by

Jalur Rempah, Masa Lalu untuk Masa Depan Indonesia

-Uncategorized-16 views

KalbarOnline.com – Ini tak cuma tentang legasi dari masa 4.500 tahun lalu. Ini juga soal peremajaan ladang, industri obat herbal, serta paket pariwisata.

Inilah: Jalur Rempah.

’’Jalur Rempah ini program identitas Indonesia yang selama ini banyak dilupakan orang,’’ kata Ketua Komite Program Jalur Rempah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Ananto K. Seta kepada Jawa Pos di Jakarta kemarin (18/9).

Program itu berupaya merekonstruksi perdagangan rempah di Nusantara yang berlangsung 4,5 milenium silam. Harapannya, bisa turut mendorong perekonomian demi kesejahteraan masyarakat.

Pada November nanti Indonesia mengusulkan Jalur Rempah ke UNESCO (badan PBB yang mengurusi pendidikan dan kebudayaan) sebagai world heritage atau warisan dunia. Diharapkan, keputusan UNESCO sudah diketok pada 2024 atau 2025.

Ada dua alasan menghidupkan kembali kehangatan cita rasa rempah melalui program Jalur Rempah. Pertama, dari rempahnya sendiri.

ILUSTRASI JALUR REMPAH NUSANTARA. (BUDIONO/JAWA POS)

Ananto mengatakan, Indonesia atau Nusantara adalah tempat satu-satunya di muka bumi ini yang dipilih Tuhan untuk tumbuhnya rempah-rempah. Khususnya pala di Banda dan cengkih di Ternate. ’’Pala dan cengkih yang aslinya dari Indonesia turut berkontribusi pada sejarah peradaban dunia,’’ katanya.

Baca juga: Ikuti Resep Teh Rempah Kunyit Untuk Tingkatkan Kekebalan Tubuh

Kedua, jalur rempah saat itu menjadi cikal bakal perdagangan komoditas yang dilakukan nenek moyang bangsa Indonesia. Melintasi pulau dan melibatkan beragam suku.

Rutenya dimulai dari timur ke barat. Di setiap titik persinggahannya, terjadi asimilasi budaya, kemudian membentuk Nusantara.

’’Tidak sampai di ujung Sumatera saja. Sampai ke Sri Lanka, India, Mesir, Afrika Selatan, juga Madagaskar,’’ katanya.

Ananto menuturkan, program Jalur Rempah sejatinya digagas beberapa tahun lalu. Tetapi, tahun ini mulai digalakkan kembali.

Dia mengatakan, tiap tahun sudah ada tahapan atau timeline yang ditetapkan. Misalnya, tahun ini ditetapkan sebagai periode awareness atau membangun kesadaran masyarakat terhadap Jalur Rempah.

Beragam kegiatan sosialisasi seperti seminar, pemutaran film, dan lainnya sudah dan akan dikerjakan Kemendikbud. Tujuannya, membangkitkan ingatan masyarakat Indonesia. ’’Terutama di kalangan anak-anak muda,’’ jelasnya.

Setelah dibangun kesadaran, lanjut Ananto, tahun depan diharapkan banyak pihak yang terlibat dengan porsi masing-masing. Misalnya, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menawarkan paket pariwisata Jalur Rempah. Kementerian Pertanian melakukan peremajaan ladang-ladang rempah.

Baca juga: Persiapkan Busana Lebaran Unik Bermotif Rempah Cengkeh dan Pala

Lalu, Kementerian Kesehatan mendorong industri obat herbal berbasis rempah-rempah asli Indonesia. Selain itu, dikembangkan industri kreatif seperti fashion berbasis rempah. Dengan begitu, keberadaan jalur rempah bisa memiliki dampak ekonomi atau kesejahteraan kepada masyarakat.

Dia juga menegaskan bahwa rekonstruksi Jalur Rempah tidak dalam kacamata penjajah atau European-sentris. ’’Tetapi, kita narasikan Indonesia-sentris,’’ jelasnya.

Maksudnya, perdagangan rempah yang dilakukan sekitar 4.500 tahun lalu. Jauh sebelum penjajah masuk ke Nusantara.

Menurut Ananto, tahun ini sejatinya akan diadakan pelayaran sebagai rekonstruksi perjalanan Jalur Rempah dari timur ke barat sampai ke sejumlah negara. Menggunakan kapal KRI Dewaruci miliki TNI. Tapi, karena pandemi Covid-19, agenda itu digeser tahun depan.

Nanti, setelah sampai ujung Sumatera atau Banda Aceh dan bergerak ke sejumlah negara, berganti kapal dari KRI Dewaruci ke KRI Bima Suci. Pertimbangannya, kapasitas KRI Bima Suci lebih besar.

Ananto mengatakan, di setiap negara yang disinggahi akan digelar kegiatan seni dan budaya. Program tersebut sekaligus dijadikan misi diplomasi.

Pemerintah, terang Ananto, berharap pengajuan Jalur Rempah ke UNESCO tidak hanya dilakukan Indonesia. Tetapi juga negara-negara lain yang pada masanya dulu pernah bersinggungan dengan Jalur Rempah Nusantara.

Sementara itu, Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid menyebut program Jalur Rempah sebagai gerakan revitalisasi budaya dalam dimensi yang luas. ’’Sehingga mampu menggerakkan seluruh elemen untuk kemajuan kebudayaan, ekonomi rakyat, maupun kepentingan diplomasi budaya,’’ katanya.

Saksikan video menarik berikut ini:

Comment