by

Jangan Sembarangan Menggunakan Klorokuin, Efek Sampingnya Bisa Membahayakan!

Pandemi COVID-19 yang terjadi di berbagai belahan dunia tentu menimbulkan kecemasan tersendiri, tak terkecuali di Indonesia. Hal ini lumrah terjadi, mengingat bisa dibilang hingga saat ini penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus ini masih belum ada obatnya.

Uji klinis untuk kandidat-kandidat obat memang masih terus berjalan, namun belum ada sebuah konsensus yang menyatakan suatu senyawa obat atau kombinasi obat yang memang secara khusus diindikasikan untuk COVID-19.

Beberapa waktu belakangan, media sosial diramaikan oleh berita mengenai obat klorokuin. Disinyalir, obat ini mampu mencegah infeksi COVID-19. Hal ini sontak membuat orang-orang ramai menyerbu apotek baik secara langsung maupun secara online untuk membeli klorokuin ini, dan bahkan mengonsumsinya tanpa instruksi dari dokter!

Berangkat dari hal tersebut, berikut ini adalah beberapa poin yang perlu diluruskan mengenai penggunaan klorokuin pada COVID-19. Yuk disimak!

Baca juga: Penularan Semakin Meningkat, Penemuan Vaksin Coronavirus Dipercepat

Apa itu Klorokuin?

Klorokuin awalnya adalah obat yang digunakan untuk mengatasi penyakit malaria sebagai antiplasmodium. Namun, dengan makin berkurangnya penyakit malaria dan munculnya resistensi plasmodium terhadap klorokuin, maka klorokuin tidak terlalu banyak lagi digunakan sebagai obat antimalaria.

Namun saat wabah coronavirus muncul pertama kali di Wuhan, obat ini juga disebut sebagai kandidat potensial untuk SARS-CoV-2 atau sekarang dikenal dengan Cobid-19. Dalam makalah tiga halaman yang diterbitkan di Cell Research dan Nature, para ilmuwan di Laboratorium Virologi Wuhan Institute of Virology menulis, chloroquine dan antivirus remdesivir, secara individual, “sangat efektif” menghambat replikasi coronavirus dalam kultur sel.

Efek Samping Menggunakan Klorokuin Tanpa Indikasi Dokter

Orang beramai-ramai memborong karena berasumsi bahwa klorokuin efektif membasmi Covis-19. Namun minum klorokuin tanpa indikasi dari dokter tentu berbahaya. Inilah beberapa hal tentang klorokuin yang harus dipahami:

1. Klorokuin bukan digunakan untuk pencegahan COVID-19

Klorokuin memang dapat digunakan sebagai salah satu opsi terapi pada pasien yang terkonfirmasi positif COVID-19. Namun, obat ini hingga kini tidak terbukti dapat digunakan untuk mencegah infeksi COVID-19, alias pada orang yang belum tegak diagnosisnya.

Saya katakan sebagai salah satu opsi, karena kembali lagi hingga saat tulisan ini ditulis, belum ada suatu obat atau kombinasi obat yang ditetapkan sebagai obat untuk COVID-19.

Berita tentang penggunaan klorokuin pada COVID-19 dimulai dari diterbitkannya sebuah letter dari peneliti di Qingdao, China, di jurnal Bioscience Trends pada Februari 2020 yang menyatakan bahwa klorokuin sulfat dapat digunakan dalam penanganan COVID-19 karena telah terbukti aman dan efektif dalam uji klinis multicentre yang diadakan di China. Namun hingga saat ini belum ada detail dari penelitian yang dilakukan tersebut.

Klorokuin makin mencuat namanya kala Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut klorokuin dan senyawa turunannya, hidroksiklorokuin (HCQ), sebagai ‘game changer’ sehubungan dengan pandemi COVID-19.

Baca juga: Berapa Lama Coronavirus Bisa Bertahan di Permukaan?

2. Klorokuin bukan obat bebas ataupun suplemen

Para peneliti hingga saat ini masih berjuang untuk melakukan uji klinis untuk membuktikan keamanan dan efektivitas klorokuin dalam menangani COVID-19. Kalaupun nantinya klorokuin ini dapat digunakan dalam penanganan ataupun bahkan pencegahan COVID-19, satu hal yang pasti: penggunaannya harus sesuai dengan instruksi dokter dan dalam supervisi medis.

Di Indonesia, klorokuin dan senyawa turunannya yaitu hidroksiklorokuin (HCQ) terdaftar sebagai obat keras sehingga perolehan dan penggunaannya harus dengan resep dokter. Klorokuin bukanlah obat baru, ia sudah ada sejak hampir 70 tahun lalu. Klorokuin digunakan dalam terapi dan pencegahan malaria, namun di Indonesia sendiri parasit penyebab malaria yakni Plasmodium sudah resisten terhadap klorokuin, sehingga obat ini bukan merupakan lini terapi pertama untuk malaria.

3. Efek samping klorokuin antara lain gangguan jantung, anemia, dan kejang

Mengapa klorokuin tidak boleh digunakan sembarangan? Hal ini terkait dengan profil keamanan dari klorokuin. Klorokuin dapat menyebabkan efek samping yang cukup serius terutama di jantung, antara lain terjadinya gagal jantung, kardiomiopati, prolonged QT interval, dan ventricular tachycardia. Hal-hal ini dapat menyebabkan terjadinya cardiac arrest alias henti jantung. Klorokuin juga dapat menyebabkan anemia hemolitik, serta kejang.

Terkait dengan kepanikan pandemi COVID-19 ini, pada 21 Maret 2020 yang lalu dilaporkan ada dua orang pasien di Nigeria yang masuk rumah sakit akibat efek samping penggunaan klorokuin secara mandiri alias tanpa resep dokter. Bahkan satu orang pria di Arizona, Amerika Serikat, dilaporkan meninggal karena henti jantung (cardiac arrest) seusai mengonsumsi klorokuin sebagai bentuk pencegahan tertular COVID-19.

Senyawa turunan klorokuin yaitu hidroksiklorokuin (HCQ) diduga memiliki profil keamanan yang lebih baik. Sehingga saat ini penelitian-penelitian yang sedang dilakukan kebanyakan berfokus pada penggunaan HCQ ini pada kasus-kasus COVID-19, baik itu sebagai profilaksis (pencegahan) ataupun terapi.

Baca juga: Apa itu Rapid Test COVID-19? Ini yang Perlu Kamu Tahu!

Gengs, itu dia hal-hal yang perlu diperhatikan dari berita mengenai penggunaan klorokuin pada kasus COVID-19. Obat ini adalah obat yang memiliki profil keamanan yang perlu diwaspadai sehingga penggunaannya tidak boleh dilakukan secara mandiri tanpa supervisi dari dokter sehubungan dengan efek sampingnya yang dapat menyebabkan henti jantung, anemia, dan kejang. Oleh karena itu, tidak ada faedahnya sama sekali berlomba-lomba mencari obat ini dan kemudian meminumnya secara mandiri sebagai bentuk pencegahan COVID-19.

Saat ini uji-uji klinis untuk melihat keamanan dan manfaat klorokuin dan senyawa turunannya yaitu hidroksiklorokuin sedang gencar dilakukan di berbagai belahan dunia. Kita berharap semoga uji-uji klinis tersebut memberikan hasil yang baik agar pandemi COVID-19 ini lekas usai dan teratasi dengan baik.

Tetap lakukan tindakan-tindakan untuk mencegah penularan dari virus ini ya Gengs dengan rajin mencuci tangan, melakukan social distancing, serta melakukan gaya hidup sehat melalui diet seimbang dan olahraga. Semoga kita semua selalu sehat dan terlindungi!

Baca juga: Bisakah Vaksin Influenza Mencegah Coronavirus? Ini Menurut Ahli!

Referensi:

Chloroquine on Micromedex Drug Information (2020)

Gao, J., Tian, Z. and Yang, X., 2020. Breakthrough: Chloroquine phosphate has shown apparent efficacy in treatment of COVID-19 associated pneumonia in clinical studies. BioScience Trends, 14(1), pp.72-73.

Information for Clinicians on Therapeutic Options for COVID-19 Patients, 2020. Centers for Disease Control and Prevention (CDC)

nytimes.com. 2020. Man Fatally Poisons Himself While Self-Medicating For Coronavirus, Doctor Says.

Comment

News Feed