by

Apa Penyebab Gagap? Yuk, Mengenal Lebih Dekat Gagap Neurogenik!

Geng Sehat mungkin pernah menjumpai orang gagap. Bahkan di dunia industri hiburan, gagap dijadikan sebuah lawakan, seperti karakter Azis Gagap. Masih banyak yang belum tahu kalau sebenarnya gagap merupakan sebuah penyakit. Tahukah Kamu kalau sejak tahun 1998, tanggal 22 Oktober diperingati sebagai Hari Kesadaran Gagap Internasional? Sudah 22 tahun peringatan ini dilakukan di berbagai negara di dunia, terutama di Amerika,makanya sudah saatnya kita juga mulai mengenal penyakit gagap ini.

Baca juga: Ini Cara Mengantisipasi Hambatan Berbicara pada Si Kecil

Apa Penyebab Gagap?

Masih banyak mitos seputar gagap yang banyak dipercaya di masyarakat. Misalnya oleh beberapa orang gagap seringkali disalahartikan sebagai bentuk ekspresi dari rasa pemalu, tidak percaya diri, cemas atau nervous.

Percayalah, pada orang dengan penyakit gagap, saran untuk mengambil napas dalam-dalam atau memikirkan apa yang ingin dikatakan sebelum bicara tidak akan membantu apa-apa, yang ada malah membuat orang tersebut jadi sedih atau tersinggung.

Selain itu, gagap seringkali dianggap sebagai salah satu ciri kurangnya kecerdasan. Padahal ada banyak orang pintar dan terkenal yang ternyata mengidap penyakit gagap. Raja Inggris King George VI, Charles Darwin, Issac Newton, Stephen Hawking, George Washington, dan Theodore Roosevelt, merupakan sedikit contoh dari orang-orang gagap yang mempengaruhi dunia. Jadi tidak ada korelasi antara penyakit ini dengan tingkat intelegensi seseorang.

Secara umum ada 3 klasifikasi gagap yang dikenal yaitu:

  • Gagap pertumbuhan, umumnya terjadi pada anak di bawah 5 tahun dan akan berangsur membaik seiring dengan bertambahnya usia. Gagap ini terjadi ketika anak belum mampu mengungkapkan isi pikiran dengan baik.
  • Gagap psikogenik, terjadi pada orang yang mengalami stres secara emosional hingga trauma psikologis. Tipe ini sangat jarang terjadi di masyarakat.
  • Gagap neurogenik, biasanya timbul sebagai akibat dari gangguan pada otak, syaraf dan otot yang berperan dalam kemampuan berbicara. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh stroke atau cedera otak.

Dari ketiganya, gagap pertumbuhan merupakan topik yang paling sering muncul di media, sementara dua tipe lainnya yang umumnya terjadi pada orang dewasa sangat jarang dibahas.

Baca juga: Gagap, Penyakit atau Bukan?

Mengenal Gagap Neurogenik

Gagap neurogenik yang dikenal juga dengan istilah neurogenic speech disorder merupakan merupakan masalah kemampuan berbahasa terbesar pada orang dewasa. Sekitar 41 – 42% masalah kemampuan komunikasi ini disebabkan oleh gangguan pada otak sebagai pusat kendali utama yang kemudian berdampak pada penghantaran sinyal pada sistem saraf serta motorik otot.

Bagian otak yang paling berpengaruh terhadap kemampuan linguistik seorang manusia adalah otak besar. Pada otak besar terdapat gumpalan berwarna putih yang disebut sebagai korteks serebral, bagian inilah yang terlibat secara langsung dalam mengelola proses kognitif manusia termasuk kemampuan berbahasa. Lebih dalam lagi, korteks serebral ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu hemisfer kiri dan hemisfer kanan atau yang awam kita kenal dengan istilah otak kiri dan otak kanan.

Seorang ahli bedah Prancis bernama Paul Broca pada penelitiannya di tahun 1861 menemukan hubungan keretakan saraf pada otak kiri bagian depan terhadap kemampuan berbicara. Bagian otak ini selanjutnya diberi nama medan Broca sesuai dengan nama penemunya.

Di dalam medan Broca terdapat saraf-saraf yang mengatur gerak motorik muka, lidah, bibir, langit-langit, pita suara dan lain-lain yang merupakan penunjang berbicara sehingga kerusakan pada bagian ini mengakibatkan kegagalan memproduksi ucapan.

Sayangnya hingga saat ini, tidak ada obat yang terbukti efektif untuk mengobati gagap neurogenik. Satu-satunya pengobatan yang dinilai efektif adalah dengan terapi wicara (speech therapy). Para peneliti masih terus berusaha untuk melanjutkan penelitian terkait gagap neurogenik ini untuk menemukan peluang kemungkinan pengobatan baru yang lebih efektif.

Baca juga: Anak Tidak Kunjung Bicara, Late Blooming atau Speech Delay?

Sumber:

  1. Simanjuntak, Mangantar. Pengantar Neuropsikolinguistik. Menelusuri Bahasa, pemerolehan Bahasa dan Hubungan Bahasa dengan Otak. 2009:192-193
  2. Cruz C, Amorim H, Beça G, Nunes R. Neurogenic stuttering: a review of the literature. Rev Neurol 2018;66 (02):59-64
  3. Duffy J, Manning R. K,Roth C. R. Acquired Stuttering in Post Acquired Stuttering in Post-Deployed Service Members: Neurogenic or Service Members: Neurogenic or Psychogenic. ASHA. 2012

Comment

News Feed