TV Komunitas Rebut Peluang di Era Televisi Digital

PONTIANAK – Televisi komunitas di Kota Pontianak siap merebut peluang membesarkan diri di era televisi digital. Jangkauan siaran yang meluas, bersih dan jernih, jadi modal penting untuk mulai memikirkan strategi bisnis.

Manajer Produksi dan Siaran SMK TV Pontianak, Syafrudin mengatakan pihaknya tengah membenahi struktur pengelolaan dan legalitas menyambut migrasi televisi. Komunitas televisi pendidikan yang mempunyai nama siar Edukasi Televisi (EdTV) ini, bahkan sudah memetakan konsep konten siaran dan bisnis. Pasalnya, jangkauan mereka meluas, dari yang sekadar di Pontianak pada zaman analog, melebar ke Kabupaten Kubu Raya dan Kabupaten Mempawah.

“Dengan kualias penerimaan yang lebih bagus, kami tinggal kelola konten. Ke depan kami memang harus berkembang, karena tv komunitas disamakan dengan tv bisnis, kewajiban dan jangkauannya,” jelasnya.

Sebelumnya, EdTV berorientasi pada gerakan sosial dan pendidikan. Mereka yang bergelut di dalamnya, didominasi siswa SMK dan orang-orang yang memang memiliki ketertarikan di dunia broadcasting. Tak ada anggaran khusus untuk kru dan produksi.

“Ke depan sudah harus berubah, mengingat kewajiban iuran yang harus dibayarkan tiap bulan,” katanya.

Era baru televisi digital memang mengharuskan perubahan manajemen di televisi komunitas. Namun alih-alih dirasa beban, EdTV yakin mampu bersaing. Dengan pasar dunia pendidikan di tiga kabupaten/kota, tentu membuat segmentasi bertambah.

“Pendidikan bukan hanya ruang lingkup sekolah. Berapa jumlah siswa dan guru yang dapat dijangkau. Apalagi sekarang musim belajar dari rumah,” yakinnya.

Baca Juga :  Perkembangan Proyek Tol Langit Palapa Ring Timur
TV Komunitas Rebut Peluang di Era Televisi Digital
Infografis STB untuk menikmati siaran digital dengan TV Analog (Sumber: Indonesia Baik)

 

Meluasnya siaran dengan gambar yang jernih, tak akan membuat EdTV harus mengeluarkan biaya operasional peralatan. Sehingga mereka bisa fokus untuk mencari sponsor lewat konten berkualitas. Biaya sewa mux pun yakin bisa dipenuhi.

Era baru televisi Indonesia ini dimulai dengan migrasi penyiaran dari saluran analog ke digital per Agustus 2021 hingga November 2022. Pengembangan teknologi penyiaran ini merupakan amanat Peraturan Menteri Kominfo Nomor 6 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Penyiaran. Di Kota Pontianak, selain televisi komunitas, ada pula televisi lokal.

Direktur Pontianak Televisi (PonTV), Anjang Mursalin mengatakan migrasi televisi merupakan keniscayaan. Persiapan mereka berjalan lancar. Dengan siaran ‘tanpa semut’, mereka siap menyajikan konten yang lebih kreatif dan inovatif.

“Sebenarnya migrasi ini ada plus minusnya. Kan ada beban biaya langganan kalau digital. Tapi profitnya beban listrik lebih berkurang, kemudian dari segi kualitas siaran lebih bersih, jernih dan canggih,” jelasnya.

PonTV yang berjejaring dengan Jawa Pos Grup ini siap menghadapi migrasi. Strategi sudah dirancang untuk meningkatkan penjualan. Pandemi Covid-19 sudah mengajarkan mereka banyak hal. Meski demikian, Mursalin berharap, biaya sewa mux bisa kembali dipertimbangkan pemerintah.

“Mungkin harganya lebih dimurahkan, dari Rp26 juta menjadi gratis selama satu tahun uji coba atau sampai Corona berakhir,” katanya.

Baca Juga :  Tanggapan Kominfo Terkait Pembubaran BPT Dan BRTI

Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPID) Kalbar, Iwan Kurniawan menjelaskan migrasi televisi akan membuat siaran di Kalbar makin baik. Selama ini, masih ada daerah yang tidak terjangkau siaran analog. Dengan siaran digital, semua memiliki kesempatan mendapat gambar yang jernih dan bersih. Tinggal bagaimana stasiun televisi bersaing menyajikan konten berkualitas.

“Televisi komunitas saya rasa akan lebih bagus, daya pancar mereka lebih luas. Sekarang (analog), kalau hanya menggunakan pemancar 100 watt misalnya, ruang lingkupnya paling kuat 20 kilometer,” sebut Iwan.

Dia yakin televisi komunitas dan lokal tak akan mendapat kendala berarti. Hanya saja, urusan biaya menyewa mux harus dipersiapkan jauh hari. Terutama bagi dua televisi komunitas di Kalbar, yakni EdTV dan Mujahidin TV.

“Cost sumber daya listrik sudah tidak menggunakan biaya besar, karena mereka tidak perlu pemancar, itu sudah ditanggung pemegang mux. Hanya mereka ada kewajiban membayar sewa mux. Ini yang coba kita kolaborasikan dan bridging-kan, mudah-mudahan bisa dapat diskresi,” katanya.

Iwan Kurniawan menekankan pengembangan konten yang kreatif dan inovatif untuk semua stasiun televisi.

“Ini kan industri kreatif. Kalau kita tidak kreatif tentu akan tertinggal. Selesai. Tentu harus kreatif, inovasi, dalam berbagai acara yang disajikan,” katanya.

Comment