Proses Pembuatan Gula Aren di Desa Semabi Masih Tradisional

Pengrajin gula aren, Julheder saat melakukan proses pemanasan air aren
Pengrajin gula aren, Julheder saat melakukan proses pemanasan air aren (Foto: Mus)

KalbarOnline, Sekadau – Bagi Anda yang akan berwisata ke Kalimantan Barat khususnya Kabupaten Sekadau bersama teman atau keluarga, tak ada salahnya jika mengunjungi Desa Semabi yang merupakan desa penghasil gula aren. Pasalnya, proses pembuatan gula aren di Sekadau ini cukup unik lantaran masih kental akan adat tradisional bahkan masih terdapat unsur mistis yang masih dipercayai oleh warga setempat khususnya para pengrajin gula aren.

Salah seorang pengrajin gula aren, Julheder berkenan menerima kedatangan jurnalis KalbarOnline yang ingin melihat langsung proses produksi gula aren tersebut.

Proses Pembuatan Gula Aren di Desa Semabi Masih Tradisional 1
Gula aren setelah melalui beberapa proses pembuatan (Foto: Mus)

Seperti diketahui bahwa gula aren merupakan salah satu produk hasil perkebunan, diolah menjadi pemanis alami yang dihasilkan oleh pemekatan nira aren (enau) yang secara tradisional melalui pemanasan atau dimasak. Proses pemasakannya sendiri biasanya berlangsung beberapa jam, hal ini dimaksudkan untuk mengurangi kadar air yang terkandung di dalamnya. Setelah dimasak atau dipanaskan, kemudian dimasukan ke dalam cetakan hingga menjadi dingin dan mengeras sehingga jadilah gula aren yang manis.

Berbeda dari produksi gula aren pada umumnya, Julheder mengatakan proses pembuatan gula aren atau yang dikenal dengan sebutan gula botong di desanya itu masih terbilang tradisional.

“Pertama-tama, sebelum mengambil air dari pohon aren (enau) selama 14 hari atau lebih dalam sebulan dilakukan proses pemukulan dengan irama tertentu. Setelah dipukul, kemudian lengan-lengan pohon aren diayun hingga lentur. Proses ini dilakukan dengan tata cara adat petani aren, yang tidak sembarang dilakukan,” ujarnya.

Setelah itu, lanjut dia, bunga atau mayangnya dipotong. Dilanjutkan dengan mengelap air yang keluar dari batang sebanyak tiga kali. Hal itu dilakukan untuk melihat apakah air pohon enau atau aren itu banyak atau tidak.

“Setelah dipotong lengannya, didiamkan minimal selama dua hari dan setelah itu diperiksa sebanyak apa sagunya. Dalam proses pengambilan air, petani aren akan menyanyikan sebuah lagu, yang disebut ‘bepomang’,” tukasnya.

Kemudian jelasnya lagi, proses pemasangan tangga untuk naik ke atas pohon dilakukan saat mulai mengayun.

Pria yang sudah 20 tahun memproduksi gula aren itu turut menjelaskan, wadah untuk mengambil air aren menggunakan bambu. Namun, kata dia, juga bisa menggunakan jerigen.

Selain beberapa rangkaian proses tersebut, ia juga mengungkapkan bahwa ada beberapa pantangan yang tidak boleh dilanggar oleh petani aren.

“Ada pantangan juga bagi orang yang mengambil air enau atau aren tersebut yakni tidak boleh berbicara kotor (cabul) dan perempuan yang sedang menstruasi juga tidak boleh ikut serta dalam proses pengolahan air aren ini,” tegasnya.

“Seorang petani aren juga tidak boleh pelit ketika orang lain meminta hasil sadapannya airnya. Jika pantangan ini dilanggar maka, air enau akan cepat mengering,” timpalnya.

Usai mengambil air aren, dilakukan penyaringan, proses penyaringan ini ada dua jenis. Pertama, jika sagunya sedikit maka cukup menggunakan ijuk (lapisan pohon aren). Kedua, jika sagunya banyak maka menggunakan kain.

“Proses pemasakan pun dilakukan dalam wadah yang besar dengan menggunakan tungku tanah dan kayu bakar. Selama proses pemasakan adonan gula aren terus diaduk selama 3-3,5 jam. Sedangkan untuk membantu proses pengerasan gula menggunakan campuran getah kapuk. Setelah dicetak, gula biasanya hanya membutuhkan waktu 30 menit untuk mengeras,” tukasnya lagi.

Harap Perhatian Pemerintah

Setelah menjelaskan secara singkat mengenai proses pembuatan gula aren, Jul juga berkesempatan untuk berbincang-bincang dengan jurnalis KalbarOnline Sekadau.

Di sela-sela perbincangan itu, Jul menyampaikan harapannya sekaligus harapan para pengrajin gula aren lainnya agar pemerintah membantu mereka untuk menampung sekaligus memasarkan hasil produksi mereka.

Sebab, tutur dia, permasalahan yang selalu dihadapi mereka sejak dulu yakni sulitnya menjual hasil produksi. Dirinya mengaku bahwa para pengrajin gula aren atau gula botong ini tak jarang mengalami kerugian lantaran gula aren yang mereka produksi tidak dapat dipasarkan alias tidak terjual.

“Karena persediaan gula aren hasil produksi sebelumnya masih banyak di tempat para penampung. Sehingga terpaksa gula aren yang baru diproduksi, disimpan di rumah. Tak jarang pula, gula aren yang diproduksi itu akhirnya rusak,” tuturnya.

Ia juga mengharapkan perhatian pemerintah untuk dapat memenuhi keperluan alat dalam proses pembuatan gula aren. Meski menelan pil pahit, Jul mengaku tetap akan menjadi pengrajin gula aren. Sebab, kata Jul, tak sembarang orang dapat memproduksi gula aren atau gula botong itu.

“Ya kita harap pemerintah membantu kami untuk penjualan gula aren ini. Karena jarak dari desa ke seberang juga cukup jauh. Dan biasanya hasil produksi kami hanya bisa dijual di pasar. Kami juga berharap agar gula aren ini juga bisa dijual di toko-toko besar atau bahkan bisa dijual keluar kota. Sehingga dalam memproduksi gula aren, kami tidak dibayangi ketakutan jika nantinya hasil produksi tersebut tidak terjual dan tentunya akan berdampak pada ekonomi para pengrajin gula aren,” tandasnya. (Mus)

Tinggalkan Komentar