Wali Kota Pontianak, Sutarmidji Saat Memberikan Sambutannya Pada Kegiatan Street Level Innovation dan Drump Up Pengembangan Laboratorium Inovasi Daerah (Foto: Jim Hms)
Wali Kota Pontianak, Sutarmidji Saat Memberikan Sambutannya Pada Kegiatan Street Level Innovation dan Drump Up Pengembangan Laboratorium Inovasi Daerah (Foto: Jim Hms)

Wali Kota : Inovasi yang Baik adalah Inovasi yang Melahirkan Efisiensi

KalbarOnline, Pontianak – Keterlibatan masyarakat dalam mengembangkan inovasi dinilai mampu menunjang percepatan pembangunan. Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak menjalin kerja sama dengan Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI dalam mengembangkan inovasi pada level paling bawah, yakni dengan melibatkan masyarakat sebanyak mungkin.

“Inovasi yang sudah dilakukan selama ini juga harus dievaluasi supaya ada perbaikan-perbaikan maupun percepatan,” ujar Wali Kota Pontianak, Sutarmidji usai membuka kegiatan Street Level Innovation dan Drump Up Pengembangan Laboratorium Inovasi Daerah di Aula Sultan Syarif Abdurrahman Kantor Wali Kota, Senin (27/2).

Menurutnya, terobosan dalam inovasi perlu dilakukan dalam berbagai aspek. Misalnya kaitan dengan pelayanan perizinan. Dahulu, pelayanan perizinan di Pemkot Pontianak masih berpatokan pada berapa minggu atau hari untuk proses penyelesainnya. Namun, saat ini sudah mulai pada hitungan jam. Artinya, pelayanan perizinan tersebut hanya butuh berapa jam saja sudah bisa selesai diproses.

“Sekarang kita bicara soal percepatan waktu dan biaya,” sebutnya.

Orang nomor satu di Kota Pontianak ini memiliki gagasan untuk menyerahkan perawatan saluran tersier di kawasan atau lingkungan kepada warga yang bisa menanganinya lebih efisien dari pada anggaran yang biasa dikeluarkan Pemkot Pontianak.

“Kalau selama ini kita misalnya mengeluarkan anggaran Rp100 juta untuk perawatan itu, siapa yang bisa lebih murah menangani perawatan itu akan kita serahkan kepada mereka. Mungkin mereka akan melakukan inovasi supaya lebih efisien. Contohnya, Sungai Putat yang dulu kumuh dan kotor, sekarang sudah bagus karena adanya komunitas pecinta sungai,” kata Sutarmidji.

Wali Kota dua periode ini menilai, inovasi yang baik adalah inovasi yang melahirkan efisiensi, bukan hanya dari sisi nilai materi tetapi termasuk hal-hal lainnya. Salah satu contoh efisiensi di lingkungan Pemkot Pontianak adalah rasio PNS dengan jumlah penduduk yang hanya 0,87 persen. Jumlah itu lebih sedikit jika dibandingkan dengan rasio nasional yang mencapai 1,64 persen.

“Kita juga akan menambah anggaran tahun berikutnya bagi kelurahan yang lebih banyak inovasinya,” janjinya.

Deputi Bidang Inovasi Administrasi Negara LAN RI, Tri Widodo Wahyu Utomo, menilai, tanggung jawab penyelenggaraan pemerintahan itu bukan hanya tanggung jawab aparatur, melainkan juga masyarakat. Sebab, semua kerja keras yang telah dilakukan pemerintah tidak akan ada artinya tanpa hubungan yang harmonis dengan masyarakat.

“Jadi program ini bertujuan ingin mensinergikan antara potensi yang ada di masyarakat dengan apa yang sudah dilakukan pemerintah sehingga kinerja pemerintah itu jauh lebih baik dibanding yang selama ini ada, esensinya ke sana,” paparnya.

Dirinya mengapresiasi komitmen pejabat daerah di Kota Pontianak yang berpandangan bahwa inovasi itu tidak cukup hanya satu tahun berjalan tetapi memastikan kesinambungan untuk masa yang akan datang.

“Di Pontianak selama ini sudah berjalan dengan baik, tapi ini perlu diperkuat lagi agar menjadi tradisi tata kelola pemerintahan di sini,” imbuh Tri.

Diakuinya, pihaknya setiap tahun secara berkala melakukan evaluasi terhadap Kota Pontianak terkait apa yang sudah dilakukan di tahun-tahun yang lalu. Ia menilai, banyaknya penghargaan yang diterima Kota Pontianak ini menunjukkan apa yang terjadi di sini dengan proses-proses pembaharuan sudah mencapai hasil yang diinginkan.

Salah satu indikator keberhasilannya adalah bagaimana respon masyarakat terhadap inovasi yang dilakukan Pemkot Pontianak.

“Jadi, kalau masyarakat itu lebih dilayani dan merasa puas dengan kinerja Pemkot maka itu yang utamanya. Hingga tahun 2016, dalam catatan kami ada sebanyak 156 inovasi yang dilakukan oleh seluruh SOPD Pemkot Pontianak,” terangnya.

Tri menekankan, yang terpenting adalah bagaimana kelanjutan dari inovasi itu seperti apa sebab jika hanya dari segi jumlah kalau tidak bisa diimpelementasikan dan dilanjutkan, semua itu akan sia-sia.

Untuk itu, keberlanjutan inovasi itulah yang sedang didorong pihaknya melalui program tersebut. Pontianak menjadi kota pertama kalinya dilaksanakan program keberlanjutan inovasi dari sekian banyak daerah.

Kota Pontianak menjadi yang pertama di Indonesia dalam program evaluasi terhadap dampak inovasi atau innovation impact assesment.

“Dampak itu nanti bisa kita lihat bagaimana kinerja dari SOPD, kemudian bagaimana respon masyarakat dan bagaimana dampak lebih luas kepada pemerintah daerah,” pungkasnya. (Fat/Jim Hms)

Print Friendly, PDF & Email

LEAVE A REPLY