Bahaya Karhutla, Pemkab Canangkan Petani Buka Lahan Tanpa Membakar

Bupati Kubu Raya, Muda Mahendrawan memberikan sambutannya pada pencanangan buka lahan tanpa membakar
Bupati Kubu Raya, Muda Mahendrawan memberikan sambutannya pada pencanangan buka lahan tanpa membakar (Foto: ian)

KalbarOnline, Kubu Raya – Upaya antisipasi bencana tahunan kebakaran hutan dan lahan mulai menemukan titik terang.

Para petani di sekitar Bandara Supadio, Rasau Jaya Umum, Rasau Jaya 1-3, Bintang Mas, Pematang Tujuh, Limbung, Parit Baru, Arang Limbung, Madusari, Sungai Bulan, Sungai Asam, Punggur Besar, Punggur Kecil dan Asosiasi Petani Plasma Kelapa Sawit melakukan pencanangan bersama sebagai bentuk komitmen bersama untuk membuka lahan tanpa membakar.

Pencanangan disaksikan langsung Forkopimda Kubu Raya dan Kota Pontianak, Kapolresta Pontianak Kota dan Dandim 1207/BS yang berlangsung di Aula Kantor Bupati Kubu Raya, Sabtu (30/3/2019).

Pada kesempatan itu tim dari Dinas Pertanian Provinsi Kalimantan Barat juga melakukan sosialisasi teknologi olah tanam pertanian untuk mencegah karhutla.

“Lahan gambut di Kubu Raya ini memang mencapai 70 persen dari total luas wilayah Kubu Raya. Dan karhutla hebat di tahun 2015 dulu salah satu hotspot yang banyak memang di Kubu Raya,” kata Bupati Kubu Raya, Muda Mahendrawan di sela kegiatan.

Muda mengatakan karhutla menimbulkan dampak yang besar bagi kehidupan masyarakat. Asap akibat karhutla, ujarnya, bahkan tidak saja mengancam kesehatan namun dapat menghambat lalu lintas transportasi termasuk penerbangan. Karena itu, pertemuan jajaran Forkopimda Kabupaten Kubu Raya dan Kota Pontianak bersama Polresta Pontianak Kota dan Kodim 1207/BS dengan masyarakat petani disebutnya sebagai bagian dari upaya pencegahan bencana akibat karhutla.

“Ini forum untuk mendapatkan solusi. Masalahnya kan memang berputar-putar di situ, kabakaran lahan. Jadi tidak bisa tidak memang harus ada inisiatif dan inovasi yang harus kita lakukan dengan cara sinergis,” tukas Muda.

Menyikapi karhutla yang terjadi karena pembukaan lahan dengan cara membakar, Muda secara spesifik menyebut pemerintah daerah akan mengupayakan langkah cepat untuk memfasilitasi petani memperoleh dan menerapkan teknologi trichoderma. Dengan teknik tersebut, maka para petani dapat membuka lahan dengan tidak harus membakar.

“Nah, kita harus cari metode yang bisa langsung dilakukan. Penyuluh-penyuluh kita bersama penyuluh masyarakat yang sudah paham segera kita ajak untuk ke masyarakat yang memang masih membakar lahan. Para petani dapat dilatih atau diajak langsung learning by doing,” imbuhnya.

Terkait hal itu, Muda meminta masyarakat petani untuk segera mendaftarkan diri ke dinas terkait. Sehingga memudahkan pemerintah daerah dan pihak terkait lainnya melakukan pelatihan metode pembelajaran langsung di lapangan. Ia menjelaskan di sejumlah daerah para petani terbukti berhasil membuka lahan tanpa membakar.

“Kita minta disampaikan kepada para petani. Nanti harus diedarkan lewat semua desa,” pintanya.

Mendukung hal tersebut, Muda menyatakan pihaknya juga akan melakukan pemberdayaan para petani. Diantaranya mengusahakan pasar. Sehingga selain beras lokal Kubu Raya, komoditas lainnya seperti jagung juga mendapatkan pasar yang siap.

“Mudah-mudahan bisa dilakukan sama seperti beras lokal Kubu Raya. Agar ini bisa menjadi rangsangan bagi petani jagung, misalnya. Dapat terjamin pasarnya oleh pemerintah kabupaten. Insya Allah kita buat metode yang lebih inovatif untuk membuat semangat petani tidak kendor. Tetap menanam tapi tidak perlu membakar lahan,” tuturnya.

Upaya mengantisipasi karhutla, lanjut Muda, juga dilakukan dengan pembangunan sumurbor-sumurbor di titik-titik lokasi endemik kebakaran lahan. Hal itu karena karhutla di lahan gambut kerap terjadi dari bawah tanah. Karena itu sumurbor harus dibuat. Menyukseskan hal itu, Muda mengajak masyarakat untuk berpartisipasi gotong royong membuat bak penampungnya.

“Dibuat misalnya ukuran 3 x 6 sehingga nanti langsung dilepas saja beberapa jam. Pembasahan dilakukan di titik-titik yang memang sudah endemik dan rawan terbakar. Intinya disepanjang tepian yang rutin terbakar. Setiap hari dibasahkan sampai meresap ke bawah,” jelasnya.

Muda juga meminta pengawasan dilakukan di daerah lahan plasma. Agar mencegah terjadinya kebakaran akibat percikan api di area plasma perusahaan. Ia meyakinkan masalah karhutla bisa diatasi sepanjang ada komitmen bersama.

“Jadi bersama-sama menjaga anak-cucu kita juga supaya tidak sakit. Kalau sudah sakit, jangankan yang tidak mampu, orang kaya pun bisa jadi miskin. Derajat kesehatan harus kita jaga,” pesannya.

Muda menyebut sinergi dengan Kota Pontianak mutlak dilakukan mengingat kedua daerah sama-sama terdampak karhutla. Kubu Raya, menurut dia, adalah bagian dari metro area bersama Kota Pontianak. Karena itu sikap ego sentries harus dihindari.

“Kita tidak bicara lagi urusan masing-masing. Harus lihat dalam konteks sama-sama ada sirkulasi orang, barang, dan jasa di mana semua kepentingan pelayanan harus sama. Karena ini satu area yang kita sama-sama bisa saling memperkuat dan menunjang diberbagai bidang. Harus sudah sama-sama punya pemahaman bahwa ini untuk melindungi kepentingan bersama,” pungkasnya. (ian/rio)

Tinggalkan Komentar