by

Orang Obesitas Lebih Berisiko Menjadi Parah Saat Tertular Coronavirus

Data menunjukkan, hampir dua pertiga pasien coronavirus yang mengalami gejala berat atau parah ternyata kelebihan berat badan. Setidaknya itu yang terjadi di Inggris.

Data di rumah sakit di Inggris yang dikeluarkan National Heealth Service (NHS), menemukan 63 persen pasien yang menjalani perawatan intensif di rumah sakit setelah tertular virus corona mengalami kelebihan berat badan, obesitas, atau obesitas yang tidak wajar. Hampir 40% berusia di bawah 60 tahun alias masih muda.

Baca juga: Hilang Penciuman dan Pengecap Jadi Tanda Infeksi Coronavirus?

Hubungan Obesitas dengan Coronavirus

Mengapa obesitas menjadi faktor risiko keparahan coronavirus? Sebelum ada wabah coronavirus atau Covid-19, beberapa penelitian sahih memang menyatakan bahwa orang dengen kelebihan berat badan atau kegemukan lebih mungkin menderita komplikasi serius atau meninggal karena infeksi, seperti flu.

Para ahli mengatakan, sistem kekebalan tubuh orang gemuk umumnya harus bekerja lebih keras ketika mereka mencoba melindungi dan memperbaiki kerusakan yang disebabkan oleh peradangan sel.

Karena sel-sel imun menggunakan semua energinya untuk menangkal peradangan, berarti sistem pertahanan tubuhnya akan tidak mampu bertahan untuk melawan infeksi baru seperti COVID-19. Sistem kekebalan orang obesitas yang cenderung lebih lemah memungkinkan COVID-19 menyebar lebih cepat ke paru-paru dan menyebabkan pneumonia.

Alasan lainnya, kelebihan berat badan membuat otot di dada lebih sulit menarik napas dalam. Akibatnya paru-paru sulit mengembang dan menghirup oksigen. Kekurangan oksigen, akan membuat sebagian organ tubuh rusak dan bahkan gagal berfungsi.

Orang yang gemuk cenderung makan makanan dengan sangat sedikit serat (buah dan sayuran) yang kaya antioksidan. Antioksidan penting untuk menjaga sistem kekebalan tubuh tetap sehat.

Semua faktor ini dapat menjelaskan mengapa sampai dua pertiga pasien coronavirus yang obesitas akhirnya dirawat di ICU di Inggris. Paru-paru orang gemuk cenderung memburuk lebih cepat ketika Covid-19 menyerang, dibandingkan dengan orang yang sehat yang tidak mengalami kegemukan.

Baca juga: Inilah Herbal Pendongkrak Imun Tubuh

Hati-hati Jika Kamu Obesitas Meskipun Usia Muda

Data di Inggris tidak hanya menyoroti pasien coronavirus dengan kelebihan berat badan. Rata-rata orang yang menderita gejala coronavirus paling serius dan obesitas ternyata berusia di bawah 60 tahun. Jumlahnya mencapai 64,37 persen. Ini menunjukkan bahwa pasien kritis coronavirus tidak hanya didominasi pasien lanjut usia.

Laporan tersebut juga menemukan bahwa sebagian besar pasien coronavirus dalam perawatan intensif adalah laki-laki (71 persen) dan hanya 18 pasien (9 persen) memiliki penyakit penyerta lain seperti kondisi jantung atau penyakit paru-paru. Hanya ada dua pasien dalam kondisi hamil dalam enam minggu terakhir.

Data ini menunjukkan bahwa coronavirus tidak hanya mengancam pasien usia tua, namun juga usia muda bahkan yang tidak memiliki pennyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, penyakit janting, maupun penyakit paru lainnya. Selama sistem kekebalan tubuh rendah, maka Kamu berisiko apalagi jika mengalami obesitas.

Salah satu upaya paling penting jika Kamu obesitas adalah melakukan physical distancing lebih serius. Berada di rumah menjadi kesempatan bagi Kamu menjaga pola makan dan mengurangi jajan makanan tidak sehat. Lakukan pengelolaan berat badan dengan berolahraga di rumah.

Baca juga: Inilah Target Utama Coronavirus: Pria, Usia Tua, dan Perokok

Referensi:

Headtopics.com. Being Obese raises coronavirus risk.

Dailymail.co.uk. Patients High BMI likely to die.

Comment

News Feed