by

Apakah Minyak CBD Aman Digunakan untuk Penderita Diabetes?

Diabestfriends pernah mendengar tentang minyak CBD? Minyak CBD adalah singkatan dari minyak cannabidiol atau bisa juga disebut minyak ganja. Minyak ini merupakan ekstrak dari tanaman ganja.

Meskipun tanaman ganja dilarang di banyak tempat, termasuk Indonesia, banyak ahli yang mengatakan bahwa minyak CBD memiliki beragam manfaat kesehatan, termasuk untuk diabetes. Berikut penjelasan lengkap tentang apakah minyak CBD aman digunakan untuk diabetes!

Baca juga: 5 Minuman yang Aman untuk Orang dengan Diabetes

Apa itu Minyak CBD dan Bagaimana Cara Menggunakannya?

Minyak CBD atau minyak cannabidiol merupakan ekstrak tanaman ganja dan dicampur dengan zat yang disebut ‘minyak pembawa’, seperti minyak kelapa. CBD adalah satu dari sejumlah senyawa yang ada di dalam tanaman ganja, yang disebut cannabinoid.

Namun, CBD tidak mengandung tetrahydrocannabinol (THC), senyawa cannabinoid yang menyebabkan sensasi ‘high’ pada orang yang menyalahgunakan ganja. THC merupakan senyawa yang menyebabkan efek mabuk dan ketergantungan.

Minyak CBD tidak menyebabkan sensasi ‘high’, namun minyak ini dapat meredakan sejumlah gejala, seperti nyeri kronik, kecemasan, dan depresi. Minyak CBD bukan untuk dihirup, melainkan untuk dikonsumsi dan bisa dicampurkan ke dalam makanan.

Minyak CBD juga bisa dioleskan di kulit. Namun, minyak CBD paling banyak digunakan dengan cara meneteskan minyak murninya di bawah lidah, kemudian diamkan selama 60 detik untuk membiarkanya menyerap ke pembuluh darah. Setelah 60 detik, barulah Diabestfriends bisa menelannya. Seberapa banyak minyak CBD yang dikonsumsi biasanya ditentukan oleh dokter. Namun, pada umumnya dosis yang diberikan adalah 2.5-20 mg per hari.

Baca juga: Cara Mengatasi Hipoglikemia dengan Aturan 15-15

Apakah Minyak CBD Aman Digunakan untuk Penderita Diabetes?

Diabetes merupakan penyakit inflamasi dan minyak CBD mengandung bahan-bahan anti inflamasi. Menurut penelitian, minyak CBD berpotensi dapat menurunkan resistensi insulin dan mengontrol kadar gula darah pada penderita diabetes tipe 2 yang tidak menjalani terapi insulin.

BACA JUGA:  Tips Cabut Gigi untuk Penderita Diabetes

Ahli dan praktisi pengobatan yang disbeut Holistic Cannabis, Emily Kyle menjelaskan, sama seperti obat atau suplemen lain, ada sejumlah risiko menggunakan minyak CBD untuk diabetes, baik tipe 1 maupun tipe 2. Kekhawatiran terhadap risikonya ini beragam, mulai dari dari jenis dan kualitas produknya hingga potensi efek samping.

Kekhawatiran utama adalah kemungkinan interaksi minyak CBD dengan penderita diabetes yang mengonsumsi obat atau menjalani terapi insulin untuk mengontrol kondisinya. Ahli percaya bahwa endocannabinoid bisa mendukung sensitivitas insulin, bukan menghambatnya.

Masih kurang studi atau uji klinis terkait panduan aman menggunakan minyak CBD, serta keefektifannya. Selain itu, CBD juga merupakan satu dari ratusan cannabinoid. Belum jelas apakah cannabinoid lain, seperti CBN atau THC, yang bisa ditemukan di produk minyak CBD (dalam dosis rendah) bisa berdampak terhadap diabetes.

Efek terhadap Kadar Gula Darah

Studi klinis pada manusia tentang efek langsung dari minyak CBD terhadap kadar gula darah masih sangat minim. Hal ini umumnya disebabkan karena tanaman ganja dilarang di banyak negara, termasuk Indonesia.

Sejauh ini yang sudah diketahui adalah sistem endocannabinoid tubuh memiliki peran penting dalam regulasi metabolisme energi, dan hal ini penting untuk penderita diabetes. Ini artinya sistem endocannabinoid berperan penting terhadap cara tubuh merespon insulin, serta menurunkan atau meningkatkan insulin.

Diabestfriends tidak boleh sembarang menggunakan minyak CBD. Diabestfriends harus konsultasi dengan dokter terlebih dahulu. Nantinya, dokter akan menilai, apakah Diabestfriends membutuhkan minyak CBD sebagai bagian dari pengobatan. (UH)

Baca juga: Bolehkah Penderita Diabetes Minum Vitamin C?

Sumber:

Healthline. Ten Questions Answered on CBD Oil and Diabetes. Mei 2019.
Roja Motaghedi. The CB1 Endocannabinoid System Modulates Adipocyte Insulin Sensitivity. September 2012.

Comment