Wakil Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono Foto Bersama Rombongan DPRD Kabupaten Kepulauan Meranti Sekaligus Menyerahkan Cinderamata (Foto: Ist)
Wakil Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono Foto Bersama Rombongan DPRD Kabupaten Kepulauan Meranti Sekaligus Menyerahkan Cinderamata (Foto: Ist)

Edi: Daya Tarik Kota Pontianak Adalah Kemampuan Menggali Potensi PAD

KalbarOnline, Pontianak – Rombongan anggota DPRD Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau melakukan kunjungan kerja antar daerah ke Kota Pontianak.

Wakil Ketua DPRD Kabupaten Kepulauan Meranti, Muzammil Baharudin beserta para anggota legislatif yang tergabung dalam Badan Anggaran DPRD Kabupaten Kepulauan Meranti diterima oleh Wakil Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, di ruang rapat Kantor Wali Kota, Jum’at (21/4) kemarin.

Kunjungan tersebut dalam rangka untuk melihat langsung tata kelola pemerintahan dan pengelolaan anggaran yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Pontianak.

Muzammil Baharudin mengatakan, dipilihnya Kota Pontianak sebagai tujuan studi tiru lantaran kota ini dinilai bagus dalam tata kelola pemerintahan. Selain itu, Kota Pontianak juga merupakan kota terbaik dalam tata kelola ekonomi daerah (TKED) dan sudah lima kali secara berturut-turut mendapatkan predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP).

“Kedatangan kami, yang dari Badan Anggaran DPRD Kab Kepulauan Meranti ini dalam rangka untuk melihat langsung pelaksanaan pengelolaan APBD yang dilakukan oleh Pemkot Pontianak,” ujarnya.

Pihaknya sangat termotivasi dan tertarik dengan bedah APBD yang dilakukan oleh Pemkot Pontianak.

“Kami sangat tertarik dengan bedah APBD yang dilakukan oleh Pontianak yang melibatkan berbagai unsur. Serta APBD juga dipublikasikan kepada masyarakat umum,” tukasnya.

Saat ini, lanjut Muzammil, APBD di Kabupaten Kepulauan Meranti sebesar Rp1,3 triliun.

Ketergantungan terhadap anggaran pusat sangat besar. Karena di Kepulauan Meranti, merupakan daerah penghasil minyak dan gas jadi ada dana bagi hasil, sedangkan PAD-nya hanya sekitar Rp60 miliar.

“Ini kabupaten baru dan baru delapan tahun, sehingga belum banyak retribusi yang ada. Kami sebagai daerah kabupaten tidak mungkin mendapatkan PAD seperti Pontianak yang merupakan pusat Kalimantan Barat dan yang menyumbang PAD-nya hotel dan restauran,” imbuhnya.

Ia juga menjelaskan bahwa di Kepulauan Meranti yang bisa dilakukan untuk meningkatkan PAD hanya di sektor peternakan, perkebunan, dan perikanan.

“Kalau dari sektor pariwisata hampir sama dengan Pontianak. Daerah gambut, tidak mempunyai gunung dan pantai berpasir sehingga wisata yang dijual hanya perayaan imlek dan ada perayaan perang air yang selama enam hari dan bisa mendatangkan ribuan wisatawan,” tandasnya.

Sementara Wakil Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono mengatakan bahwa kedatangan rombongan tersebut untuk melakukan studi tiru apa yang telah dilakukan oleh Pemkot Pontianak selama ini terkait berbagai prestasi yang diraih dan tata kelola keuangan daerah Pontianak yang ada.

“Mereka mendengar kalau Kota Pontianak meraih banyak penghargaan baik dalam tata kelola pemerintahan maupun dalam mengelola anggaran, serta bagaimana Pontianak meningkatkan SDM,” ujar Edi Kamtono.

Edi juga menjelaskan bagaimana kondisi Kota Pontianak dan program-program pemerintahan.

Yang paling menarik bagi mereka, menurut Edi adalah bagaimana cara Pontianak menyusun APBD dan menyikapi keterbatasan anggaran namun memaksimalkan program pembangunan dan multiplayer effect dirasakan oleh masyarakat Pontianak.

Secara postur kualitas, lanjut Edi, APBD Kota Pontianak meningkat tapi secara jumlah kenaikannya sedikit sekali karena anggaran SMA sederajat langsung dipegang oleh provinsi.

Selain itu yang menjadi daya tarik dari Kota Pontianak adalah kemampuannya dalam menggali potensi-potensi PAD yang saat ini.

“Pontianak sudah bisa menggali potensi PAD lebih dari Rp400 miliar, sedangkan Kepulauan Meranti hanya sekitar Rp60 miliar. Kota Pontianak akan terus memacu peningkatan PAD ini dengan meningkatkan potensi wisata dan ekonomi kreatif. Karena kalau ini tumbuh, PAD juga akan semakin meningkat,” tuturnya.

“Artinya kalau orang belanja cukup banyak, maka PAD juga meningkat. Saat ini sumbangan PAD tersebar dari pajak hotel dan restauran, oleh karena itulah kita terus tingkatkan bagaimana wisatawan bisa datang di Pontianak ini,” timpalnya.

Edi juga membeberkan cara yang dilakukan Pemerintah Kota Pontianak dalam menarik pengunjung adalah dengan meningkatkan pelayanan publik dan meraih berbagai prestasi yang ada. Menurutnya, wisata bukan hanya wisata alam saja, apalagi Kota Pontianak ini tidak ada sumber alamnya. Nah, keberhasilan tata kelola pemerintahan pun bisa jadi objek wisata.

“Rombongan DPRD Kabupaten Kepulauan Meranti ini juga sudah menyumbangkan untuk menaikan PAD, mereka belanja dan menginap di hotel sini. Kita terus tingkatkan kualitas pelayanan publik dan meraih prestasi, sehingga mereka yang dari luar juga ingin studi tiru di Pontianak dan ini merupakan keuntungan bagi Kota Pontianak,” tutur Edi mencontohkan.

Selain itu juga memberikan kemudahan-kemudahan kepada investor yang akan berinvestasi dan kemudahan bagi para pelaku usaha.

“Kalau investor yang ingin memulai usaha di Pontianak, cukup 9 hari kerja dalam pengurusan izin, dan ini jauh di atas nasional yang masih 17 hari kerja dalam pengurusan izin,” pungkasnya. (Fai)

Print Friendly, PDF & Email

LEAVE A REPLY