by

Mungkinkah Hamil Meski Telah Menggunakan Alat Kontrasepsi?

Ada banyak jenis alat kontrasepsi yang tersedia. Namun, satu-satunya cara yang paling efektif untuk mencegah kehamilan tentunya hanya dengan tidak berhubungan seksual. Ya, semua alat kontrasepsi memiliki peluang untuk mengalami kegagalan. Jadi, jika alat kontrasepsi gagal, maka ada kemungkinan seorang wanita akan hamil.

Baca juga: Mengenal dan Memilih Alat Kontrasepsi

Efektivitas Alat Kontrasepsi

Tidak semua metode KB atau alat kontrasepsi sama efektifnya, artinya beberapa memiliki tingkat kegagalan yang lebih tinggi daripada yang lainnya. Nah, berikut ini beberapa alasan yang mungkin bisa menjadi faktor penyebab kegagalan alat kontrasepsi.

1. Metode hormonal

Alat kontrasepsi dengan metode hormonal sebenarnya memiliki tingkat keefektivan hingga 91%. Metode alat kontrasepsi ini bekerja dengan melepaskan salah satu bentuk progesteron sintetis yang disebut progestin atau campuran progestin dan estrogen sintetis. Secara lebih jelas, alat kontrasepsi metode hormonal bekerja untuk mencegah kehamilan dengan cara sebagai berikut:

– Menghentikan ovulasi.

– Menipiskan lapisan rahim yang menyulitkan embrio untuk ditanamkan.

– Penebalan lendir serviks sehingga menyulitkan sperma untuk masuk ke dalam rahim.

Kegagalan alat kontrasepsi hormonal bisa disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya:

– Tidak meminum pil, tidak mendapat dosis suntikan berikutnya, atau tidak mengganti koyo KB tepat waktu.

– Mengonsumsi antibiotik.

2. Intraunterine Device (IUD)

IUD adalah alat berbentuk T yang dimasukkan oleh dokter ke dasar rahim. IUD hormonal akan mengeluarkan hormon untuk mencegah kehamilan, sedangkan IUD tembaga akan mengubah cara sperma berenang. Kedua jenis IUD ini juga bekerja dengan menghalangi sperma memasuki rahim.

Menurut Association of Reproductive Health Professionals (ARHP), IUD hormonal lebih dari 99% efektif hingga 3 atau 5 tahun, tergantung mereknya. ARHP juga menyatakan bahwa IUD tembaga lebih dari 99% efektif hingga 12 tahun.

IUD hormonal membutuhkan waktu hingga seminggu untuk mulai melepaskan hormon, sehingga kemungkinan besar kegagalan alat dan peluang terjadinya kehamilan apabila ada hubungan seksual, bisa terjadi selama minggu pertama setelah pemasangan.

Selain itu, IUD hormonal dan tembaga juga dapat tergeser dan terlepas dari serviks, sehingga dalam beberapa kasus, kehamilan bisa terjadi.

Baca juga: Hal yang Perlu Kamu Ketahui Tentang Alat Kontrasepsi IUD

3. Metode penghalang

Metode penghalang untuk mencegah kehamilan bekerja secara fisik dengan menghalangi sperma untuk mencapai sel telur. Metode ini meliputi:

– Kondom pria

– Kondom wanita

– Diafragma

– Spermisida

Efektivitas metode penghalang bervariasi. Menurut CDC, metode penghalang efektif 12-28% dalam mencegah kehamilan. Diafragma dan kondom pria adalah yang paling efektif dari metode ini, sedangkan spermisida paling kecil kemungkinannya untuk mencegah kehamilan.

Metode penghalang biasanya gagal karena kesalahan pengguna. Dalam beberapa kasus, seseorang mungkin tidak menggunakan alat kontrasepsi metode penghalang cukup dini, sehinga memungkinkan sperma masuk ke vagina.

Kedua jenis kondom juga rawan pecah atau robek, dan diafragma kadang bisa lepas dari tempatnya. Apabila hal ini terjadi, maka ada kemungkinan sperma masuk dan mencapai sel telur.

4. Metode alami

Metode kontrasepsi alami tidak bergantung pada pil atau alat untuk mencegah kehamilan. Sebagian besar metode kontrasepsi alami membutuhkan perencanaan yang cermat dan kerja sama dari kedua pasangan.

Metode pengendalian kehamilan alami meliputi:

– Withdrawal, yaitu menarik penis sebelum terjadi ejakulasi.

– Metode kesadaran kesuburan, di mana seorang wanita selalu melacak siklus menstruasi dan suhu untuk mengidentifikasi kapan dia subur dan tidak subur.

– Amenore laktasi, yaitu ketika seorang wanita tidak subur saat menyusui dan mungkin tidak perlu menggunakan kontrasepsi.

Metode kontrasepsi alami memiliki tingkat kegagalan yang sangat tinggi. Menurut CDC, metode withdrawal memiliki tinggal kegagalan 22%, sedangkan metode kesadaran kesuburan sekitar 24%.

Sementara menurut Planned Parenthood, metode amenore laktasi mungkin efektif hingga 98% jika pada kondisi berikut:

– Bayi masih berusia di bawah 6 bulan.

– Wanita menyusui bayinya setiap 4-6 jam.

– Bayi hanya meminum ASI dan tidak minum susu formula.

– Wanita belum mengalami masa nifas.

Semua metode alami pengendalian kelahiran sangat bergantung pada kesadaran tubuh. Beberapa wanita mungkin melakukan kesalahan dalam menghitung kapan mereka subur atau mungkin tidak memenuhi kriteria untuk menjadikan metode amonere laktasi sebagai metode KB yang efektif.

Penting juga untuk diperhatikan bahwa metode withdrawal seringkali gagal untuk mengendalikan kehamilan karena cairan pre-ejakulasi juga dapat mengandung sperma. (BAG)

Baca juga: Alat Kontrasepsi dapat Menurunkan Gairah Seksual, Benarkah?

Referensi

Medical News Today. “Is it possible to get pregnant while on birth control?“.

Comment

News Feed