KalbarOnline, Sintang – Solam Raya dulu hutan lebat dan semak belukar, tetapi sejak kehadiran warga transmigrasi, desa ini terus berkembang dan maju. Kami melihat Solam Raya sudah menjadi sentra perikanan dan pertanian serta mampu menjadi desa pendorong perekonomian. Demikian disampaikan Sekretaris Daerah Yosepha Hasnah saat menghadiri peringatan 34 tahun penempatan transmgrasi sekaligus ulang tahun Desa Solam Raya pada Minggu, 2 Oktober 2016 di Lapangan Sepakbola Solam Raya.

“kebijakan transmigrasi saat itu diharapkan mengatasi persoalan penduduk di perkotaan dan meningkatkan perekonomian bagi daerah tujuan serta pemerataan penyebaran penduduk. Pesan saya, agar masyarakat desa solam raya terus berkarya dan membangun kerjasama serta menghindari konflik. Manfaatkan juga Alokasi Dana Desa untuk membangun desa dengan sebaik-baiknya serta sejalan dengan prime mover Pemkab Sintang yakni membangun dari pinggiran.

Kami menganggap peringatan ini layak diteruskan ditahun mendatang sebagai bentuk rasa syukur masyarakat kepada Tuhan, meningtakan rasa gotong royong dan kebersamaan, melestarikan seni budaya lokal serta menjadi hiburan bagi masyarakat” terang Yosepha Hasnah.
Sekretaris Daerah Yosepha Hasnah beserta sejumlah kepala SKPD hadir dalam peringatan tersebut. Kehadiran Yosepha Hasnah di Desa Solam Raya disambut dengan Tarian Dayak dan Reog Singo Joyo Manggolo Desa Solam Raya.

Suhadi Ketua Panitia menjelaskan peringatan penempatan transmigrasi dan hari ulang tahun Desa Solam Raya penting untuk mengingatkan warga untuk terus bersama membangun solam raya. “Kami bersyukur, warga transmigrasi sudah tinggal di desa solam raya sudah 34 tahun dengan aman dan tenang, bisa bekerja dengan lancar dan dilimpahi rezeki. Kami ingin bersyukur, semua suku yang ada di Solam Raya bisa bersatu dan bekerjasama sesuai nilai ketiga pancasila” terang Suhadi.

Anus Kepala Desa Solam Raya menjelaskan bahwa transmigrasi di sini ada transmigrasi lokal dan dari pulau jawa. “Kehidupan masyarakat desa solam raya selama ini sangat tenang dan damai. Perbedaan yang ada harus menjadi modal untuk terus membangun desa” terang Anus.
Yanto Dole Mewakili Etnis Dayak Linoh memberikan kesaksian bahwa desa solam raya didiami masyarakat yang majemuk. Solam singkatan dari Sokek dan Laman Natai. Raya disebut karena ada berbagai suku. “Saudara kami dari Pulau Jawa datang ke desa kami pada 1982 supaya desa kami maju dan berkembang karena mereka membawa ilmu bercocok tanam.

Kami juga bisa mengikuti dan menimba ilmu bertani kepada mereka. Saya juga bangga karena sejak 1982 hingga sekarang, kita hidup damai dan bisa membangun desa. Perikanan, pertanian dan perkebunan juga sudah maju, namun kami masih memerlukan bantuan dan pembangunan dari Pemkab Sintang” terang Yanto Dolek.

H. Sawiji Mewakili Etnis Jawa menyampaikan penyebutan transmigrasi saat ini rasanya sudah tidak sesuai karena identik dengan orang buangan. “Karena kami saat ini sudah menjadi warga solam raya. Pada 1982 datang dari beberapa kabupaten di Pulau Jawa. Pada saat itu, sama hak dan kewajiban transmigrasi lokal dan dari jawa.

Terima kasih kepada sesepuh kampung dan masyarakat lokal yang sudah menerima kami saat itu. Dulu kami minta bibit tanaman dari masyarakat lokal, untuk ditanam dan dikembangkan. Saat ini sudah maju dan berkembang. Untuk itu, saya mengajak warga untuk mengingat situasi saat kita pertama masuk ke sini” terang H. Sawiji. (Sg)

Print Friendly, PDF & Email

LEAVE A REPLY