by

Mums, Waspada! Stroke Juga Bisa Terjadi pada Bayi dan Anak

Selama ini Mums mengenal stroke hanya terjadi pada orang dewasa. Namun faktanya, stroke juga bisa dialami oleh bayi dan anak-anak. Kok bisa ya bayi dan anak mengalami stroke? Apakah sama gejalanya dengan orang dewasa? Bagaimana cara mendeteksi dini stroke pada anak-anak?

Sebelum kita kenali lebih lanjut stroke pada anak, kita lihat kembali definisi stroke. Definisi stroke menurut World Health Organization (WHO) adalah suatu gangguan fungsi saraf yang disebabkan oleh gangguan peredaran darah di otak, di mana secara mendadak (dalam beberapa detik) atau secara cepat (dalam beberapa jam) timbul gejala dan tanda yang sesuai dengan daerah di otak yang terganggu.

Stroke pada anak dapat terjadi dari usia 28 hari sampai 18 tahun. Pada anak, sekitar 10-25% mengalami kematian akibat stroke, 25% mengalami kekambuhan, dan 66% mengalami gejala sisa seperti kejang berlanjut, gangguan belajar, dan perkembangan.

Penyebab stroke pada anak berbeda dengan orang dewasa. Faktor risiko stroke pada anak meliputi penyakit jantung bawaan, gangguan pembekuan darah, kelainan darah sickle cell, anomali pembuluh darah otak, dan pengaruh lingkungan seperti keracunan gas karbon monoksida, infeksi, serta trauma. Riwayat infeksi dan stroke dari ibu diduga menjadi faktor risiko stroke pada bayi.

Baca juga: Bahaya Tidur Terlalu Lama, Meningkatkan Risiko Stroke

Jenis-jenis dan Gejala Stroke pada Anak

Tipe stroke pada anak tidak berbeda dengan dewasa yaitu tipe sumbatan (iskemik) dan perdarahan (hemoragik). Namun proses perjalanan penyakitnya berbeda. Pada orang dewasa, stroke iskemik biasanya terjadi akibat pecahnya plak aterosklerotik. Sedangkan pada anak-anak, penyumbatan pembuluh darah otak (arteriopati serebral) menyumbang 50% penyebab stroke iskemik pada anak.

Penyakit jantung bawaan juga menjadi faktor risiko terjadinya stroke iskemik dan hemoragik pada anak. Begitu pula dengan kelainan darah sickle cell menyumbang 4% penyebab stroke pada anak. Anomali pembuluh darah menyumbang 40-90% dari stroke hemoragik pada anak.

Gejala Stroke pada Anak

Stroke pada anak-anak biasanya terjadi secara tiba-tiba. Gejalanya antara lain :

  • sakit kepala berat yang diikuti dengan muntah (lebih sering terjadi pada stroke hemoragik)
  • kejang (terjadi pada 50% kasus stroke pada anak)
  • kelesuan atau kantuk mendadak
  • kelemahan atau mati rasa di satu sisi tubuh (94% kasus stroke)
  • bicara cadel
  • kesulitan menyeimbangkan atau berjalan
  • masalah penglihatan, seperti penglihatan ganda atau kehilangan penglihatan

Baca juga: Kecanduan Gadget Tingkatkan Risiko Stroke!

Dapatkah Stroke pada Anak Diketahui Dini?

Gejala klinis yang beragam dan kurangnya informasi tentang stroke pada anak menyebabkan keterlambatan dalam diagnosis dini. Padahal semakin dini diketahui, risiko timbulnya kematian dan gangguan perkembangan permanen dapat diturunkan.

Sama halnya dengan deteksi dini stroke pada orang dewasa, FAST dapat digunakan untuk mendeteksi dini. FAST adalah akronim yang dibuat untuk memudahkan orang awam untuk mendeteksi stroke dengan cepat.

Inilah FAST untuk deteksi dini stroke :

F : Face Dropping (Wajah terkulai)

A : Arm Weakness (Kelemahan pada lengan)

S : Speech Difficulty (Kesulitan bicara)

T : Time to Call 911/ Unit Gawat Darurat RS

Nah, Mums, stroke juga dapat terjadi pada bayi dan anak. Mengenali tentang gejala dini stroke dan deteksi dini dapat mengurangi risiko kerusakan otak permanen juga kematian pada anak.

Baca juga: Cara Mudah Kenali Gejala Stroke, Hafalkan FAST!

Referensi

1. Rajani,et al. 2018. Pediatric stroke: current diagnostic and management challenges. Quant Imaging Med Surg. Vol. 8(10). p.984–991.

2. Tsze & Valen. 2011. Pediatric Stroke: A Review. Emerg Med Int. p.1-10.

3. Kavčič, et al. 2019. Ischemic stroke in childhood and adolescence: Early detection and recommendations for acute treatment. Slovenian Medical Journal. Vo. 88. p. 184-196.

4. Bonfert, et al. 2018. Childhood Stroke: Awareness, Interest, and Knowledge Among the Pediatric Community. Front Pediatr. Vol. 6 (182). p. 1-10

Comment

Terbaru