by

Cerita Pasien Long Covid yang Menderita Berbulan-bulan Usai Sembuh

KalbarOnline.com – Saat pasien Covid-19 dinyatakan sembuh, ternyata ada yang sebagian masih menderita selama berbulan-bulan dengan berbagai gejala lain. Ada yang merasa kelelahan, masalah gangguan napas, dan berbagai gejala lainnya. Kisah itu terjadi pada perempuan di London, Inggris, bernama Jade.

Sebelum pandemi Covid-19, Jade menjalani kehidupan yang sangat sibuk. Perempuan 32 tahun tersebut menyeimbangkan pekerjaannya dan pergi ke gym tiga kali seminggu. Tetapi pada dini hari tanggal 15 Maret, Jade pulang dari di tempat kerja dan merasa sangat lelah. Dia tahu ada sesuatu yang tidak beres.

  • Baca juga: 60 Ribu Orang Alami Long Covid, Rasakan Sesak Napas Berbulan-bulan

“Saya merasa tidak enak. Saya mulai merasa sangat panas dan dingin. Saya terus batuk, batuk, dan batuk,” ungkap Jade seperti dilansir BBC.

Seiring berjalannya waktu, Jade yang juga menderita asma dan hidup sendiri, mulai merasa semakin tidak sehat dan takut. Dia menelepon 111. Mereka mengirim ambulans ke flatnya di lantai dasar, tetapi paramedis menolak untuk masuk.

“Mereka berbicara kepada saya melalui jendela dan bertanya apa yang terjadi,” katanya.

Berbaring di tempat tidur dan berjuang untuk berbicara, Jade menjelaskan bahwa dia merasa sulit bernapas dan mengalami nyeri hebat di dadanya. Dia diberi tahu bahwa dia menderita batuk Covid klasik. Lantaran masih muda, tubuhnya dinilai cukup kuat untuk pulih dan tak perlu ke rumah sakit.

“Apa yang harus saya lakukan dengan pernapasan saya? Saya menderita asma. Saya hidup sendiri, jadi jika terjadi sesuatu, saya tidak punya siapa-siapa untuk mendukung saya. Apa yang harus saya lakukan?” katanya.

Waktu berjalan, Jade mulai membaik. Tetapi setiap kali dia mengira akan sembuh, gejalanya muncul kembali. Pada Mei, Jade merasa cukup sehat untuk mulai bekerja paruh waktu dari rumah. Dia masih mengalami nyeri dada dan kelelahan. Namun, sebagai seseorang yang terbiasa dengan kehidupan yang sibuk, dia merasa bisa mengaturnya. Lalu, di akhir bulan, ada yang berubah.

“Dadaku kondisinya menjadi sangat buruk lagi. Saya kesulitan bernapas dan tidak bisa bangun dari tempat tidur,” katanya.

“Kelelahan seperti ini tidak seperti yang pernah saya alami sebelumnya,” imbuhnya.

Perlahan kondisi Jade mulai membaik. Kadang-kadang dia tidur lebih dari 16 jam per hari, dan berjuang dengan aktivitas sehari-hari yang dibutuhkan untuk menjaga dirinya sendiri. “Ketika saya periksa pada akhir Juli, dokter mengatakan saya mengalami kelelahan pasca-virus,” jelasnya.

“Ketika saya berbicara dengan dokter mengenai keluhan pusing dan tentang kelelahan, dokter secara terbuka menyatakan bahwa dia tidak tahu bagaimana memberikan dukungan kepada saya dan dokter bilang bahwa virusnya masih sangat baru. Ini tentu saja membuat saya merasa lebih buruk,” tuturnya.

“Jika para dokter tidak bisa membantu, lalu siapa lagi yang bisa?” Jade balik bertanya.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengaku belum sepenuhnya memahami Covid-19. Dikatakan bahwa waktu pemulihan tipikal adalah dua minggu untuk pasien dengan penyakit ringan, dan hingga delapan minggu untuk pasien dengan penyakit parah. Pasien seperti Jade bisa mengalami gejala lebih lama.

Dalam kasus seperti Jade, WHO mengatakan gejalanya mungkin termasuk kelelahan yang ekstrem, batuk terus-menerus. Virus ini dapat menyebabkan peradangan pada paru-paru, sistem kardiovaskular, dan neurologis. Selain itu membutuhkan waktu lama bagi tubuh untuk pulih.

Saksikan video menarik berikut ini:

Comment

News Feed