by

Kasus Covid-19 Hampir 1 juta, Dokter: Pasien Menumpuk di IGD

KalbarOnline.com – Hari ini kasus Covid-19 di Indonesia diprediksi tembus 1 juta kasus. Sebab kemarin, Senin (25/1) kasus Covid-19 sudah mencapai 999.256 kasus. Angka ini mencerminkan kasus Covid-19 di Indonesia belum menurun dan juga belum sampai puncaknya.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam yang juga Dekan Fakultas Universitas Indonesia (FKUI) Prof Ari Fahrial Syam menilai, sikap inkonsistensi serta berubah-ubahnya istilah dan peraturan pembatasan oleh pemerintah membuat masyarakat semakin sulit memahami bagaimana sebenarnya arah pengendalian penanganan Covid-19. Pandemi yang awalnya diperkirakan berakhir dalam 1 tahun, tetapi kenyataannya hingga saat ini tanda-tanda berakhirnya pandemi belum dapat diprediksi.

“Melihat kondisi Indonesia yang (bisa, Red) tembus 1 juta kasus Covid-19, maka perlu dilakukan evaluasi terhadap upaya pembatasan sosial saat ini karena tampaknya masih belum efektif untuk mengendalikan jumlah kasus. Jumlah kasus aktif juga masih tinggi yakni diatas 150 ribu kasus,” katanya kepada KalbarOnline.com, Selasa (26/1).

Baca Juga: 10.678 Kasus Sembuh Covid-19 Sehari, Positivity Rate Masih Tinggi!

Kondisi ini, lanjutnya, membuat ketersediaan berbagai fasilitas kesehatan, seperti ruang isolasi dan ICU menjadi sangat terbatas. Sebagian bahkan menyampaikan bahwa kapasitas ruangan sudah digunakan lebih dari 90 persen.

“Kondisi ini membuat pasien-pasien yang menunggu ruangan juga menumpuk di IGD, terutama pada beberapa RS rujukan di kota-kota besar, seperti Jakarta. Bahkan kita sudah juga mendengar ada pasien yang meninggal di IGD karena tidak sempat masuk ICU,” jelasnya.

Jalanan masih macet

“Melihat status PSBB ketat, saya sendiri merasakan bahwa tidak ada perbedaan dalam kehidupan masyarakat,” tukasnya.

Prof Ari masih mengalami kemacetan di jalan baik saat pulang maupun pergi, walaupun tidak separah seperti saat sebelum pandemi. Dirinya punya harapan ketika di malam tahun baru beberapa kota melakukan penjagaan yang ketat, polisi dan tentara turun ke jalan turun menjaga masyarakat tidak berkumpul dan efektif.

“Kenapa kondisi penjagaan yang ketat ini tidak terus dipertahankan terutama pada malam hari, agar kita bisa mengurangi kasus dulu, rem dan gas harus benar-benar diterapkan,” lanjutnya.

Mengenai istilah PSBB atau PPKM saat ini, Prof Ari tidak mau berandai-andai. Akan tetapi, memang dari awal istilah lockdown atau karantina wilayah sepertinya tabu untuk digunakan atau dijalankan.

“Saya juga tidak ingin membandingkan dengan negara lain, tetapi kita bisa melihat bahwa beberapa negara, sebut saja Australia atau Tiongkok sudah berhasil mengendalikan pandemi ini. Secara umum peningkatan jumlah kasus harian juga semakin turun di belahan negara lain. Kita masih ingat dulu dulu ada istilah OTG, ODP dan PDP yang berganti menjadi suspek, kontak erat dan konfirmasi,” ujarnya.

Prof Ari menyesalkan berbeda dengan negara lain, dia melihat penegakan hukum atau law enforcement atau penegakan hukum di negara kita masih lemah. Menurutnya, memang beberapa media kadang kala meliput penegakan hukum yang dilakukan untuk para pelanggar protokol kesehatan. Tetapi, memang tampaknya penegakan hukum tidak dilakukan secara masif dan konsisten.

“Sedihnya pelanggar protokol kesehatan dilakukan oleh para tokoh politik atau tokoh masyarakat yang harusnya menjadi health influencer malah sebaliknya memberi contoh yang tidak baik kepada masyarakat,” jelasnya.

Saksikan video menarik berikut ini:

Comment

News Feed