by

Ikuti Tips Ini Agar Balita Tidak Agresif

Namanya juga balita, tingkah laku mereka tidak bisa diprediksi. Terkadang menggemaskan, namun dalam beberapa saat berubah menjengkelkan, membuat Mums dan Dads kesal dan menghela nafas panjang. Perilaku agresif pada balita dapat terjadi dalam berbagai bentuk, di antaranya memukul, menendang, mengigit, menghancurkan benda, serangan verbal, serta mengontrol orang lain melalui ancaman atau kekerasan.

“Di beberapa kasus, mereka menjadi agresif karena frustrasi dengan masalah yang muncul. Selain itu, mereka belum belajar bagaimana mengendalikan impulsnya atau menyelesaikan konflik dengan cara yang dapat diterima secara sosial. Ya, memang menjengkelkan. Namun, perilakunya akan semakin membaik seiring bertambahnya umur,” kata Gwen Dewar, Ph.D, penulis dan juga antropolog.

Baca juga: Tips Mengatasi Balita Memukul Kalau Lagi Marah

Penyebab Anak Berperilaku Agresif

Dalam kasus lain, perilaku anak-anak yang agresif berkaitan dengan kesulitan khusus seperti masalah regulasi emosional, kurang mendapat perhatian orang tua, gejala autistik atau hiperaktif. Namun, dalam semua kasus, bahkan di mana anak-anak telah didiagnosis dengan gangguan tingkah laku yang serius, orang dewasa, terutama orang tua, dapat memiliki pengaruh yang kuat.

Maka dari itu, Mums dan Dads bisa membantunya untuk menyadari apa yang memicu amarah buah hati tercinta. Biasanya, seorang anak cenderung bertindak agresif ketika merasa lelah, lapar, haus, atau sedang tidak sehat.

“Perilaku balita menjadi agresif dapat terjadi ketika mereka merasa kewalahan atau frustrasi saat bermain dengan teman-temannya. Mereka mungkin bertindak agresif jika tidak dapat menemukan kata-kata yang mengungkapkan perasaannya. Yang pasti, perilaku agresif seorang anak dibentuk oleh kondisi lingkungan, seperti tekanan, ancaman, peluang, dan konsekuensi yang dialami anak, ujar Gwen.

Baru-baru ini, satu penelitian mengonfirmasi bahwa faktor genetik menempatkan beberapa anak pada risiko lebih tinggi untuk berperilaku agresif. Dan, anak-anak lebih mungkin mengalami masalah perilaku agresif jika mereka dihadapkan pada stres sejak kecil. Tingkah laku anak yang agresif juga juga dipengaruhi lingkungan di luar rumah. “Efek lingkungan tesebut akan bervariasi, tergantung gen anak, faktor prenatal, dan paparan stres di awal kehidupan,” ucap Gwen.

Studi menunjukkan bahwa beberapa anak tidak mengalami lonjakan normal hormon stres kortisol sebagai respons terhadap situasi stres. Balita lain mungkin mengalami lonjakan, tapi membutuhkan waktu yang sangat lama untuk pulih.

Dikatakan Gwen, dua anak tersebut berisiko lebih tinggi mengembangkan masalah perilaku agresif. “Orang tua harus mempelajari taktik khusus menangani perilaku anak yang agresif. Bukan hal mudah karena bisa membuat kita stres saat menghadapi anak. Jika tidak diatasi dengan baik, dapat memperburuk masalah,” tuturnya.

Baca juga: Menghadapi Tingkah Agresif Si Kecil

Tips Agar Balita Tidak Agresif

Agar anak Mums dan Dads tidak berperilaku agresif, berikut tips yang bisa dilakukan.

Jangan tersinggung dan pesimis.

Ingatlah bahwa anak Mums tidak bisa memproses emosi dan informasi seperti yang dilakukan orang dewasa. Bahkan, balita tidak mengerti perasannya sendiri. Jadi, jangan pernah berpikir bahwa anak menjadikan Mums sebagai sasaran ketika mereka marah. Penelitian di tahun 2015 mengungkapkan bahwa, seorang ibu yang menerapkan pola asuh negatif dengan permusuhan, dapat berpengaruh buruk pada perkembangan anak, salah satunya tingkah laku anak menjadi agresif.

Realistis dengan kemampuan anak untuk mengikuti aturan yang diterapkan di rumah.

Balita memiliki rentang perhatian yang lebih pendek dan mudah teralihkan. Itulah kenapa mereka membutuhkan lebih banyak waktu untuk memproses instruksi verbal. Mungkin, anak Mums butuh waktu dan latihan untuk mempelajari informasi baru serta beradaptasi dengan perubahan aturan atau prosedur.

“Jadi, ketika Mums memberikan petunjuk agar anak melakukan sesuatu, jangan berharap mereka akan merespons dengan cepat dan efisien. Anak bekerja dengan kecepatan lebih lambat. Sulit bagi mereka untuk beralih dari satu aktivitas ke aktivitas lainnya. Anak membutuhkan kita untuk memberi petunjuk yang jelas dan sederhana,” aku Gwen.

Baca juga: Duh, Si Kecil Suka Memukul Dirinya Sendiri saat Kesal!

Lebih realistis tentang pengembangan empati dan kebaikan.

Balita masih belajar tentang emosi seperti bagaimana mengatur suasana hati mereka dan membaca pikiran orang lain. Karena lebih mudah terancam, balita cenderung melindungi kepentingannya sendiri.

“Meskipun perilaku anak mungkin terlihat egois, bukan berarti mereka mementingkan diri sendiri. Faktanya, anak-anak menunjukkan empati dan kebaikan sejak usia dini. Saat balita gagal menunjukkan kepedulian terhadap orang lain, itu karena mereka memandang situasi secara berbeda atau tidak tahu bagaimana mengendalikan impulsnya. Mereka membutuhkan kesempatan untuk mengembangkan hubungan yang aman dengan kita, berbicara tentang perasaan dan sinyal emosional orang lain,” jelas Gwen.

Beri tanggung jawab yang lebih besar.

Jika anak Mums membuat kekacauan atau merusak sesuatu, beri tahu dia untuk memperbaikinya. Jelaskan padanya bahwa hal tersebut bukanlah hukuman, melainkan sesuatu yang harus dilakukan apabila kita melakukan kesalahan. Dorong anak untuk meminta maaf karena bagaimana pun, apa yang dia lakukan telah menyakiti seseorang. Jelaskan padanya bahwa penting untuk meminta maaf dengan tulus.

Beri pujian saat anak berperilaku baik.

Tidak sekadar mengoreksi anak saat dia bertindak agresif, Mums juga harus memberi pujian jika mereka berperilaku baik dan tenang. Katakan pada anak bahwa Mums bangga padanya dan jelaskan kenapa Mums memujinya. Dengan begitu, anak akan berpikir kalau hal tersebut baik untuk dilakukan.

Baca juga: Tips Supaya Si Kecil Bisa Menerima Kehadiran Adik Baru

Referensi:

ParentingScience. Taming aggression in children: 5 crucial strategies for effective parenting

babycentre. What to do when your child is aggressive

Comment

Terbaru