Sutarmidji populer karna prestasi, Karolin populer karna anak petahana

KalbarOnline, Pontianak – Direktur Pusat Kajian Politik, Fisip, Universitas Indonesia, Aditya Perdana mengatakan bahwa beberapa tahun terakhir berkembang tren semakin sedikitnya kandidat dalam kontestasi pemilu mulai dari Pilpres, Pilgub, Pilwako, maupun Pilbup.

Menurutnya, Partai Politik (Parpol) saat ini sudah mulai berpikir dengan sangat pragmatis. Sehingga memang sudah lazim terjadi koalisi antar partai untuk mengusung kandidat yang dirasakan mempunyai kemungkinan kuat untuk menang.

“Sekarang partai politik menganggap bahwa mereka tidak mau buang-buang uang sekarang. Mereka tidak mau gambling untuk calon sebanyak-banyaknya. Sehingga mereka mau berkoalisi dengan partai yang potensi kemenangan sangat tinggi,” ujarnya seperti dilansir dari Pontianak.tribunnews.com.

Oleh sebab itu, pertimbangan koalisi yang dilakukan oleh partai politik membuat hanya muncul tiga hingga dua kandidat saja. Begitu pula yang terjadi belum lama ini di Kabupaten Landak, Provinsi Kalimantan Barat yang hanya ada satu kandidat.

“Seperti Karolin yang belum lama ini terpilih menjadi Bupati Landak dan saat pemilu ia calon tunggal. Ini adalah kondisi yang real saat ini, hari ini. Bisa saja Pilgub Kalbar yang tahun 2007, tahun 2012 ada empat calon, di tahun 2018 nanti hanya ada dua sampai tiga calon,” terangnya.

Mengenai nama Wali Kota Pontianak, Sutarmidji dan Bupati Kabupaten Landak Karolin Magret Natasha yang menjadi kandidat terkuat dari hasil survey yang dilakukan oleh Cirus Surveyors Group, ia tidak dapat menjawab lugas bahwa hanya kedua nama tersebut yang bakal maju.

“Bisa juga begitu tapi kita belum tahu juga. Kalau kita lihat dua calon ini kan ada dua aspek. Pertama Bu Karolin keluarga dari Gubernur petahana kita bisa sebutkan itu dinasti politik. Kemudian lawannya kemungkinan Wali Kota yang pernah menjabat di Kalimantan Barat dan saat ini yang terkuat adalah Walikota Pontianak Sutarmidji,” tandasnya. (Fai)

Print Friendly, PDF & Email

LEAVE A REPLY