Wali Kota Pontianak, Sutarmidji Melakukan Sidak Pasar Bersama Anggota DPR RI Dapil Kalbar, Syarif Abdullah Alkadrie (Foto: Jim Hms)
Wali Kota Pontianak, Sutarmidji Melakukan Sidak Pasar Bersama Anggota DPR RI Dapil Kalbar, Syarif Abdullah Alkadrie (Foto: Jim Hms)

Anggota DPR RI Dapil Kalbar Sidak Pasar

KalbarOnline, Pontianak – Inovasi pemantau harga kebutuhan pokok melalui aplikasi yang dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak mendapat apresiasi dari Anggota DPR RI daerah pemilihan (dapil) Kalimantan Barat, Syarif Abdullah Alkadrie.

“Dengan inovasi pemantau harga yang bisa diakses lewat smartphone ini bisa menjadi contoh untuk pengambilan kebijakan di pusat. Adanya aplikasi ini gejolak harga bisa menjadi kondusif,” ujarnya saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) bersama Wali Kota Pontianak, Sutarmidji di Pasar Flamboyan dan Pasar Tengah, Kamis (22/6).

Kota Pontianak dinilai legislator asal Kalbar ini, selangkah lebih maju dari yang lain. Bahkan, dirinya menyebut inovasi yang digagas Pemkot Pontianak ke depan bisa menjadi acuan dalam kebijakan pengendalian harga. Adanya pemantau harga buat masyarakat bisa langsung melihat harga di banyak tempat sekaligus. Malah, kata dia, ada harga yang lebih murah di pasar, ketimbang harga tertera di aplikasi tersebut.

“Ini menunjukkan bahwa sistem itu memang harus terkendali, tidak bisa dilepaskan, selama ini kebijakan selalu dilepaskan pada pasar, sehingga pasar menentukan harga,” sebut Abdullah.

Sementara Wali Kota Pontianak, Sutarmidji mengatakan, jika dibandingkan tahun sebelumnya, tahun ini penataan harga jauh lebih baik terutama saat menghadapi Hari Raya Idul Fitri. Lebaran tahun lalu, dikatakannya harga gula pasir berkisar antara Rp16 ribu hingga Rp18 ribu.

Sedangkan tahun ini, patokan Harga Eceran Tertinggi (HET) sebesar Rp12.500. Demikian pula minyak goreng di harga Rp11.500 tahun ini. Padahal tahun lalu sempat bergejolak hingga Rp15 ribu. Sementara harga daging ayam saat ini dinilainya masih stabil.

“Nah,mudah-mudahan dengan adanya pasokan daging beku, daging segar harganya bisa berkisar antara Rp140 ribu – Rp145 ribu. Itu berarti lebih rendah dari tahun lalu,” ungkapnya.

Untuk kebutuhan pokok lainnya, menurut orang nomor satu di Kota Pontianak ini, tidak ada kenaikan harga yang signifikan. Harga dinilainya stabil sejak sebelum memasuki bulan puasa hingga menjelang Idul Fitri.

Sebut saja, bawang putih, awalnya mencapai harga Rp100 ribu perkilogram, begitu dua kali digelarnya operasi pasar komoditas itu, sekarang harganya antara Rp20 ribu – Rp22 ribu saja.

“Dan itu masih bisa turun, perkiraan saya harga bawang putih itu akan berada di kisaran Rp20 ribu. Nah, bawang merah itu idealnya Rp25 ribu sampai Rp30 ribu kalau itu akan stabil,” imbuhnya.

Pihaknya berkepentingan dalam pengendalian harga kebutuhan pokok sebab komponen itu untuk menghitung jumlah inflasi. Sutarmidji berharap, lebih banyak lagi komoditi-komoditi yang bisa diatur dan harganya bisa dikendalikan dari pusat. Sebab, kata dia, jika harga itu dibiarkan di pasar itu lebih berbahaya karena tidak ada dasar untuk menindaknya.

“Kalau dari pusat mengaturnya, saya bisa menindaknya karena ada dasarnya. Jadi, saya harap semua komoditas bahan pokok HET-nya ditetapkan oleh Menteri,” pungkasnya. (Fat/Jim Hms)

Print Friendly, PDF & Email

LEAVE A REPLY