by

Kok, Kakak Suka Sekali Mengganggu Adiknya?

Kata orang punya anak banyak maka akan banyak rezeki. Selain rumah bertambah ramai dan seru, semakin banyak limpahan kasih sayang. Eh… tapi kok si Kakak suka mengganggu adik-adiknya, ya? Apakah itu termasuk tanda ia cemburu?

Idealnya sih, anak-anak akur dengan semua saudaranya. Sayang sekali, pada kenyataannya tidak selalu demikian. Bahkan, menurut salah satu artikel di Study Finds, jumlah perundung terbesar di keluarga adalah kakak laki-laki. Sementara itu, yang paling rentan menjadi korbannya adalah adik paling kecil, baik laki-laki maupun perempuan.

Penyebab Kakak Sering Mengganggu Adiknya

Menurut sebuah penelitian di University of Warwick, beberapa kemungkinan di bawah ini menjadi penyebab kakak suka mengganggu adiknya, sampai-sampai sang Adik menangis marah atau ketakutan.

  • Model pengasuhan atau parenting style.
  • Struktur keluarga.
  • Interaksi sosial sejak dini.
  • Sifat atau temperamen anak.

Menurut Dieter Wolke, PhD., dalam jurnal American Psychology Association, persaingan antar saudara atau siblings rivalry dianggap wajar dalam keluarga. Semua anak pasti pernah mengalaminya, baik sebagai pelaku perundungan maupun korbannya. Sayangnya, karena cenderung tidak ditanggapi dengan serius, banyak orang tua yang tidak sadar dengan efek jangka panjang yang ditimbulkannya di kemudian hari.

Tiga efek jangka panjang dari siblings rivalry yang paling sering ditemukan adalah:

  • Perasaan kesepian pada korban.
  • Kenakalan yang meningkat, baik pada si pelaku maupun korban.
  • Masalah kesehatan mental.
Baca juga: Boleh Tidak Anak Kerokan?

Beberapa Contoh Cara Kakak Mengganggu Adiknya

Seperti apa biasanya kakak mengganggu adiknya? Perundungan karena siblings rivalry bisa berupa:

  • Kekerasan psikologis, seperti mengejek adik dengan sebutan yang menyakitkan.
  • Kekerasan fisik, seperti memukul, menendang, atau mendorong.
  • Kekerasan emosional, seperti sengaja tidak mengajak adik bermain atau berbohong kepada Mums dan Dads saat menjahili adiknya.

Sebuah penelitian di Inggris mengamati anak-anak yang lahir pada tahun 1991-1992 serta bagaimana ibu mereka. Banyak faktor yang ikut berperan besar menjadi latar belakang alasan terjadinya siblings rivalry dalam keluarga, misalnya usia anak, status menikah ibu (masih bersama ayah atau menjadi ibu tunggal), hingga jumlah anak dalam keluarga.

Ternyata, faktor terbesar penyebab kakak suka mengganggu adiknya di rumah adalah karena jumlah anak yang banyak. Cemburu yang dirasakan kakak bisa karena bersaing mendapatkan perhatian orang tua hingga perkara pembagian uang jajan, mainan, dan masih banyak lagi.

Tanda-tanda stres pada anak sendiri antara lain kesulitan tidur, tidak mengerjakan pekerjaan rumah, menjadi pemberontak, dan perubahan kepribadian. Jika Mums mendeteksi tanda-tanda tersebut pada sang Kakak atau si Adik, segeralah berkonsultasi dengan ahli untuk mendapatkan terapi keluarga.

Baca juga: Waspada, Inilah Tanda-tanda Kesepian dalam Pernikahan!

Bagaimana Cara Menghentikan Kakak Supaya Tidak Mengganggu Adiknya Lagi?

Sebenarnya, anak-anak harus belajar cara mengelola konflik sedini mungkin. Jadi, mereka akan terbiasa menghadapi perbedaan pendapat saat dewasa nanti. Namun, bagaimana bila konflik berujung pada pertengkaran atau bahkan perkelahian? Sebelum terlanjur saling menyakiti, saatnya Mums dan Dads turun tangan. Beberapa cara di bawah ini bisa dicoba:

  1. Segera menghentikan kekerasan yang terjadi

Kakak dan adik mulai saling memukul dan mengejek? Segera pisahkan mereka, Mums. Beritahu keduanya kalau perilaku kasar seperti itu tidak bisa diterima di rumah. Beri tahu mereka bahwa perilaku agresif dan kejam tidak akan ditoleransi.

Kemudian, disiplinkan keduanya sesuai dengan akar masalah mereka. Ajarkan kakak dan adik untuk menghormati satu sama lain meskipun sedang tidak sepakat terhadap suatu hal. Tunjukkan pula contoh relasi yang sehat.

  1. Membuat anak yang mengganggu duluan untuk bertanggung jawab

Apa pun alasannya, beritahu anak-anak bahwa melakukan perundungan kepada saudaranya adalah pilihan mereka sendiri. Pertegas bahwa melakukan hal tersebut dapat menimbulkan rasa sakit hati pada saudara mereka. Lagipula, bukankah mereka sendiri juga tidak mau mendapatkan perlakuan serupa?

Bagaimana agar anak tidak mengulangi perbuatan tidak terpuji? Mums perlu memberikan konsekuensi yang sesuai, apakah ia harus dihukum dan meminta maaf kepada saudaranya di depan Mums atau untuk sementara waktu kehilangan haknya, seperti pemotongan jam bermain atau waktu tidur lebih cepat?

Pastikan hukuman sesuai dengan tingkat keparahan perundungan. Namun, lebih baik lagi kalau hukuman tersebut dapat menyadarkan kakak agar tidak lagi mengganggu adiknya. Tidak hanya itu, adik juga harus diajarkan untuk menghormati kakaknya.

Baca juga: Meningkatkan Sistem Imun Si Kecil di Tengah Pandemi Covid-19
  1. Mencegah kecemburuan antar saudara kandung

Cemburu memang wajar, tetapi jangan sampai diperparah dengan perlakuan Mums yang tidak adil. Hindari memberikan label kepada anak, seperti si Pintar dan si Pemalas. Apalagi bila perkara fisik ikut dibanding-bandingkan, seperti terang-terangan menyebut adik lebih cantik dari kakak.

Meskipun kakak dan adik punya kualitas berbeda sebagai seorang anak, yakinkan bahwa mereka sama-sama unik dan berharga. Bila kebutuhan kakak maupun adik dipenuhi, maka tidak ada lagi rasa cemburu hingga timbul keinginan untuk saling mengganggu.

  1. Memberi contoh agar anak saling menghormati

Anak adalah peniru sempurna orang tua. Mums dan Dads bisa memberi contoh baik dengan saling menghormati. Bila hubungan Mums dan Dads harmonis, anak akan mengikutinya. Ajaklah anak untuk menjadi teman baik bagi saudaranya sendiri dulu. Mums juga bisa memberikan contoh lewat cara yang lain, misalnya membacakan buku cerita yang sarat akan nilai filosofis keluarga.

  1. Mengajarkan empati

Berkaitan dengan poin sebelumnya, ajarkan anak berempati untuk mencegah perundungan berlanjut. Anak yang menyadari bahwa perundungan hanya akan menyakiti sesama berarti sudah memiliki kepekaan sosial yang baik. Bahkan, empati dapat meningkatkan kecerdasan emosional anak.

  1. Mengajarkan cara mengatasi konflik dan menyelesaikan masalah

Anak-anak tidak secara otomatis tahu cara mengatasi konflik dan menyelesaikan masalah. Daripada jadi ribut, lebih baik ajak anak-anak untuk bekerja sama dalam menyelesaikan masalah mereka.

  1. Berusaha mencegah perundungan

Lalu, bagaimana cara mencegah kakak agar tidak mengganggu adiknya lagi? Awasi interaksi mereka untuk sementara waktu. Bila si Kakak mulai mengganggu adiknya lagi, meskipun dengan alasan iseng, perhatikan reaksi adik. Bila adik sudah tampak biasa saja atau membalas dengan lebih cerdas, berarti adik sudah bisa membela diri sendiri. Jangan lupa, selalu ingatkan anak-anak bahwa saling menyayangi itu jauh lebih baik.

Tidak perlu merasa Mums adalah orang tua yang buruk bila kakak suka mengganggu adiknya. Ini hanya cara mereka untuk berinteraksi dan saling menyesuaikan diri. Yang penting, tetap awasi interaksi mereka sekaligus selalu mengingatkan anak-anak untuk saling menyayangi. (AS)

Baca juga: Tantangan School from Home bagi Balita dan Orang Tua

Referensi

Study Finds: Brotherly Love? Study Reveals Why Older Siblings Bully, Compete With Younger Ones

Verywell Family: 7 Ways Parents Can Address Sibling Bullying

Daily Mail: Older brothers really ARE the biggest bullies: Study of 6,838 children backs up what younger siblings always suspected (and it’s worse in larger families)

Reuters: Younger siblings with older brothers more likely to be bullied

Healthline: What to Do When Your Kid’s Biggest Bully Is Their Sibling

Empowering Parents: Siblings at War in Your Home? (Declare a Cease-fire Now!)

The Attached Family: When Siblings Hurt Each Other

Deseret News: Why sibling bullying is more likely in families with several kids — and why it should be taken seriously

Comment

News Feed