by

Saran Legenda Juara Empat Kali Piala Thomas kepada Tim Indonesia 2020

KalbarOnline.com-Legenda tunggal putra Indonesia Hariyanto Arbi memiliki sejarah yang berkilau pada ajang Piala Thomas. Hari, panggilannya, menjadi bagian tim Indonesia yang merebut Piala Thomas empat kali pada 1994, 1996, 1998, dan 2000.

Indonesia sendiri sudah lama tak meraih gelar piala beregu putra paling bergengsi di dunia itu. Kali terakhir, Merah Putih berdiri di podium tertinggi pada Piala Thomas 2002 di Guangzhou, Tiongkok.

Pasca 2002, Indonesia dua kali mencapai final. Yakni pada 2010 di Kuala Lumpur dan pada edisi 2016 di Kunshan, Tiongkok.

Hari yang terkenal karena mendapatkan julukan Smash 100 Watt tersebut mengatakan bahwa peluang Indonesia untuk merebut Piala Thomas 2020 sangat besar. Lebih besar ketimbang tahun-tahun sebelumnya.

Apalagi, Indonesia menjadi unggulan pertama pada ajang yang berlangsung di Aarhus, Denmark, pada 3 sampai 11 Oktober 2020 tersebut. Pesaing terberat, kata Hari, bisa datang dari Tiongkok dan Jepang. “Kans tentu sangat besar. Ganda kita kuat, jadi kita cuma cari satu angka dari tunggal. Begitukan strateginya?” ucap Hari.

Jika tidak ada kejutan, pada Piala Thomas 2020, tim Indonesia akan diperkuat ganda nomor satu dan dua dunia Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo dan Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan.

Itu masih ditambah dengan pasangan nomor enam dunia yang tak kalah berbahaya yakni Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto.

Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo ketika berlaga di final All England 2020. Mereka akan menjadi ganda nomor satu Indonesia di Piala Thomas 2020. (Oli Scarff/AFP)

Tunggal Indonesia, kata Hari juga solid. Yakni pemain nomor enam dan tujuh dunia Anthony Sinisuka Ginting dan Jonatan Christie. “Jangan lupakan Vito (Shesar Hiren Rhustavito, Red). Dia bisa menjadi kuda hitam dan jadi kekuatan yang mengejutkan. Tinggal cari tahu, siapa tunggal ketiga lawan,” ucap juara dunia 1995 itu.

Hari sadar bahwa beban para pemain Indonesia sangat berat. Sebab, tim putra kita sudah lama tidak menjadi juara Piala Thomas. Hasrat untuk menyumbangkan gelar untuk negara, bisa saja memberatkan pikiran dan membuat pemain tidak lepas ketika bermain.

Hari menyarankan bahwa tim Indonesia harus kompak dan saling mendukung. Bahkan, jika salah seorang pemain sedang berlaga, pemain yang akan bertanding pada urutan berikutnya tidak usah menonton.

Hari khawatir, pemain yang bersangkutan sangat terbebani oleh tanggung jawab besar untuk menyumbangkan poin. Dampaknya, dia bisa tidak maksimal.

“Intinya rileks dan jangan tegang. Jangan sampai pemainan kawan sebelumnya membawa pengaruh pada permainan sendiri,” ucap Hari.

Selain itu, tim Indonesia harus serius dalam memetakan musuh. Dalam konteks pemain tunggal, tim pelatih dan seluruh pemain wajib duduk bersama untuk menganalisis kekuatan dan kelemahan pemain nomor satu sampai tiga lawan.

Tim Indonesia juga harus saling mengisi. Misalnya, ketika Jonatan berhadapan dengan tunggal kedua Denmark Viktor Axelsen. Semua pemain harus memberikan masukan dan informasi terkait apapun yang menjadi kekuatan dan kelemahan Axelsen.

Hariyanto Arbi ketika mengangkat trofi Piala Thomas 1994. (Dok Hariyanto Arbi)

Hari menceritakan, saat dia melawan tunggal nomor satu Denmark Poul-Erik Hoyer Larsen, semua pemain kompak memberikan masukan. Waktu itu, berdasarkan saran pemain Indonesia lainnya, melawan Hoyer Larsen, Hari tidak boleh melakukan servis dengan cepat.

“Harus dilambatin. Hal-hal kecil juga harus diperhatikan. Misalnya, sering ganti kok. Jalan dulu santai, kok dikasihkan kepada petugas,” cerita Hari. “Jadi ada satu irama untuk saling mengisi. Semua pemain diusahakan memberikan masukan,” tambah juara All England dua kali itu.

Hari mengatakan bahwa perbedaan antara tim Indonesia 2020 dan 1994 cukup mencolok. Pada 1994, tunggal nomor satu sampai empat memiliki kualitas yang hampir setara. Perbedaan kekuatan antara Hari, Joko Suprianto, Adry B. Wiranata, dan Hermawan Susanto sangat tipis.

Jadi, pelatih sangat mudah untuk mengatur strategi dan mengatu rotasi. “Dulu petanya sudah jelas. Siapa yang biasa melawan siapa. Sekarang, kalau mau mengubah (komposisi) agak riskan karena kemampuannya tidak semerata dulu,” ucap Hari.

Hari menceritakan kejadian pada final Piala Thomas 1994. Saat itu, pelatih kepala tunggal putra Indonesia Indra Gunawan memasangnya sebagai tunggal pertama untuk menghadapi andalan Malaysia Rashid Sidek.

Kontroversi merebak. Banyak yang menolak ide tersebut. Salah satunya adalah juara dunia 1983 dan anggota tim juara Piala Thomas 1984 Icuk Sugiarto. Setidaknya ada dua alasan yang mendasari penolakan itu. Pertama, Hari adalah tunggal kedua. Jika Hari dimainkan, maka Indonesia terpaksa tidak memasang tunggal nomor satu mereka Joko Suprianto.

Padahal, Joko bermain baik sepanjang turnamen. Pada semifinal, dia menang dua game melawan tunggal nomor satu Korea Selatan Kim Hak-kyun dengan skor 15-12, 15-5.

Di sisi lain, Hari tampil buruk dan kalah telak menghadapi tunggal kedua Korsel Park Sung-woo (16-17, 1-15). Biasanya, pemain yang mendapatkan hasil jelek di semifinal, tidak dipasang di final. Namun, Hari tetap dimainkan sebagai tunggal pertama.

“Ini adalah pertaruhan dari pelatih dan psikolog (Prof Singgih Gunarsa). Ribut gede waktu itu. Banyak yang tidak setuju dengan pemasangan saya,” kata Hari.

Hari mengakui bahwa dia bermain jelek ketika menghadapi Sung-woo. Dia agak demam panggung karena Piala Thomas 1994 menjadi debutnya di kejuaraan beregu. Usianya juga masih 22 tahun. Belum berpengalaman. Oleh karena itu, dia terbawa aura Istora Senayan yang sangat bising dengan teriakan ribuan penonton.

Hariyanto Arbi saat berlaga di final Piala Thomas 1998. (Frederic J. Brown/ AFP)

Alhasil, Hari tidak tenang dalam bermain. Dia terus melancarkan smes dan selalu mengikuti teriakan penonton. Dampaknya, tenaganya habis. Sung-woo gampang mengantisipasi smes-smes Hari dengan cara menunggu di belakang. Pada game kedua, Sung-woo menghabisi Hari yang sudah dalam kondisi lemas. Hari cuma mendapatkan satu poin!

Walau begitu, saat pelatih menawarkan kepada Hari untuk menjadi tunggal pertama di final melawan Rashid, dia mengaku sangat siap. Sebab, secara head-to-head, Hari lebih banyak menang dan tahu benar kekuatan dan kelemahan legenda Malaysia itu.

“Di luar (negeri) saja saya sering menang, apalagi di Istora. Begitu pikiran saya saat itu,” katanya.

Keyakinan Hari, Indra Gunawan, dan tim Piala Thomas Indonesia membuahkan hasil. Hari menang dua game dengan skor nyaman 15-6, 15-11. Indonesia menjadi juara dengan keunggulan telak 3-0. Itulah gelar Piala Thomas pertama bagi Indonesia dalam sepuluh tahun terakhir.

“Setelah menang, rasanya seperti terbang. Badan ringan sekali. Sebelumnya, seperti ada yang membebani saya. Plong sekali. Saya ingat sekali seperti apa perasaan saya waktu itu. Kalau saya kalah, mungkin Pak Indra sudah dipecat,” kata Hari lantas tertawa.

Hari menambahkan, untuk menjadi juara beregu, mentalitas memang harus dipersiapkan dengan baik. Hal itulah yang juga harus menjadi perhatian tim Piala Thomas 2020.

“Semua pemain memiliki peran. Itu yang harus ditanamkan kepada seluruh pemain. Bahkan, bisa juga dikatakan kepada pemain bahwa kalau dia kalah sekalipun, ada partai lain yang bisa diperjuangkan,” ucapnya.

Comment

News Feed