Wali Kota Pontianak, Sutarmidji, Saat Memberikan Sambutannya, Saat Menghadiri Pelantikan Pengurus KONI Kota Pontianak (Foto: Jim)
Wali Kota Pontianak, Sutarmidji, Saat Memberikan Sambutannya, Saat Menghadiri Pelantikan Pengurus KONI Kota Pontianak (Foto: Jim)

Pemkot Pontianak Dukung Sarana Olahraga Berstandar Nasional

KalbarOnline, Pontianak – Bicara prestasi tingkat nasional, tidak terlepas dari sarana dan prasarana olahraga yang dimiliki. Wali Kota Pontianak, Sutarmidji mengatakan, untuk memacu atlet berkiprah di tingkat nasional, sarana dan prasarana tersebut minimal berstandar nasional untuk capaian prestasi yang diinginkan.

“Makanya kalau Pontianak membangun sarana atau prasarana olahraga itu tetap acuannya standar nasional, bahkan standar olimpik untuk beberapa fasilitas olahraga tertentu supaya kita hanya cukup sekali membangun,” sebutnya saat menghadiri pelantikan Pengurus Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Pontianak periode 2017-2021 dan rapat kerja anggota KONI Kota Pontianak di Hotel Transera, Selasa (12/12).

Salah satu sarana olahraga yang berstandar olimpik dibangun Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak adalah kolam renang di Ampera. Hebatnya, kolam renang itu memiliki 10 jalur dan di Kalimantan hanya dimiliki oleh dua daerah yakni Pontianak dan Kutai Kertanegara. Beberapa sarana lainnya di Kota Pontianak adalah gedung gym angkat berat.

Gedung bulutangkis berstandar nasional dengan jumlah empat lapangan juga dimiliki Kota Pontianak. Lapangan futsal yang dibangun Pemkot Pontianak di sejumlah sekolah juga rata-rata memenuhi standar.

“Itu yang harus dilakukan kalau kita bicara prestasi nasional. Kalau kita bicara prestasi nasional sementara sarana olahraganya belum memenuhi standar, percuma juga,” ungkapnya.

Diakuinya, lapangan sepak bola Keboen Sajoek yang dimiliki Pontianak masih belum memenuhi standar. Pasalnya, ukuran yang dimiliki hanya 70 meter kali 90 meter. Padahal standar minimal yang harus dipenuhi adalah 90 meter kali 110 meter.

Kaitan dengan prestasi atlet yang masih belum banyak menunjukkan kiprahnya di tingkat nasional, menurutnya ada beberapa hal yang menjadi penyebab. Salah satunya, kurang disiplin.

Selain itu, perusahaan-perusahaan yang merekrut para atlet bekerja di perusahaannya, ditempatkan pada posisi yang justru bisa mengganggu kondisi fisiknya sebagai olahragawan.

Misalnya, atlet direkrut jadi satpam. Kalaupun ingin merekrut mereka, kata Sutarmidji, rekrutlah mereka untuk posisi supaya dia bisa menambah penghasilan untuk memenuhi kebutuhan gizinya selaku atlet.

“Apalagi atlet yang setelah latihan lalu merokok. Atlet kalau masih merokok, lebih baik berhenti jadi atlet. Terutama atlet yang mengandalkan fisik. Terkecuali atlet yang tidak menggunakan fisik seperti catur, bridge dan sebagainya,” pungkasnya. (jim)

Print Friendly, PDF & Email

LEAVE A REPLY