by

Parler, Aplikasi Di Balik Kerusuhan Gedung Capitol AS

Siapa sangka, Amerika yang membanggakan diri sebagai mbahnya demokrasi, ternyata mengalami (salah satu) kejadian terburuk dalam sejarah demokrasi bangsanya. Unjuk rasa berujung rusuh yang dilakukan para pendukung Donald Trump –yang kalah dalam pilpress di tahun lalu—di Gedung Kongres AS Capitol Hill, seperti mencoreng wajah demokrasi AS.

Siapa sangka pula, ada nama Parler di balik kejadian itu. Siapa Parler? Orang? Bukan! Dia adalah sebuah aplikasi media sosial, yang skemanya mirip Twitter, dan cukup populer di Negeri Abang Sam itu. Kini Parler sudah ditendang Apple dari toko aplikasinya, App Store, diusir Google dari Play Store, dan disuruh angkat kaki dari layanan servernya Amazon.

Parler muncul pada tahun 2018 silam, diprakarsai trio John Matze Jr, Jared Thomson dan Rebekah Mercer. Mereka berkantor di Henderson, Nevada, AS. Menurut Matze, aplikasi ini dibuat sebagai alternative bagi Twitter, Facebook dan sebagainya, yang disebut Matze sebagai Tiran Teknologi (Tech Tyrant), karena menerapkan kebijakan yang membuat pengguna tak bebas mengekspresikan perkataan, pemikiran dan ide.

Karenanya, Matze dan kawan-kawan, mendesain Parler sebagai platform di mana semua pengguna bebas “ngebacot” apa saja. Makanya kemudian dinamai Parler, yang diambil dari bahasa Perancis, yang dalam bahasa Inggrisnya to speak, atau terjemahan bebasnya kira-kira ya ngebacot itu.

Dalam waktu setahun kurang (sejak Agustus 2018 hingga Mei 2019), aplikasi ini sudah berhasil menarik 100 ribu lebih pengguna (di Amerika). Walau mengaku tak punya afiliasi ke aliran politik tertentu, nyatanya Parler menjadi tempat berlabuh para Republican, orang-orang yang berafiliasi ke Partai Republik (partainya Donald Trump).

Pada Desember 2018 misalnya, Candace Owen, seorang aktivis konservatif, meng-endorse aplikasi ini, dan berhasil membawa 40 ribu lebih pengguna, yang membuat server Parler kewalahan dan down. Disusul tokoh-tokoh Republican lain, seperti manajer kampanye Trump, Brad Parscale, Senator Utah Mike Lee, dan pengacara Trump Rudy Giulani. Sejumlah figure yang kena ban di media sosial lain, seperti aktivis sayap kanan Gavin McInnes, Laura Loomer dan Milo Yiannopoulos, juga ikutan ke Parler.

Kecenderungan ke kubu Konservatif ini diakui Matze. Meski awalnya mengatakan Parler bersifat bi-partisan, berada di tengah, tetapi dia mengaku lebih memusatkan upaya pemasaran ke kalangan Konservatif.

Kebijakan yang longgar itu juga yang mendorong sekitar 200 ribu lebih pengguna di Saudi Arabia bergabung. Kebanyakan dari mereka adalah pendukung Pangeran Mahkota Mohammed bin Salman. Mereka bermigrasi dari Twitter dengan dalih, “si burung” melakukan sensor ketat. Sebelumnya, Twitter memang menon-aktifkan ratusan akun pendukung pemerintah Arab Saudi, yang dicurigai sebagai akun pasukan sibernya.

Para akun migran itulah yang mengkampanyekan hashtag dan foto Trump bersama keluarga kerajaan (Arab Saudi), untuk mengajak ramai-ramai bergabung ke Parler, yang mereka bilang didukung Trump dan berafiliasi ke sayap kanan.

Pada pertengahan tahun lalu, dipicu oleh Twitter yang melakukan ban dan menghapus bebrapa cuitan Trump, Parler mengkampanyekan “Declaration of Internet Independence” yang meniru “Declaration of Independence”. Disusul dengan meramaikan hashtag “Twexit”, meniru Brexit, yang mengajak orang cabut dari Twitter, yang disebut semena-mena pada kalangan Konservatif. Hasilnya? Jumlah pengguna baru membludak.

Menyusul Pilpres AS, jumlah pengguna bertambah lagi. Rata-rata dari kalangan Konservatif pendukung Trump. Pada minggu-minggu sebelum pemilihan pada awal November tahun lalu, tercatat Parler diunduh 1 juta lebih. Hingga saat ini, Parler diklaim punya 10 juta pengguna dengan 4 juta di antaranya adalah pengguna aktif.

Karena itulah, tak heran jika kemudian Parler digunakan sebagai media untuk saling berkomunikasi, berkoordinasi, mengompori dan mengajak sesama fans Trump untuk melakukan unjuk rasa ke Gedung Capitol. Unjuk rasa yang berujung rusuh dan mencoreng wajah demokrasi sang “Penjaga Demokrasi Dunia”.

Atas dasar itu pula Apple, Google, Amazon, memutus hubungan dengan Parler. Paling tidak untuk sementara, demikian bunyi pernyataan resmi mereka. Sampai Parler mengubah kebijakannya dalam menangani konten-konten yang mendorong kekerasan, menghasut, dan aksi illegal lainnya.

Tuntutan yang ditanggapi dengan ogah-ogahan oleh Parler. Alih-alih menurut –atas permintaan mengubah kebijakan pengelolaan kontennya—Matze malah berencana mengambil langkah lain. “Kami punya banyak pilihan (tindakan). Tunggu saja nanti,” kata Matze sembari menyumpahi Apple, Google dan lainnya sebagai tirani hitech anti kompetisi, seperti dikutip The Verge.

The post Parler, Aplikasi Di Balik Kerusuhan Gedung Capitol AS appeared first on KalbarOnline.com.

Comment

News Feed