Wakil Bupati Sambas, Hj Hairiah, Saat Melakukan Panen Padi di Desa Matang Labong (Foto: Mur/Hms)
Wakil Bupati Sambas, Hj Hairiah, Saat Melakukan Panen Padi di Desa Matang Labong (Foto: Mur/Hms)

KalbarOnline, Sambas – Wakil Bupati Sambas, Hj Hairiah SH., MH, panen padi di Desa Matang Labong, Kec Tebas, Rabu (22/2). Wabup didampingi Kadis Pertanian dan Ketahanan Pangan, Musanif dan Mantan Camat Tebas, Heriyanto. Panen padi metode Hazton tersebut adalah hasil gabungan kelompok tani usaha bersama Desa Matang Labong Kecamatan Tebas.

Suka cita panen sangat antusias disambut warga sekitar. Warga secara bergotong royong memeriahkan panen padi. Berbagai hidangan tradisional khas menyambut panen padi disajikan bagi tamu dari kabupaten dan warga sekitar lokasi panen.

Diantaranya jagung rebus, air kelapa, pisang segar dan pisang rebus, pepaya, dokok-dokok atau kue tradisional yang terbuat dari ubi kayu, maupun amping rateh yang terbuat dari perpaduan parutan kelapa, amping padi dan gula.

Untuk sajian makan siangnya, warga secara bergotong royong mulai dari urunan pembiayaan hingga mengolahnya secara bersama-sama. Hampir mirip dengan perhelatan acara kawinan warga di kampung-kampung. Sajian makanan juga sangat sederhana, tetapi dijamin mengundang selera makan.

Sajian yang disuguhkan warga Dusun Labong Ayu, Desa Matang Labong Kecamatan Tebas yakni canting pisang ditambah sambal khasnya, ayam bakar, ikan asin air tawar, gulai keladi, maupun oseng-oseng sayur dari pepaya. Terlihat para warga yang meramaikan panen padi sangat menikmati hidangan yang dihidangkan panitia.

Wabup dalam sambutannya mengatakan bahwa musim panen maupun tanam padi memiliki daya tarik dan nilai budaya tersendiri bagi masyarakat Kabupaten Sambas.

Kata dia, jika dikelola dengan serius dan baik, momentum panen dan tanam padi bisa dijadikan ajang menarik wisatawan ke Kabupaten Sambas.

“Kegiatan panen seperti ini, jika kita kemas dengan sebaik-baiknya, saya yakini bisa menarik minat wisatawan untuk berkunjung ke Sambas, kegiatan seperti ini bisa melepaskan lelah dari akitifitas rutinitas kerjaan,” ujar dia.

Ia juga menjelaskan bahwa pengalaman memanen padi, akan menjadi sangat berkesan bagi yang belum pernah melakukannya. Ia menuturkan bahwa banyak rangkaian kegiatan dari panen padi yang dapat dikemas menjadi objek wisata.

“Setelah panen, kita bisa ajak para wisatawan untuk melakukan amping padi, dengan tradisi alok galling, tentunya ini sangat menarik,” tukasnya.

Menurut Hairiah, tradisi ngamping padi dengan alok galling mempunyai nilai filosofi yang menggambarkan bahwa masyarakat Sambas adalah masyarakat yang menyenangi kerjasama dan gotong royong.

Ia menuturkan bahwa alok galling mempunyai makna yang mendalam bagi kehidupan bermasyarakat.

“Bisa kita lihat saja dari cara menumbukkan aloknya, harus berkesinambungan, harus terjadi keselarasan dan keserasian antara satu orang dengan yang lainnya, dan menimbulkan harmonisasi nada yang bagus. Tidak terjadi bentrokan, ini yang harus kita terapkan dimasyarakat, semangat kebersamaannya, saling serasi dan toleransi dan tentunya saling menjaga kekompakan,” paparnya.

Hal senada juga dituturkan Kadis Pertanian dan Ketahanan Pangan, Ir Musanif. Dalam sambutannya, ia mengatakan bahwa keberhasilan pembangunan pertanian, adalah bagian dari usaha keras para petani. Satu diantaranya menurut dia yakni menghadirkan kerjasama, kebersamaan dan kekompakkan.

“Kunci dari semua program pertanian adalah dari petaninya sendiri. Sesama petani harus saling kerjasama, kebersamaan perlu dijaga dan kompak,” ujarnya.

Musanif menyampaikan bahwa Pemerintah Daerah Sambas sangat mengapresiasi dan berterima kasih atas kinerja para petani Sambas. Diterangkannya, dengan beberapa program yang masuk di Sambas, diantaranya Hazton maupun Teknologi Jajar Legowo, intinya adalah di petani.

“Semua itu tergantung pada petaninya, bagaimana kemampuan mereka menyerah alih teknologi yang digunakan. Permasalahan lain yang memberikan dampak pada hasil peningkatan usaha pertanian yaitu ketersediaan lahan hingga masalah serangan hama,” jelasnya.

Di musim penghujan, diakui Musanif, hambatan lebih memunkinkan terjadi, baik serangan hama tikus, blas, hama wereng hingga ulat. Cara mengatasinya, diterangkan Kadis, dengan cepat mengendalikannya dan melokalisir lahan yang terkena serangan hama.

“Jika memang sudah masuk waktu panen atau usia masak kuning yakni sekitar masak 80 persenan, petani kita arahkan secepatnya melakukan panen,” pungkasnya. (Mur/Hms)

Print Friendly, PDF & Email

LEAVE A REPLY