Ketua MUI Kabupaten Ketapang, Drs H M Faisol Maksum, Saat Memberikan Pemaparan Pada Seminar Kebangsaan (Foto: Adi LC)
Ketua MUI Kabupaten Ketapang, Drs H M Faisol Maksum, Saat Memberikan Pemaparan Pada Seminar Kebangsaan (Foto: Adi LC)

KalbarOnline, Ketapang – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Ketapang, Drs H.M Faisol Maksum mengingatkan tentang pentingnya memupuk rasa cinta tanah air guna membentengi diri dari paham radikalisme dan intoleransi yang sedang berkembangan di negeri ini, ungkapan tersebut ia sampaikan saat memberikan materi pada seminar kebangsaan deradikalisasi di Aula Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al Haudl Ketapang, Sabtu (21/4).

“Jadi sangat perlu kita melakukan seminar seperti ini untuk memperkokoh nasionalisme kita sesuai dengan dalil ‘hubbul wathan minal iman’ atau cinta tanah air adalah bagian dari iman,” ungkapnya.

Menurut Ketua MUI yang juga pengasuh Pondok Pesantren Al Gufron ini, sikap cinta tanah air harus di bangun di semua lini, seperti pengucapan Pancasila dan menyanyikan lagu Indonesia Raya tidak hanya pada saat kegiatan upacara resmi kenegaraan atau pemerintahan atau saat peringatan HUT Republik Indonesia 17 Agustus saja, namun harus dinyanyikan dalam setiap acara sosial dan keagamaan.

“Bisa-bisa bangsa ini lupa pada negaranya sendiri, ini penting sekali kelihatanya enteng namun jangan main-main dengan lagu kebangsaan,” ujarnya.

“Kecintaan terhadap tanah air akan mempengaruhi perkembangan dan kemajuan suatu bangsa, jika nasionalisme kita semakin melemah jangan harap kita sebagai muslim dapat menjawab tantangan umat dan tantangan bangsa,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Ia menyampaikan bahwa bahaya paham radikalisme sudah berada di tengah kita, salah satunya radikalisme agama.

“Seperti pernah terjadi pada beberapa waktu lalu, ada orang tua yang datang meminta agar anaknya dapat dibimbing karena mengalami perubahan prilaku dalam keseharian baik beribadah maupun bersosialisasi akibat mengikuti salah satu majelis,” tuturnya.

“Setelah saya coba berdialog dan tes mengaji ternyata tidak bisa mengaji namun sudah pandai membid’ah-bid’ah, jadi ini salah satu cara mempengaruhi anak anak kita dengan dalih agama. Ini sudah ada di kita, bisa saja di sebut sebagai cuci otak jadi ini mesti kita luruskan agar tidak merusak pemuda kita,” ungkapnya.

Ia menjelaskan jika radikalisme agama ialah berlebih lebihan dalam memahami konsep keagamaan sampai melewati kebenaran, memaksakan kehendak dengan cara cara kekerasan dan teror untuk mencapai tujuannya, radikalisme seperti ini ada dua macam.

“Pertama radikal dalam pemikiran dan pemahaman maksudnya setiap kelompok islam yang tidak dapat bertoleransi dengan kelompok islam lainya hanya beda organisasi atau hanya beda pemahaman yang bersifat furu’iyah bukan perbedaan yang menyangkut aqidah. Kedua radikal dalam prilaku, kelompok ini mereka yang melakukan perusakan fisik dan pembantaian terhadap nyawa tanpa mempertimbangkan syarat-syarat dalam syariat perang,” jelasnya.

Dalam seminar kebangsaan yang mengangkat tema “Memperkokoh Wawasan Berkebangsaan Pemuda di Dalam Nilai Islam” tersebut juga dihadiri pembantu Ketua 1 Stai Al Hauld Ketapang, Dr Ucup Supriatna M.Pd dan Presiden Asean Muslim Students Association (AMSA) ASEAN, Sapwan Noor.

Senada dengan Ketua MUI Ketapang, Presiden AMSA Asean juga memaparkan tentang bahaya paham radikalisme dan intileransi yang menyasar pemuda pemudi bangsa ini.

“Kata radikalisme itu muncul bukan dari Negara Islam melainkan dari Eropa yaitu britania raya pada tahun 1975 saat revolusi industri kemudian pada abad ke 18 peritiwa itu disematkan dengan kata radikal, namun sekarang kenapa kata radikal disematkan pada Islam, karena kita sendiri belum bersatu dan ngajinya juga belum pandai jadi penting bagi kita untuk memperbaiki ilmu pengetahuan agamanya kita yang baik,” ujarnya.

Ia mengatakan saat ini ada pihak-pihak yang menginginkan sumber daya alam Indonesia yang berlimpah sehingga mereka melakukan segala cara untuk mendapatkannya.

“Mereka tidak mungkin berperang melalui militer dengan kita jadi mereka melakukan dengan cara mengadu kita dengan isu-isu intoleran dan radikalisme dan targetnya adalah para pemuda pemudi Indonesia,” tukasnya.

Ia juga menjelaskan karena kita tidak mungkin di perangi dengan bom dan senjata maka kita dihancurkan dengan cara pikir dan propaganda melalui pemudanya alasanya jelas karena sumber daya kita berlimpah dan banyak negara yang membutuhkan sumber daya alam kita jadi mereka menghancurkan Indonesia melalui pemuda penerus bangsa.

“Sekarang dengan kemajuan teknologi mereka memanfaatkan itu untuk menyebarkan paham radikal dan intoleran melalui media sosial melalui berita bohong atau hoax maka para pemuda perlu berpikir yang ilmiah setiap kali mendapat informasi dari internet atau media sosial agar tidak terjebak pada paham-paham yang negatif,” pungkasnya. (Adi LC)

Print Friendly, PDF & Email

LEAVE A REPLY