Wakil Bupati Sintang, Askiman Dalam Acara Gawai Nyelapat Taun Dayak Sekujam (Foto: Sg)
Wakil Bupati Sintang, Askiman Dalam Acara Gawai Nyelapat Taun Dayak Sekujam (Foto: Sg)

KalbarOnline, Sintang – Gawai dilaksanakan untuk bersyukur kepada Tuhan atas rezeki yang diperoleh melalui hasil panen, kesehatan dan kelancaran proses selama berladang. Gawai juga dilaksanakan untuk melestarikan seni, budaya dan adat istiadat.

Hal ini disampaikan Wakil Bupati Sintang, Askiman saat menghadiri Gawai Nyelapat Taun Dayak Sekujam di Desa Bedayan Kecamatan Sepauk pada Minggu, (28/5/2017).

“Saya mendorong Gawai juga memperkuat toleransi dan saling menghargai satu dengan yang lain. Kedepannya, pada saat gawai seperti ini seni budaya dari suku lain juga diberikan kesempatan untuk ditampilkan. Saya berpesan kalau ada hiburan pada malam hari, mohon dilaksanakan setelah saudara kita umat Islam melaksanakan Sholat Tarawih,” pesan Askiman.

“Masyarakat Sub Suku Dayak Sekujam harus selalu kompak dan melestarikan budaya gotong royong. Saya mendukung kalau dibangun rumah betang di Bedayan ini. Kami juga siap mendukung kelanjutan pembangunan betang di Desa Tawang Sari sampai selesai,” tambah Askiman.

Sementara Camat Sepauk, Cinghan menyampaikan bahwa Kecamatan Sepauk memiliki 40 desa dengan jumlah penduduk kurang lebih 54 ribu jiwa.

“Namun saat ini akan ada pemekaran kecamatan yakni Kecamatan Sepauk Tengah yang berpusat di Sirang Sitambang dan Kecamatan Sepauk Hulu dipusatkan di Sekubang. Kedepannya saya mengharapkan agar gawai semakin meriah dan bukan hanya untuk suku dayak saja tetapi semua suku bisa ikut memeriahkan,”pesan Cinghan.

Anggota DPRD Sintang yang turut hadir yakni, Agustinus Aci juga memberikan semangat supaya sub suku dayak Sekujam terus mengembangkan diri.

“Gawai sangat penting namun jangan sampai minum mabuk dan jangan sampai lama-lama. Gawai harus fokus untuk bersyukur kepada Tuhan atas hasil berladang. Tonjolkan juga seni budaya Dayak Sekujam. Kalau perlu gali seni budaya yang mulai dilupakan,” terang Agustinus Aci.

Dalam kesempatan tersebut, Bujin Tumenggung Wilayah VIII menyampaikan bahwa gawai ini untuk menutup dan memulai musim berladang.

“Gawai Nyelapat Taun dilaksanakan untuk membatasi masa berladang yang ada di Sub Suku Dayak Sekujam. Berhasil atau tidak hasil berladang, kita harus tetap bersyukur kepada Tuhan. Maka tadi acara kami awali kegiatan ini dengan menggelar ibadat di gereja, barulah acara adatnya digelar. Kami ingin warga Sub Suku Dayak Sekujam terus maju dan berkembang tanpa melupakan adat istiadat yang sudah ada sejak nenek moyang. Sebelumnya kami sudah melaksanakan ritual muat rampa semangat padi dan hari ini kita melaksanakan gawai nyelapat taun. Untuk melaksanakan gawai nyelapat taun, seluruh warga berpartisipasi untuk mensukseskan gawai. Tumenggung Wilayah VIII membawahi 6 desa yang sekarang sedang membangun betang di Desa Tawang Sari,” terang Bujin.

Osner Situmorang, selaku Ketua Panitia Gawai Nyelapat Taun menyampaikan pelaksanaan gawai ini untuk melestarikan adat istiadat yang dilaksanakan setiap tahun.

“Ini untuk menjaga generasi muda supaya tetap mengenal adat istiadatnya. Gawai dayak seperti ini jangan sampai diartikan untuk suka-suka saja, tetapi sebuah acara yang penuh arti dalam sejarah kehidupan masyarakat Dayakm” terang Osner Situmorang.

Pada acara tersebut, Wakil Bupati Sintang bersama masyarakat melaksanakan gerakan Tarian Gong Tajau yang mengelilingi teripak yang berisi tuak. Wabup juga diberikan kesempatan membuka tuak pamali yang sudah disiapkan di dalam tajau. (Sg)

Print Friendly, PDF & Email

LEAVE A REPLY