by

OpenSignal : 85% Pengguna Internet Tanah Air Aktif Bermain Mobile Game

Indonesia merupakan pasar mobile game terbesar di Asia Tenggara baik dalam hal pemain mau pun pendapatan. Kendala biaya rendah mobile game dan kenyamanan saat bepergian, yang didorong dengan meningkatnya keterjangkauan untuk mendapatkan smartphone serta hadirnya jaringan seluler di mana-mana,telah menjadikannya sebagai platform game yang dominan di negara ini. Dan dengan meningkatnya popularitas Esports di kalangan anak muda, masyarakat Indonesia memainkan mobile game multiplayer secara online lebih banyak dari sebelumnya. Meski demikian, seberapa baik atau burukkah pengalaman bermain game pada jaringan seluler kota-kota di Indonesia?

Dalam analisis ini, kami memadukan performa semua operator nasional di berbagai teknologi jaringan berbeda di 44 kota terbesar di Indonesia untuk melihat perbandingannya dalam pengukuran Pengalaman Bermain Game kami yang unik. Dasar temuan kami menggunakan skor gabungan (pada skala poin 100 poin). Analisis kami melihat pengalaman bermain game real-world yang dirasakan oleh pengguna pada sejumlah genre mobile game real-time multiplayer terpopuler seperti Battle Royale dan game MOBA seperti Call of Duty, PUBG, Arena of Valor dan Braw Stars.

Posisi teratas dalam daftar kami untuk Pengalaman Bermain Game adalah Palangkaya Raya, Kalimantan Tengah (71,9), Pekanbaru, Riau (71,1) dan Banda Aceh (70,1) — ketiganya ditempatkan dalam kategori peringkat Lumayan. Ini berarti bahwa pengguna di ketiga kota ini merasakan pengalaman “sedang”, di mana mayoritas pemain mengalami delay antara tindakan mereka dan hasilnya dalam game.

Ini juga terjadi pada pengguna kami di 18 kota lainnya, yang mencakup beberapa pusat kota yang berpenduduk padat. Sementara di Tangerang Selatan, Banten (67,9) dan Medan, Sumatra Utara (67,8) berada di antara 10 besar, Kota Bekasi, Jawa Barat (66,4) menempati posisi ke-16, diikuti oleh ibu kota Indonesia, Jakarta (65,6). Dan di posisi terbawah pada daftar kami dalam kategori Lumayan adalah (1) Depok, Jawa Barat, (2) Palembang, Sumatra Selatan, (3) Kota Tangeran, Banten dengan skor sedikit di atas 65 poin. Patut dicatat bahwa Kota Yogyakarta adalah satu-satunya kota di Jawa yang masuk dalam lima besar.

Di sisi lain, dengan skor antara 40-65, pengguna di sisa 23 kota lainnya mengalami Pengalaman Bermain Game yang Buruk, artinya bagi banyak pengguna di kota tersebut, bermain mobile game multiplayer melalui jaringan seluler terasa sangat berat – tingkat pengalamannya sangat tidak dapat diterima dan diwarnai dengan delay parah serta kurangnya kontrol dalam permainan game. Posisi teratas dalam daftar kami untuk kategori peringkat Buruk adalah Jambi (64,9), sementara kota-kota besar seperti Kota Bandung, Jawa Barat (62,9) dan Surabaya, Jawa Timur (58,8) masing-masing berada di bawah slot 29 dan 39. Terakhir, di bagian bawah grafik kami adalah Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (53,1).

Ini menunjukkan bahwa pengalaman bermain game di Indonesia masih memiliki ruang yang cukup untuk perbaikan, dan bagi mayoritas pengguna, bermain game multiplayer dengan jaringan seluler kadang terasa sangat berat. Akan tetapi, faktor apa saja yang akan berkontribusi terhadap perbaikan ini?

Ada beberapa karakteristik jaringan teknis yang secara bersama-sama memengaruhi Pengalaman Bermain Game, di mana tiga faktor utamanya adalah:

  • UDP Latency, yakni Delay paket UDP (User Datagram Protocol), yang menggambarkan daya tanggap koneksi jaringan, untuk aplikasi yang sensitif waktu, khususnya mobile game.
  • Hilangnya paket, yakni bagian dari paket data yang tak pernah sampai ke tujuan. Dalam game, ini berarti tindakan pemain mungkin tidak pernah terjadi, atau bahwa status game tidak disampaikan kembali ke pemain. Ini menghalangi kemampuan pemain untuk menikmati game, dan membuat mereka sulit untuk menang.
  • Jitter, yakni variabilitas waktu sampainya paket data. Semua paket data memerlukan waktu untuk ditransmisikan antar lokasi — misalnya antara pemain dan server game — akan tetapi, seringkali jumlah delay bervariasi antar paket. Level jitter yang lebih tinggi seringkali merupakan pertanda kemacetan jaringan yang disebabkan oleh router yang berupaya meneruskan paket data.

Seringkali ada hubungan tidak langsung antara ketiga input ini dan pengaruhnya terhadap pengalaman pemain. Akan tetapi, makin rendah level ketiga faktor ini, pengalaman bermain game akan menjadi lebih baik.

Di Indonesia, 85% pengguna internet aktif bermain mobile game, dan dengan makin populernya persaingan Event Esports, Pengalaman Bermain Game semakin penting bagi konsumen di Indonesia. Karena itu, operator mana pun yang menyediakan Pengalaman Bermain Game yang lebih baik pasti akan mendapatkan keuntungan.

The post OpenSignal : 85% Pengguna Internet Tanah Air Aktif Bermain Mobile Game appeared first on KalbarOnline.com.

Comment

News Feed