Pengerjaan Jembatan Bansir Yang Terkesan Lambat dan Lalai Menjadi Sorotan Wali Kota Pontianak, Sutarmidji (Foto: Fai)
Pengerjaan Jembatan Bansir Yang Terkesan Lambat dan Lalai Menjadi Sorotan Wali Kota Pontianak, Sutarmidji (Foto: Fai)

Sutarmidji: Jangan alasan cuace jak teros

KalbarOnline, Pontianak – Wali Kota Pontianak, Sutarmidji berharap pembangunan Jembatan Bansir segera rampung.

Dirinya khawatir akibat pembangunan proyek milik Dinas Pekerjaan Umum (PU) Provinsi Kalbar tersebut berdampak pada jalan dan jembatan lainnya yang akan rusak akibat dilalui kendaraan besar yang tidak semestinya melintas.

“Saya harap Jembatan Bansir itu segera dipercepat pembangunannya, apakah mereka tidak mikir kalau Jalan Ahmad Yani itu nantinya akan rusak karena dilalui tronton dan trailer besar dan jembatan lainnya bisa rusak juga dan itu akan memakan biaya yang lebih besar,” tukasnya, seperti dikutip dari Pontianak.tribunnews.com.

Kendati Jalan Ayani milik negera, orang nomor satu di Kota Pontianak ini tetap meminta itu harus diperhatikan serta beberapa jembatan juga mesti perhatikan.

Selain itu untuk jalan yang berada di wilayah kewenangan kota, pihak Pemkot melalui Dishub akan mengawasi kendaraan yang melintas dan tidak boleh konvoi.

“Ayani itu jalan negara, kalau jalan kota kita batasi. Saya sangat khawatir jembatan yang ada akan ambruk, apakah itu memadai atau tidak, nah mereka ini konvoi beramai-ramai saat jalan. Kalau tidak konvoi tidak masalah, itu jadi masalah buat kita,” sesalnya.

Wali Kota dua periode ini juga menyayangkan mengapa Pemerintah Provinsi tidak sekaligus mengerjakan jembatan yang ada disepanjang jalan Imam Bonjol dan Adisucipto secara bersamaan.

Sebab, diungkapkannya, tahun depan akan ada lagi jembatan yang dibangun dan tidak hanya satu, masih ada dua jembatan. Sehingga problem yang akan terjadi sama persis dengan yang terjadi sekarang.

“Bangunan Jembatan Bansir dan dua jembatan lainnya lagi, seharusnya langsung tiga jembatan sekaligus. Itu kan ada tiga jembatan yang bermasalah sepanjang jalan Imam Bonjol dan Adisicipto, harusnya mereka mengerjakan langsung tiga-tiganya, sehingga tahun depan tidak terjadi lagi permasalahan semacam ini,” imbuhnya.

Dirinya juga meminta pada Dinas PU Kota Pontianak untuk turut mengawasi proyek tersebut dan berkoordinasi dengan PU Provinsi.

Sutarmidji menegaskan apabila pelaksana dan Dinas PU Provinsi beralasan cuaca maka hal tersebut tidak bisa terima.

“Masang tiang pancang itu ujan badai pun tidak ada masalah. Kecuali saat mengecor, tapi pengecoran saat hujan lebat pun tidak apa-apa karena ada terpal, kecuali mereka membuat jembatan selebar lapangan bola,” bebernya.

“Itukan cuma berape kali berape, pakai payung pun bisa. Kalau proyek itu dibawah kendali kota sudah saya ganti itu pelaksananya. Makanya saya kalau hal-hal vital itu saya liat betul itu pemborongnya siapa,” timpalnya.

Menurutnya kalau memang tidak kerdibel dan menunggu termin itu yang susah, kalau pemborong yang kredibel tidak akan menunggu termin.

Oleh Karena itu, APBD Pemkot walaupun sudah masuk triwulan keempat, karena mereka tidak menunggu termin dan mengambilnya uangnya satu kali saja.

“Pemborong yang biasa akan menunggu termin, ada uang dia kerja kalau tidak ada maka dia tidak kerja,” ungkapnya.

Untuk itu ia meminta para pejabat provinsi yang memiliki kewenangan dalam hak itu untuk berfikir kalau Jalan Ayani dan beberapa jembatan lainnya rusak, maka berapa banyak kerugian.

“Jembatan lainnya nanti yang rusak. Pengerjaan Bansir harus tiga ship kalau perlu 24 jam kerjanya. Apasih kerjanya tidak bisa 24 jam, kalau saya pemborongnya 24 jam saya kerjakan,” tandasnya. (Fai)

Print Friendly, PDF & Email

LEAVE A REPLY