Hadiah Uang untuk Bayi Lahir di Singapura saat Pandemi Picu Protes

KalbarOnline.com – Angka kelahiran di Singapura terbilang rendah selama pandemi. Sebagian orang di sana menunda kehamilan selama pandemi. Berdasar itu, Singapura memberikan hibah bagi bayi yang lahir.

Hanya saja, aturan yang baru berlaku mulai Oktober 2020 tersebut memicu protes para orang tua. Mereka mengatakan aturan tersebut seharusnya dimulai saat pandemi atau mulai awal 2020. Hibah bisa mencapai USD 3 ribu hingga USD 10 ribu atau setara Rp 140 juta. Tujuannya untuk membantu orang tua di tengah pandemi Covid-19.

  • Baca juga: Di Singapura, Hamil dan Punya Momongan Selama Pandemi Diberi Bonus

Kebijakan tersebut memicu debat online di antara pengguna Facebook seperti laporan Straits Times. Para ibu dan ayah dari anak-anak Singapura yang lahir dari hari pertama bulan Oktober hingga 30 September 2022, akan menerima hadiah berupa Hibah Dukungan Bayi, selain uang tunai Bonus Bayi yang bisa mencapai USD 10.000.

Dilansir dari Straits Times, Senin (12/10), jumlah tersebut akan disetorkan mulai April tahun depan, atau dalam satu bulan setelah pendaftaran ke skema Bonus Bayi. Sementara sebagian besar pengguna Facebook ST menyambut baik berita tersebut. Namun banyak yang bertanya mengapa hibah akan diberikan hanya kepada mereka yang memiliki bayi yang lahir mulai bulan ini dan seterusnya.

“Bukankah seharusnya Pemerintah memberikan paket kepada keluarga Singapura yang melahirkan sejak CB (circuit breaker) dimulai? Kenapa baru mulai 1 Oktober?” kata seorang pengguna bernama Eliana Amin.

Seorang netizen bernama PY memulai petisi pada Jumat di Change.org untuk meminta pemerintah memberikan bantuan kepada semua orang tua yang bayinya lahir tahun ini.

“Setiap orang tua dengan bayi yang baru lahir selama pandemi ini akan menghadapi semacam tekanan finansial dan ketidaknyamanan dan tentunya akan mendapat manfaat dari dukungan tambahan ini. Selain itu, Covid-19 telah dimulai sejak awal 2020. Oleh karena itu, akan adil jika hibah ditawarkan kepada semua orang tua dari bayi yang baru lahir yang lahir pada tahun 2020,” kata petisi tersebut.

BACA JUGA:  Satgas Covid-19: Kebijakan PPKM Bersifat Wajib

Lebih dari 7.600 orang telah menandatanganinya. Di situs web, Kristyn Neo menjelaskan alasannya mendukungnya. “Saya punya bayi tepat di puncak situasi Covid-19 di Singapura dan membayar lebih untuk layanan karena kelangkaan karena penguncian,” tukasnya.

Divisi Populasi dan Bakat Nasional Singapura (NPTD), yang bersama-sama mengelola Hibah Dukungan Bayi dengan Kementerian Sosial dan Pengembangan Keluarga, mengatakan pihaknya memahami bahwa beberapa orang tua yang melewatkan tanggal masuk mungkin kecewa karena mereka tidak memenuhi syarat.

“Kami ingin publik paham bahwa tanggal mulai yang spesifik diperlukan untuk setiap langkah baru,” kata NPTD pekan lalu.

Ditambahkan bahwa anak-anak yang lahir sebelum 1 Oktober masih dapat menikmati banyak manfaat dalam program Paket Pernikahan dan Menjadi Orang Tua. Biaya hidup di Singapura memang cukup tinggi apalagi untuk membesarkan bayi di Singapura.

Biayanya, perkiraan pada 2018 mencapai beberapa ratus ribu dolar hingga lebih dari setengah juta. “Itu sebabnya bantuan apa pun harus disambut,” kata pengguna Facebook lainnya.

Pejabat di Kantor Perdana Menteri Indranee Rajah mengatakan Pemerintah berharap bantuan tersebut akan menjadi dorongan lebih lanjut yang mendorong pasangan untuk tidak menunda rencana mereka untuk menikah dan memulai sebuah keluarga.

Namun, beberapa orang bertanya-tanya, apakah jumlahnya cukup untuk memberikan dorongan atau keinginan itu. Yang lain merasa bahwa uang bukanlah masalahnya. Salah satunya adalah faktor gaya hidup anak muda atau pasangan muda di Singapura yang memang belum siap mendapatkan momongan.

Saksikan video menarik berikut ini:

Comment