Sekda Sintang, Yosepha Hasnah, Saat Memimpin Rapat Pematangan Launching Kampanye Pencegahan Stunting di Sintang (Foto: Sg/Hms)
Sekda Sintang, Yosepha Hasnah, Saat Memimpin Rapat Pematangan Launching Kampanye Pencegahan Stunting di Sintang (Foto: Sg/Hms)

Sekda: Jangan Hanya Sekedar Seremonial

KalbarOnline, Sintang – Pemerintah Kabupaten Sintang merencanakan untuk melakukan kampanye pencegahan stunting dan germas hidup sehat, Jumat 9 Februari 2018 mendatang.

Untuk memantapkan rencana tersebut, dilaksanakan rapat persiapan di ruang rapat Sekretaris Daerah Kabupaten Sintang yang dipimpin langsung oleh Sekda Sintang, Yosepha Hasnah, Kamis (25/1).

“Saya sudah menugaskan Kepala Bappeda untuk belajar cara dan strategi menurunkan angka stunting ke Vietnam. Yang mana disana kampanye dan gerakan cegah stunting sudah sampai ke desa dan dusun. Di Sintang juga saya harap bisa di fasilitasi supaya pemerintah desa dan dusun juga bisa ikut kampanye cegah stunting dan germas hidup sehat ini. Saya juga arahkan seluruh OPD membuat spanduk dan baliho kampanye pencegahan stunting. Saya ingin kampanye ini dilakukan masif,” terang Sekda.

“Saya juga minta gerakan ini jangan hanya seremonial saja dan hanya pada saat launching. Tetapi terus menerus. Saya minta saat ada rapat seluruh kepala desa dan BPD nanti, kampanye ini dimasukan dalam salah satu materi yang disampaikan. Kalau perlu siapkan contoh spanduk dan baliho untuk disampaikan kepada kepala desa dan BPD yang hadir. Saya merasakan kampanye ini sangat serius karena angka stunting di Sintang cukup besar yang sekaligus menunjukkan angka kesehatan masyarakat kita belum baik,” terang Yosepha Hasnah dengan serius.

Sementara, Kepala Bappeda Sintang, Kartiyus menjelaskan bahwa dalam melakukan kampanye cegah stunting dan germas hidup sehat ini, Pemkab Sintang akan bekerjasama dengan pihak swasta juga.

“Data kasus stunting per 2016 cukup tinggi terjadi di Puskesmas Serawai, Puskesmas Jelimpau, dan Puskesmas Nanga Mau. Di Indonesia ada 9 Juta orang mengalami stunting karena kekurangan gizi. Kerugian negara akibat stunting Rp300 triliun per tahun. Maka stunting harus dicegah. Semua elemen harus bahu membahu mencegah stunting dengan memperhatikan gizi, air bersih dan sanitasi,” terang Kartiyus.

“Stunting turun, ekonomi meningkat. Kita akan libatkan tokoh masyarakat, tokoh agama dan tokoh adat. Bahkan siapapun yang peduli dengan stunting ini. Pokoknya kita akan melibatkan sebanyak-banyaknya orang. Kita harus keroyokan mencegah stunting ini,” tegas Kartiyus.

Sementara, perwakilan Dinas Kesehatan, Selly Gathie, yang juga merupakan seksi acara dalam kegiatan kampanye menjelaskan bahwa pihaknya sudah merancang kegiatan dan acara sebaik mungkin.

“Kita tidak akan berhenti pada saat kampanye atau launching saja. Setelah itu kita akan terus bergerak. Pada tanggal 9 Februari 2018 nanti kita akan isi dengan orasi khusus tentang stunting, gerakan masyarakat hidup sehat dan 1000 hari pertama kehidupan, jalan sehat, senam massal, pemeriksaan kesehatan gratis, kampanye makan buah dan sayur, pemilihan duta ASI eksklusif, duta 1000 Hari Pertama Kehidupan dan duta Germas. Ada juga penandatanganan dokumen komitmen bersama, pelepasan balon, penyerahan hadiah lomba masakan lokal,” terang Selly Gathie.

Yusuf dari Pelkesi menyampaikan bahwa pihaknya sudah membantu pemberantasan gizi buruk di lima kecamatan di Kabupaten Sintang.

“Kami akan melaksanakan lomba masak lokal untuk makanan bayi,” terang Yusuf.

Sementara, Kadis Kehutanan dan Perkebunan Sintang, Veronika Ancili menyatakan akan menyiapkan display informasi bahan makanan sehat dan beragam supaya masyarakat tahu bahwa makanan itu tidak hanya fokus pada nasi saja, tetapi sangat banyak ragamnya.

Demikian, Sigit Margo Utama dari Persagi menyampaikan bahwa pihaknya akan buka stand konsultasi gizi dan pembagian buah di kawasan simpang lima.

“Selama acara berlangsung kita akan putar video kampanye germas dan cegah stunting,” terang Sigit Margo Utama.

Ridwan T Pane, Sekretaris Dinas Kesehatan menyarankan agar penyampaian orasi dilaksanakan sebelum olahraga dilaksanakan.

“Pengalaman kami saat hari kesehatan. Saat orasi kesehatan dilaksanakan usai jalan sehat. Hanya sedikit orang yang mau mendengarkan dan memperhatikan orasi yang disampaikan,” saran Ridwan T Pane. (Sg/Hms)

Print Friendly, PDF & Email

LEAVE A REPLY