by

Hands On Nokia 5.3: Mid-Ranger Yang Nanggung

Akhir Juni lalu, HMD Global resmi merilis lini seri barunya, Nokia 5.3. Lini seri yang ditujukan untuk segmen menengah. Setelah tersungkur di persaingan smartphone dunia, Nokia mencoba bangkit lagi. Adalah HMD Global, yang kini mengambil alih brand yang sempat jadi legenda itu.

HMD Global cukup agresif merilis berbagai lini produk. Namun sejauh ini, belum ada yang betu-betul nge-hits di pasaran. Setidaknya di pasar Indonesia. Inovasi yang dilakukan untuk membuat perbedaan, seperti penta kamera pada seri Nokia 9 Pure View, atau fitur Bootie yang tak dijumpai pada produk pesaing, rupanya tak cukup menarik antusiasme pengguna.

Bahkan pun ketika Nokia mencoba menggugah membangkitkan romantisme para penggemar Nokia, dengan menghadirkan seri “nostalgia”. Seperti seri 5310, yang merupakan reinkarnasi dari seri yang terkenal dengan julukan hape sejuta umat itu. Itu juga tak cukup berhasil. Romantisme masa lalu rupanya kalah oleh tren layar sentuh yang butuh layar lebar –bukan layar terbatas plus qwerty pad.

Namun itu semua tak membuat Nokia bersurut langkah. Mereka tetap mencoba merebut simpati pasar. Kali ini coba dilakukan dengan merilis seri Nokia 5.3, sebuah smartphone mid-ranger. Bisakah seri ini mencetak hits di pasar? Mari kita cermati lewat hands-on kali ini:

DESAIN
Hadir dengan tampilan tak jauh berbeda dengan smartphone Android kebanyakan. Tampak biasa, body dan frame plastic dengan permukaan matte (kesat) dan warna plain. Desain seperti ini, terus terang, sudah ketinggalan jaman. Di saat yang lain sudah berinovasi dengan desain yang lebih catchy dan stylish.

Kenapa Nokia kesannya rada malas mengeksplorasi lebih mendalam aspek desain dan tampilan ini. Agar bisa “menemukan” karakter desainnya sendiri. Karakter yang bisa menjadi indetitas Nokia –tanpa perlu menempeli logo Nokia pada back cover. Pada masa lalu Nokia sudah berhasil melakukan itu. Kenapa sekarang tidak?

LAYAR
Dilengkapi layar display tipe IPS 16 juta warna. Bentang layarnya 6.55 inchi. Resolusi layar 720 x 1600 pixels, dengan kecerahan 450 knits (typical). Layar dilapisi pelindung Gorilla Glass 3. Dengan spesifikasi seperti ini juga membuat Nokia ketinggalan selangkah dari para pesaing, yang sudah bisa membekali seri mid-ranger nya dengan layar yang lebih bagus.

Hal lain, bentang layar 6.55 inchi ini tampak tak optimal. Penyebabnya adalah ukuran bezel yang kelihatan tebal. Padahal ukuran body secara keseluruhan, kelihatan rada bongsor. Yang semestinya bisa dioptimalkan untuk memberi bentang layar yang lebih luas lagi. Termasuk, mempertipis bezel.

Tapi performa layar cukup baik. Tingkat kecerahan layar masih bisa diandalkan untuk dipakai di bawah terpaan sinar matahari langsung. Sudut tampilan layar juga masih cukup bagus. Dalam artian, dilihat dari sudut pandang 45 derajat, tampilan layar masih bisa terlihat cukup jelas.

KAMERA

Sudah dilengkapi quad camera. Dengan konfigurasi kamera utama (13 Mpix), didukung kamera ultrawide (5 Mpix), Macro (2 Mpix) dan depth sensir (2 Mpix). Sebenarnya, besaran kamera sudah cukup memadai untuk level menengah. Walaupun beberapa smartphone sekelas sudah dibekali kamera yang lebih besar.

Terlepas dari spesifikasi kamera yang “standar”, kinerja kamera sendiri cukup baik. Terutama berkat bantuan AI (artificial intelligence) yang dimilikinya. Hasil foto cukup terang dan tajam (dalam kondisi outdoor dan cahaya berlimpah). Meski aspek dynamic range terlihat kurang bagus. Karena hanya 13 Mpix, maka resolusi gambar terlihat akan pecah ketika diperbesar.

Foto lowlight kurang bagus. Meskipun ada bantuan cahaya, hanya obyek yang terkena cahaya yang terlihat jelas. Di luar itu, terlihat gelap –cenderung terlalu kontras pada pemotretan lowlight dengan bantuan cahaya. Ini, sekali lagi, karena faktor dynamic range juga. Dibekali kamera selfie 8 Mpix. Untuk pemotretan standar dengan cahaya cukup, hasilnya masih terlihat bagus. Tapi tidak untuk selfie pada kondisi lowlight tanpa bantuan cahaya tambahan.

MULTIMEDIA

Dahulu, Nokia sangat kuat di sektor ini. Lini produk Nokia dikenal bisa berfungsi sebagai pemutar music portable yang tangguh, dengan kualitas audio yang keren. Bahkan untuk lini produk menengahnya. Tapi itu dulu.

Sekarang, Nokia 5.3 sebagai andalan mid-ranger Nokia saat ini, tak mewarisi kedigdayaan sebagai perangkat pemutar music portable seperti dahulu. Kualitas audio yang ditunjukkan seri baru Nokia ini, sungguh, biasa saja. Kurang nyaring dan tak begitu jernih.

PERFORMA

SoC Snapdragon 665 (11 nm) dari Qualcoom memang dirancang untuk menopang smartphone kelas menengah. Di sisi ini, sudah cukup bersaing dengan smartphone sekelas. Nama Qualcomm punya nilai tersendiri. Prosesor delapan inti dengan kecepatan puncak 2 GHz sudah memadai untuk mendukung performa ponsel.

Pun dukungan memori sudah memadai pula. Ada tiga varian konfigurasi memori: 64GB 3GB RAM, 64GB 4GB RAM, 64GB 6GB RAM. Didukung memori eksternal MicroSDXC dan eMMC 5.1.

BATERAI

Untuk smartphone kelas menengah, dukungan baterai 4000 mAh sebenarnya sudah cukup memadai. Terutama untuk pengoperasian standar, fungsi-fungsi sedang. Tetapi dengan pemakaian yang intens, tentu saja kapasitas baterai terasa kurang. Apalagi, dukungan fast charging hanya 10 Watt. Ini, lagi-lagi, membuat Nokia 5.3 agak ketinggalan dibanding competitor, yang beberapa punya baterai lebih besar dan fast charging lebih cepat.

VALUE for MONEY

Ketika rilis, Nokia 5.3 dibanderol dengan harga Rp2.999 juta –Rp3 juta kurang seribu rupiah. Menurut kami, ini harga yang over shoot, alias kemahalan, untuk sebuah smartphone dengan spesifikasi dan tampilan seperti ini. Di saat beberapa pesaing, mampu menghadirkan smartphone menengah, dengan spesifikasi lebih tinggi dan lengkap, namun harganya jauh di bawah itu –di bawah Rp2.5 juta.

Karena itu, Kami memperkirakan berat bagi Nokia 5.3 ini untuk bisa nge-hits di pasar. Jelas pilihan yang kurang menarik bila dibandingkan dengan, katakanlah, Redmi Note 9, yang varian tertinggi (6 GB/128 GB ROM) serta quad kamera 48 Mpix, hanya Rp2.4 juta.

Nokia sepertinya harus banyak-banyak melihat “dunia luar” sebelum merilis lini seri baru. Agar kesannya tak ketinggalan jaman. Seperti keasyikan berdiam dalam tempurung, merancang produk, lalu keluar dan bersorak sendiri sudah berhasil membuat produk hebat. Padahal, ternyata orang lain sudah melangkah lebih jauh. Mana bisa mengembalikan kejayaan Nokia kalau begitu.

The post Hands On Nokia 5.3: Mid-Ranger Yang Nanggung appeared first on KalbarOnline.com.

Comment

News Feed