Ilustrasi Proses Penurunan Kapal Dengan Airtag (Foto: Ist)
Ilustrasi Proses Penurunan Kapal Dengan Airtag (Foto: Ist)

Rudianto: Saya Mohon Maaf Kepada Pihak Keluarga Korban

KalbarOnline, Kubu Raya – Balon (airtag) peluncur tugboat meledak pada saat menurunkan kapal dengan nomor kapal RP 2015 ke sungai, sehingga ledakan mengakibatkan tiga karyawan galangan Kapal PT. Bahari Mas Kalimantan, yang terletak di Jalan Adi Sucipto KM 6+30 meter Nomor 88 C, tewas di tempat.

Berdasarkan informasi yang diterima, pada saat proses menurunkan kapal, sepuluh pekerja itu dibantu dengan delapan balon peluncur. Dan balon nomor tiga meledak hingga mengenai tiga pekerja terdekat, dan langsung tewas di tempat.

Korban tewas bernama R. Sutrisna (32), Wiwin Sutawan Winata (26), dan Pairen (47). Sedangkan korban luka parah yakni, Dedi Irianto (34) dan Muhammad Bernard (38). Semua korban langsung dilarikan ke Rumah Sakit Bhayangkara Anton Sudjarwo Polda Kalbar.

Pihak kepolisian dari Polresta Pontianak Kota terus melakukan penyelidikan ledakan balon gas tersebut.

“Saat melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), terdapat delapan balon peluncur untuk menurunkan tugboat. Salah satunya meledak, akibatnya tiga orang meninggal dan dua orang luka-luka,” kata Kasat Reskrim Polresta Pontianak Kompol Andi Yul Lapawesean.

Guna penyelidikan lebih lanjut, polisi memeriksa tujuh saksi, termasuk pemilik perusahaan Rudianto Rimba. Sedangkan korban meninggal sudah dibawa pulang ke rumah duka.

Sementara Muhammad Bernard, korban yang selamat mengatakan bahwa saat airtag meledak, posisi berdirinya berada diujung tugboat yang akan diturunkan ke sungai. Karena agak jauh dari balon ia terlempar lebih dari satu meter.

“Saya tidak tau, tiba-tiba balon itu meledak. Saya langsung tepental,” ujar Bernard. Bernard menderita luka-luka di tangan kiri, siku tangan kanan, dan luka lebam di mata kiri.

Sementara ketua RT setempat, Tajim mengatakan bahwa saat kejadian ia berada di Jalan Ayani. Kemudian mendengar ledakan cukup keras. Namun dia tak menyangka, ledakan itu berasal dari airtag milik PT Bahari Mas Kalimantan yang terletak persis di samping rumahnya.

“Saya kira ada orang main meriam. Tak lama berselang, istri saya telepon, ade tiga orang meninggal akibat balon gas meledak,” kata Tajim, Ketua RT 03, Desa Sungai Raya.

Sementara, pemilik PT Bahari Mas Kalimantan, Rudianto Rimba meminta maaf atas kecelakaan kerja yang menyebabkan tiga karyawannya tewas.

“Saya meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada pihak keluarga korban atas musibah ini. Saya berharap permohonan maaf ini diterima,” ungkap Rudianto ketika ditemui wartawan di ruang kerjanya.

Ia memastikan bahwa ia juga akan bertanggung jawab terhadap hak-hak karyawannya.

“Semua hak karyawan disini dipenuhi. Mulai dari asuransi kecelakaan kerja, kesehatan, kematian dan hari tua kami siapkan,” janjinya.

Pekerja yang meninggal dunia saat menjalankan tugas, santunan kematiannya dipastikan akan disalurkan kepada ahli waris pekerja.

“Dari bidang hukum mengatakan, santunan untuk pekerja yang meninggal sebesar Rp125 juta. Santunan akan disalurkan oleh BPJS Ketenagakerjaan. Sementara dari perusahaan ada sedikit tambahan santunan untuk keluarga,” tuturnya.

Rudianto juga mengaku sudah bertemu dengan ahli waris pekerjanya yang meninggal dunia. Menjelaskan tanggungjawab perusahaan dan permintaan maaf atas kejadian tersebut.

“Segala hak karyawan sesuai dengan aturan pemerintah kami penuhi,” katanya.

Rudianto juga memastikan akan tetap kooperatif dengan pihak kepolisian terkait pengembangan kasus. Mengumpulkan bukti-bukti penyebab ledakan balon peluncur.

Belajar dari kasus tersebut, PT Bahari Mas Kalimantan telah mengambil kebijakan, menurunkan kapal menggunakan perusahaan yang bergerak di bidang menurunkan dan menaikan kapal.

“Selama ini memang kami meluncurkan kapal sendiri. Tapi dengan kejadian ini, tentu kami akan menggunakan perusahaan yang memang bergerak di bidang teknisnya,” tandasnya. (ian)

Print Friendly, PDF & Email

LEAVE A REPLY