Nadya Juwita Ningsih (Foto: Adi LC)
Nadya Juwita Ningsih (Foto: Adi LC)

KalbarOnline, Ketapang – Seorang anak perempuan dari salah seorang pedagang di pasar Haji Bujang Hamdi Ketapang, menulis curhatannya di media sosial (Medsos) Fecebook, Selasa (17/10).

Hal ini lantaran takut ayahnya kehilangan mata pencarian akibat akan ditertibkannya pasar Haji Bujang Hamdi oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ketapang, karena tidak memiliki izin, berikut ini isi curhatan akun facebook ‘Nadya Juwita Ningsih’.

“Saya ananda dari Jamaludin. Saya dibesarkan dari nafkah perjuangan ayah saya menjadi seorang pedagang. Berkat ayah juga, Alhamdulillah saya dan adik bisa bersekolah, bahkan saya sekarang sudah menjadi seorang mahasiswa. Lebih dari 13 tahun ayah saya mencari nafkah dengan jalan berdagang.

Dari susah senang mulus dan liku-liku nya perjalanan hidup sudah kami lalui bersama.

Kami makan. Dari hasil berdagang.

Bahkan kami menabung hingga bisa membangun rumah sendiri yang saat ini kami tinggali.  Ayah saya hanya salah satu dari berapa banyaknya pejuang keluarga diluar sana. Tapi sekarang pekerjaan ayah dan rekan2 nya terancam hilang.. Tapi sekarang ayah dan rekan2 pedagang bisa saja menjadi pengangguran. Kenapa? Kenapa hal seperti ini bisa terjadi pada rakyat kecil, apa salah mereka, apa salah ayah ku. Mereka, pedagang. Mereka bukan pencuri! Mereka bekerja mencari nafkah untuk anak dan istri dirumah. Bukan KORUPSI mereka hanya mencari sesuap NASI. Begitu banyak impian di benak anak-anak mereka. Begitu besar rasa ingin mereka hidup nyaman di hari tua. Hingga demi anak2nya mereka rela pergi dari subuh hari untuk bekerja, bahkan disaat orang lain masih lelap di dalam tidur. Ayah ku,  hanya lah salah satu dari banyaknya yang ada diluar sana, yang hanya meminta KEADILAN  bukan komisi bemiliyaran !

Wahai pejabat petinggi diluar sana..

Ku mohon, bila kau membaca..

Tolong pahami..  Tolong renungkan..

Tolong resapi..  Apa bedamu dengan ayahku dan pedagang lainnya?  Kalian dimata ku hanyalah seorang lelaki,  kepala keluarga..  Seorang pemimpin yang bijaksana..  Seorang ayah yang sama2 mencari rezeki untuk anak2 nya..  Perbedaan antara pekerjaan kalian, kedudukan kalian, dan jabatan kalian, bukan lah apa2 dimataku..  Bagiku, kalian tetaplah seorang ayah.. Tetaplah seorang suami..

Wahai pejabat petinggi diluar sana..

Dengarkanlah keluh kesah rakyat kecil yang rela meronta demi secuil keadilan yang bahkan enggan engkau pandangi..

Dimana perasaan mu?  Hilangkah?  Lupakah engkau sebelum jadi orang terpandang dikursi itu, engkau juga dulu sama seperti mereka, engkau hanyalah rakyat biasa, sebelum kau berubah menjadi merasa tinggi disinggahsana.

Dengarkan lah tangisan orang tua kami..

Jika kau tak sudi memahami ..  Mau kah engkau sejenak saja memandangi? Tolong sebentar saja, pandangi wajah2 tua itu,  pandangi raut mereka memperjuangkan hak dan keadilan hidup mereka. Tak bisa kah mencari jalan terbaik selain memupus impian org tua dan masa depan anak mereka?

Mereka hanyalah rakyat kecil biasa.. Yang butuh pengertian. Berfikirlah,  jika jalan ini yang kalian anggap benar, taukah kalian berapa banyak hak rakyat yang kalian pupus?

Dari saya, seorang anak dari salah satu pedagang di Pasar Haji Bujang Hamdi, Ketapang, Kalimantan Barat, yang meminta hak dan keadilan untuk kedua orang tua saya”

Saat dihubungi KalbarOnline, gadis remaja bernama lengkap Nadya Juwita Ningsih (18) yang masih bertatus mahasiswa itu mengungkapkan bahwa dirinya sengaja menulis status tersebut.

“Saya menulis ini tulus dari hati. Sebagai anak, saya mungkin belum bisa memberikan apa-apa kepada orang tua, tapi saya tau perjuangan orang tua untuk menyekolahkan anak, menghidupi keluarga, Kalau ayah saya kehilangan pekerjaan, bagaimana nasib keluarga kami? terus bagaimana dengan pedagang lain yang cari nafkah dengan berdagang disana dan bagaimana dengan anak istrinya?,” tanyanya.

Ia berharap agar Pemkab Ketapang dapat menelaah kembali keputusan untuk menggusur pasar Haji Bujang Hamdi.

“Kalau pemerintah siap menggusur, harus siap juga menyediakan lapangan pekerjaan yang lebih baik atau tempat yang layak untuk pedagang, jangan sampai setelah penggusuran ini terjadi, pedagang malah jadi terkatung-katung,” pungkasnya. (Adi LC)

Print Friendly, PDF & Email

LEAVE A REPLY