang berbeda.

Seseorang yang baik, sopan, taat aturan saat dia berubah, dapat menjadi seseorang yang kasar, pemarah bahkan melakukan tindakan melanggar aturan, saat alter ego mengambil alih kesadarannya. Dan pada saat dia kembali, ketika ditanya apa yang telah terjadi dan yang telah dilakukannya, dia tidak dapat mengingatnya, yang disebut sebagai amnesia.

Penderita DID umumnya merasakan sakit kepala pada saat kepribadian lain muncul. Penderita DID sulit untuk mengenali dirinya sendiri dan sering mengalami kebingungan karena sering tidak menyadari apa yang sudah dilakukan. Penderita DID juga sulit untuk menjalani hubungan dengan orang lain karena ketidakstabilan emosinya.

Jika tidak ditangani serius, individu dengan DID cenderung mengalami gangguan kecemasan, depresi. melakukan tindakan yang cenderung melukai dirinya sendiri atau terjerumus ke dalam pengguaan alkohol dan narkoba.

Baca juga: 5 Gangguan Makan yang Paling Sering Dijumpai

Apakah Gangguan Identitas Disosiatif Bisa Disembuhkan?

Apakah DID bisa disembuhkan? Perubahan kepribadian yang secara tiba-tiba sering tidak disadari penderitanya sehingga penderita DID cenderung tidak menyadari penyakitnya.

Baca Juga :  Orgasme saat Hamil, Berbahayakah?

Oleh karena itu, peran keluarga dan orang-orang terdekat penting dalam hal ini. Deteksi dini dan penanganan yang tepat dapat mencegah penderita DID melakukan hal-hal yang dapat membahayakan orang lain juga dirinya sendiri.

Untuk menangani DID diperlukan terapi jangka panjang di mana tujuannya adalah untuk menyatukan kembali seluruh kepribadian yang terpecah. Kombinasi terapi antara lain psikoterapi, terapi perilaku dan pemberian obat-obatan merupakan pilihan terapi yang umumnya digunakan. Dukungan keluarga dan orang-orang terdekat diperlukan untuk membantu mengurangi trauma masa lalu penderita.

Walaupun menangani DID tidaklah mudah, bukan berarti tidak bisa. Dokter dan terapis harus dapat meyakinkan dulu penderita untuk dapat bekerja sama dalam penyembuhannya. Dukungan cinta kepada penderita dari orang-orang terdekat dapat mengurangi trauma masa lalunya sehingga dia dapat kembali ke pribadinya secara utuh.

Pencegahan DID adalah dengan menghindarkan anak dari situasi dan tindakan yang meningkatkan risiko seperti kekerasan, pelecehan, penelantaran anak. Jika seorang anak mengalami trauma, segera konsulkan ke dokter spesialis kejiwaan (psikiater) untuk penanganan dini dan mencegah perkembangan lebih lanjut.

Baca juga: Penyebab Krisis Identitas di Tengah Pandemi Coronavirus

Referensi

  1. Rehan M, Kuppa A, Ahuja A, et al. 2018. A Strange Case of Dissociative Identity l. Disorder: Are There Any Triggers?. Cureus. Vol. 10(7).p. e2957.
  1. David S, et al. 2013. Dissociative disorders in DSM-5. Annu Rev Clin Psychol. Vol. 9. p. 299 – 326.
  1. Dissociative Identity Disorder (Multiple Personality Disorder) http://traumadissociation.com/dissociativeidentitydisorder
  1. Fabiana F. 2019. Can You Recover from Dissociative Identity Disorder? https://psychcentral.com/lib/can-you-recover-from-dissociative-identity-disorder/

Comment