by

New Normal Bangkitkan Ekonomi, Waspadai Penyebaran Bikin Repot

KalbarOnline.com, MAKASSAR –Pergerakan ekonomi pasca-PSBB dan Lebaran mulai bangkit. Tetapi, ada konsekuensi yang mesti diwaspadai.

Sejumlah warung, toko, retail, dan tempat belanja mulai buka setelah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) berakhir. Aktivitas terlihat mulai seperti biasa, meski dengan cara yang berbeda. New normal.

Terminologi ini merujuk pada sebuah kondisi yang menggambarkan aktivitas berjalan lancar, namun dengan perubahan pola. Ada jarak, identik dengan masker dan hand sanitizer, serta cuci tangan menjadi tradisi massal baru.

Ekonomi diyakini akan kembali berputar, meski sulit mengharapkannya selaju saat tak ada pandemi. Sejumlah sektor akan mulai menggeliat, namun secara bersamaan ada risiko penyebaran korona yang harus diwaspadai.

Direktur Bank Indonesai (BI) Sulsel Endang Kurnia Saputra menilai pelonggaran ini memang betpotensi menghidupkan kembali dunia usaha. Ekonomi akan kembali bergerak dan komsumsi kembali meningkat.

“Kita lihat aja sekarang. Begitu dibuka orang ramai-ramai belanja,” katanya, kemarin. Hanya saja, pelonggaran itu jangan sampai justru memperparah kondisi. Masyarakat yang positif korona makin banyak.

Apalagi, dalam kondisi sekarang masih banyak yang acuh terhadap ptotokol kesehatan. Seperti keluar dengan sengaja tidak memakai masker. Jadi, pelonggaran ini bisa saja sukses dengan catatan semua pengusaha menjalankan protokol kesehatan. “Bisa dengan cara mencegah sekecil mungkin,” katanya.

Protokol Ketat

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Makassar Muammar Mubayang mengatakan meski ada pelonggaran, pegusaha sangat berharap pemerintah tetap memerhatikan protokol kesehatan. Bagaimana pun harus berjaga-jaga jangan sampai ada gelombang kedua dan makin memperparah ekonomi.

Dengan pelonggaran ini, pengusaha berharap tercipta kultur baru untuk sama-sama menjaga korona. Setelah tiga bulan, pemulihan ekonomi memang sudah harus disusun dengan baik dengan menjaga protokol kesehatan.

“Karena jika ekonomi tidak berputar juga menimbulkan masalah bagi dunia usaha dan industri,” katanya.

Di sektor properti, pelonggaran ini sangat membantu. Sebab, pengembang menilai, memasarkan properti secara daring sangat tidak optimal. Artinya, harus langsung karena sifatnya kebutuhan primer.

“Tidak boleh asal-asalan. Jadi calon pembeli wajib lihat langsung lokasi dan rumah,” kata Ketua Real Estate Indonesia (REI) Sulsel, M Sadiq.

Pelonggaran ini cukup membangkitkan secara berlahan. Namun, protokol tetap harus diperhatikan. Untuk menciptakan kondisi normal seperti sedia kala, diyakini sudah sulit. Termasuk untuk ekspansi sebab terbatasnya bisnis yang dilonggarkan. (*)

REPORTER: A SYAEFUL-MUHLIS MAJID-TAUFIK H
EDITOR: AMRULLAH B GANI-RIDWAN MARZUKI

Comment

News Feed